logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 20 Juli 2002 Ragam  
Line

Tasawuf Interaktif

Tidur ke Arah Kiblat

T: Yth Bapak Prof Amin Syukur. Saya ingin menanyakan dua hal:

1. Apakah tidur dengan posisi kaki berselonjor menghadap kiblat itu merupakan suatu larangan menurut Alquran dan sunah?

2. Apakah wanita yang sedang berhalangan (haid) boleh membaca buku-buku tentang agama Islam?

Utomo, Boyolali

J: Saudara Utomo di Boyolali, terima kasih atas pertanyaannya. Dalam Islam terdapat dua sumber pokok ajaran, yaitu Alquran dan hadis. Antara kedua sumber ini saling terkait dan mempunyai hubungan yang tak terpisahkan. Hal ini karena hadis berfungsi sebagai penjelas terhadap Alquran yang mempunyai makna global (umum), maka hadislah yang memberikan rincian terhadap petunjuk-petunjuk Alquran yang bersifat demikian tadi.

Petunjuk (ajaran) Alquran secara garis besar berkaitan dengan bidang akidah, ibadah, dan muamalah. Terhadap ketiga bidang ini, Alquran hanya memberikan dasar-dasar atau ketentuan pokoknya saja. Misalnya tentang iman. Alquran tidak menjelaskan tentang rukun-rukunnya, tetapi penjelasan tentang rukun tersebut terdapat dalam hadis.

Begitu juga, misalnya, tentang perintah salat. Alquran tidak menjelaskan tentang cara-caranya, jumlah rakaatnya, berapa kali dalam sehari, dan sebagainya. Penjelasan terhadap semua itu harus dicari dalam hadis/sunah. Karena sifatnya yang demikian, maka tidaklah semua permasalahan bisa ditemukan penjelasannya dalam Alquran. Meskipun dalam Alquran sendiri terdapat penegasan tidak ada sesuatu pun yang dialpakan di dalam Alquran. (QS Alan'am/6:38).

Berkaitan dengan masalah tata cara atau aturan tidur, misalnya jam berapa sebaiknya kita tidur/bangun, cara meletakkan kepala, tangan, kaki dan lain sebagainya. Alquran tidak membicarakannya. Dengan demikian untuk mendapatkan penjelasan tentang masalah ini kita bisa melihat pada hadis/sunah Nabi SAW. Dalam sebuah riwayat dari Abdullah ibn Zaid diceritakan ''dia (Abdullah) telah melihat Rasulullah berbaring di masjid sambil meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain''. (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberi petunjuk tentang cara berbaring Nabi.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita memahami hadis tersebut. Sebagaimana kita ketahui munculnya suatu hadis tidak jarang didahului atau dilatarbelakangi oleh suatu sebab (sabab wurud al-hadis). Melihat secara cermat latar belakang munculnya suatu hadis sangat membantu untuk memahami kandungannya secara benar.

Begitu juga pemahaman tentang peran Nabi ketika hadis itu muncul sangat penting, karena posisi beliau selain dinyatakan sebagai Rasulullah juga sebagai manusia biasa, dan dalam sejarah, beliau berperan dalam banyak fungsi. Seperti sebagai Rasulullah, kepala negara, pemimpin masyarakat, panglima perang, hakim, dan pribadi.

Perbuatan Nabi SAW berbaring sebagaimana digambarkan dalam hadis di atas dilakukan beliau dalam kapasitasnya sebagai pribadi, bukan sebagai Rasulullah, apalagi perbuatan itu hanya dilihat/disaksikan sahabat sekali waktu saja (saat itu), bukan terus-menerus. Bagaimana Nabi SAW tidur di rumah bersama keluarganya, misalnya, tidak dilaporkan dalam riwayat itu.

Berdasarkan petunjuk tersebut, maka dapat diambil satu pemahaman posisi tidur seperti yang Anda lakukan di atas bukanlah suatu larangan. Dalam hal ini yang berlaku adalah ketentuan ''segala sesuatu di luar ibadah pada dasarnya boleh (dikerjakan) selama tidak ada dalil yang melarangnya''. Sebaliknya dalam ''ibadah pada dasarnya dilarang kecuali ada dalil yang memperbolehkan''. Persoalan yang Anda tanyakan di atas menyangkut persoalan muamalah sehingga berlaku ketentuan yang pertama. Tetapi yang harus diingat dalam bermuamalah harus memperhatikan etika dan sopan santun.

Di dalam buku-buku akhlak terdapat penjelasan tentang segala perbuatan yang baik disunahkan menghadap kiblat. Salah satu perbuatan yang baik ialah tidur. Etika tidur itu ialah sebelumnya kita disunahkan berwudlu dahulu, posisi kepala sebaiknya di sebelah utara dan badan dimiringkan ke kanan menghadap ke arah kiblat. Hikmah yang bisa diambil darinya adalah sebagai penghormatan terhadap kiblat dan merupakan visualisasi sewaktu kita berada di kubur nanti. Dan ketentuan ini berlaku sebaliknya ketika melakukan hal-hal yang baik tetapi berkonotasi negatif, seperti buang air, baik kecil maupun besar dimahruhkan menghadap ke arah kiblat.

Menjawab pertanyaan kedua, mempelajari buku-buku yang di dalamnya terdapat teks ayat-ayat Alquran bagi wanita yang sedang haid tidak ada masalah, apalagi seperti yang Anda tanyakan, buku-buku tentang agama Islam. Seperti diketahui bicara tentang agama Islam itu sangat luas karena di dalamnya tercakup berbagai pembicaraan yang terkait dengan Islam itu sendiri. Misalnya masalah akidah, ibadah, tasawuf, sejarah, dan sebagainya, sehingga kalau menyebut buku tentang agama Islam maka cakupannya sangat luas pula.

Tentu ada hikmahnya mengapa tidak semua perbuatan/ibadah dilarang bagi wanita yang sedang haid/nifas. Hal itu antara lain karena Allah tidak pernah menyusahkan atau memberatkan hamba-hamba-Nya. Bagaimana seorang hamba bisa memperbanyak ibadah kepada-Nya kalau semuanya dilarang pada saat seperti itu, padahal Allah sendiri memerintahkan kepada hamba-Nya untuk selalu memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Begitu juga dengan belajar, termasuk bernilai ibadah. Seandainya pada setiap saat tersebut (waktu haid) ada larangan belajar, maka tentunya wanita akan banyak kehilangan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuannya dan sangat mungkin akan tertinggal dari kaum laki-laki.

Karena itulah, Allah memberi kemudahan kepada hamba-hamba-Nya, terutama kaum perempuan. Walaupun secara kodratnya perempuan setiap bulan mendapatkan halangan dan ''berkurang'' kesempatannya beribadah secara ''sempurna'' sebagaimana laki-laki, tetapi semua itu bisa ditutupi dengan ibadah-ibadah lain yang tak ''kalah'' nilainya.

Misalnya dengan memperbanyak /mendalami pengetahuan agama, baik lewat membaca atau mengaji. Bahkan belajar pengetahuan agama sesungguhnya merupakan hal wajib, karena hanya dengan ilmu pengetahuan itulah ibadah kita menjadi absah dan sempurna.

Dalam hal ini berlaku dalil ''sesuatu yang menentukan kesempurnaan sebuah kewajiban, maka hukumnya wajib''. Artinya, ibadah yang kita laksanakan tidak menjadi sempurna kecuali ditunjang dengan pengetahuan yang memadai.(35)


Bagi yang berminat dengan rubrik ini, kirimkan surat ke alamat Fakultas Ushuluddin. IAIN Walisongo, d/a LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 7601294. Di atas sebelah kiri amplop ditulis "Interaktif Tasawuf"


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Analisis | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA