
| Jumat, 12 Juli 2002 | Sala |
Banyak Pendaftar yang Tak Tertampung
SOLO - Lima SLTP negeri di Kota Solo yang kekurangan pendaftar kemarin diserbu siswa yang tidak diterima dalam penerimaan siswa baru (PSB) untuk SLTP. Kelima SLTP itu adalah SLTPN 5, 17, 24, 26, dan 27. ''Kekurangan itu lebih banyak akibat lokasi sekolah yang dianggap jauh. Selain itu, kelima sekolah itu dianggap kurang favorit,'' kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga (Kadispora) Surakarta Drs Projo Suminto SH MM, kemarin. Berdasarkan pantauan di lapangan, ada kemungkinan banyak siswa yang mendaftar di lima sekolah itu tidak tertampung. Sebagai contoh, SLTPN 26 Surakarta yang memiliki daya tampung 100 siswa, kemarin diserbu sekitar 300 pendaftar. Kemudian SLTPN 27, jumlah pendaftarnya mencapai lima kali lipat dari kursi yang tersisa. Pendaftar 200 siswa, sedangkan daya tampung tinggal untuk 35 siswa. Diperkirakan, pendaftar yang menyerbu lima SLTP itu berasal dari siswa yang tidak diterima di sekolah-sekolah lain. Sebagai contoh, ada 120 siswa yang tidak diterima dari SLTPN 3. Sebab, dari 376 peserta tes (424 pendaftar dikurangi 48 orang yang mengundurkan diri) hanya 256 orang yang diterima. Di SLTPN 1, jumlah yang tidak diterima lebih banyak lagi. Dari 418 pendaftar, hanya 280 siswa yang tertampung. Melihat pendaftar di lima SLTP yang masih kekurangan siswa melebihi batas daya tampung, ada kemungkinan sekolah-sekolah swasta dijadikan alternatif. Priyo (38), asal Cemani Sukoharjo, yang anaknya tidak diterima di SLTPN 3 mengatakan terpaksa harus memasukkan anaknya ke sekolah swasta. ''Mungkin ke SLTP Al Islam,'' ujarnya. Begitu juga Ny Kristanti (36), asal Gompang, Kartasura, Sukoharjo yang mengaku pesimistis mendaftarkan anaknya di SLTPN 3 Surakarta. Dia menyatakan telah mencatatkan putranya di sebuah sekolah swasta di Solo. Tidak Adil Soal penerimaan siswa di SLTP negeri setelah dihapuskannya ebtanas SD, menurut Prodjo, hal itu menyulitkan panitia dan berkesan tidak adil. Berdasarkan SK Mendiknas No 011/U/9/2002 tentang Penghapusan Ebtanas SD, ujian akhir diserahkan ke tiap-tiap sekolah dengan nama ujian akhir sekolah (UAS). Karena diserahkan ke sekolah masing-masing, standardisasi nilai UAS menjadi tidak jelas. ''Tidak adanya standardisasi nilai UAS inilah yang merepotkan kami. Pada SD yang kurang favorit, justru nilai UAS-nya tinggi. Bahkan guru berani memberikan nilai 9 untuk mata pelajaran yang sulit. Justru pada SD yang favorit, guru hanya memberikan nilai standar saja,'' paparnya. Tingginya nilai UAS yang diberikan tiap-tiap SD, memang sangat membantu siswa memasuki SLTP favorit. Formula PSB, yakni 2 X UAS + 3 Tes PSB + Prestasi, memungkinkan siswa memasuki SLTP favorit, meski nilai tes PSB-nya tidak begitu tinggi. Dari pantauan kemarin, tak sedikit yang nilai UAS-nya 8 hingga 9 memiliki nilai tes PSB hanya berada pada kisaran 5-6. Khususnya, mereka yang berasal dari SD kurang favorit. Karena itu, Prodjo mengusulkan diadakan evaluasi pada pelaksanaan PSB SLTP setelah ebtanas SD dihapuskan. ''Memang maksudnya baik agar guru bisa lebih profesional. Tetapi kalau seperti ini, kan merepotkan. Terlepas dari itu bisa dimaklumi, karena ini baru kali pertama dilakukan,'' ujarnya. (G9,ae-17k) | |||||