
| Jumat, 12 Juli 2002 | Karangan Khas |
Merenungkan Kembali Kebangkitan IslamOleh: Munawar AM DALAM dua dekade terakhir ini, hampir semua konflik perang melibatkan umat Islam. Maka Barat menyebutnya sebagai era perang muslim. Menurut pengamat Samuel P Huntington (2002), akar masalahnya lebih banyak diakibatkan oleh alasan politik daripada keagamaan. Huntington mengemukakan empat faktor berikut ini. Pertama, salah satu dari perkembangan politik sosial dan budaya yang paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir ini telah membangkitkan kembali kesadaran, gerakan, dan indentitas umat muslim. Organisasi-organisasi Islam sudah mulai memenuhi kebutuhan muslim perkotaan dalam menyediakan dukungan sosial, bimbingan moral, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan juga pengurangan penganggur. Hampir semua komunitas muslim, umat Islam selalu memosisikan diri sebagai oposan bagi pemerintahan yang represif. Kebangkitan Islam ini pun melahirkan ekstremis yang menjadi sumber rekrutmen untuk gerakan terorisme dan perang gerilya. Kedua, dalam dunia Islam ada kecenderungan resistensi yang melahirkan kemarahan, kecemburuan dan permusuhan terhadap Barat. Sebagian dari hal itu disebabkan imperialisme dan dominasi Barat terhadap muslim. Lebih jauh lagi, umat muslim kini mulai beraksi menghadapi pemerintahan yang korup, inefektif dan represif di negerinya masing-masing. Ketiga, fanatisme kesukuan, etnis dan pembagian politik serta budaya dalam dunia Islam sendiri memicu konflik antarsesama muslim. Keempat, kebangkitan dunia muslim terjadi bersamaan dengan ledakan angka kelahiran di hampir semua komunitas muslim. Hal ini membawa konsekuensi logis peningkatan jumlah penduduk dengan usia produktif. Sebagian di antaranya kaum pria dan berpendidikan tinggi, dan sebagian lain tidak demikian. Mereka inilah yang bermigrasi ke Barat, atau bergabung dengan organisasi fundamentalis-radikal dan partai politik tertentu. Sementara sebagian kecil lainnya terdaftar dalam jaringan terorisme atau gerilyawan muslim. Kalangan muda ini biasanya merupakan pelaku utama kekerasan. Keempat faktor tersebut merupakan sumber meluasnya kekerasan yang melibatkan umat muslim. Beberapa Perspektif Pada dekade 1970-an, dinamika dunia Islam ditandai titik awal terjadinya transformasi dan reorientasi, dan pada tahun-tahun awal abad ke-15 Hijriyyah, Islam berada di tengah gelombang dinamisme baru. Fenomena ini kemudian dinyatakan sebagai era kebangkitan Islam. Pada tingkatan yang luas, kebangkitan Islam merupakan fenomena penegasan kembali unsur-unsur kelangsungan dan kreativitas di antara dua kutub: modernisme dan tradisi Islam. Seperti tesis Huntington di atas, memang mudah menengarai kebangkitan Islam jika dilihat dari sisi tatanan politik dunia Islam, yang secara kebetulan berada pada posisi yang mengkristal seperti sekarang ini. Kajian mengenai sebab-sebab kebangkitan Islam menunjukkan berbagai perspektif bagaimana kebangkitan Islam terpolarisasi. Pertama, perspektif krisis dan pemecahan krisis. Masyarakat muslim berada di tengah transformasi yang menimbulkan ketegangan. Pada tingkat analisis yang umum, demikian kata R Hrair Dekmejian, pertanyaan bagi kembalinya etos Islam tampaknya merupakan respons alamiah terhadap pengalaman "penyakit" yang berlarut-larut diderita hingga saat ini: sebuah katalisator yang memicu kembalinya akar-akar tradisi Islam yang multidimensi. Kedua, perspektif perubahan-perubahan. Berkebalikan dengan perspektif krisis, perspektif ini menekankan keberhasilan dan kekuatan-kekuatan di dunia Islam kontemporer. Sejak 1970-an, negara-negara (dengan mayoritas penduduknya memeluk agama) Islam, satu per satu mencapai kemerdekaan politik. Perspektif keberhasilan semacam itu menggambarkan konsekuensi logis dan pentingnya penegasan kembali aspek-aspek tradisi Islam. Kolektivitas umat Islam dikaitkan dengan jalinan yang membentuk embrio komunitas muslim beridentitas (nasionalisme) dengan segala kekuatan sosial, politik, ekonomi dan budayanya. Dari sisi ekonomi, Paul Daniels menunjukkan faktor eksplorasi besar-besaran energi minyak di beberapa negara Islam sejak era 1970-an. "Bom minyak," kata Daniels, "telah menandai kembalinya kesadaran umat Islam lebih dari segalanya."
Ketiga, perspektif menguatnya keanekaragaman gerakan dengan identitas-identitas lokal berhadapan dengan faktor yang secara umum bukan Islam. Runtuhnya ideologi dan orde-orde pos kolonial politik dan ekonomi yang mencengkeram merupakan fakta yang menstimulir bagi banyak gerakan beridentitas lokal-etnis bergerak ke pola yang lebih luas. Jika dimungkinkan dalam kerangka membentuk dan atau merebut kembali nasionalisme dan geografi politik kenegaraan. Seperti dikemukakan Bernard Lewis, sampai memasuki dekade 1970-an, "Islam masih merupakan bentuk konsensus yang paling efektif di negara-negara muslim sebagai dasar identitas kelompok." Keempat, perspektif evolusioner masyarakat muslim. Di sini, masa lalu Islam merupakan faktor krusial jika hendak diproyeksikan membentuk Islam di masa datang. Perspektif evolusioner dalam kebangkitan Islam mengundang bahaya jika ciri-cirinya yang unik diabaikan. Hameed Enayat mengemukakan, kebangkitan Islam kontemporer menjadi semata-mata ilusi, sebab Islam merupakan kekuatan yang selalu ada di belakang pergolakan-pergolakan politik, tak terkecuali di dunia muslim sendiri. Perspektif evolusioner menunjukkan munculnya kesadaran bahwa di masa lalu keislaman tidak ditampilkan sebagaimana ideal yang pernah ditampilkan Nabi Muhammad. Ideal-ideal semacam itu kemudian dicoba ditampilkan kembali, sekaligus dibarengi pengakuan atas telah terlepasnya ideal-ideal Islam yang diikuti dengan pembaruan-pembaruan. Pembaruan yang dilakukan sekaligus merupakan bukti upaya menepis analisis bahwa kebangkitan Islam semata-mata merupakan reaksi terhadap peradaban Barat. Melihat kenyataan kebangkitan Islam, terdapat polarisasi penglihatan dari kacamata Barat dan Islam. Jika dari kacamata Barat, kebangkitan Islam biasa dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa khusus, maka kebangkitan saat ini akan menemukan titik singgungnya dengan tragedi 11 September, peristiwa-peristiwa sebelumnya dan munculnya idiom terorisme internasional. Padahal, aksi-aksi teror tidak seluruhnya dilakukan oleh kelompok-kelompok gerakan keislaman. Realitas Kebangkitan Realitas kebangkitan Islam seharusnya tidak cukup hanya diukur dari semakin mengkristalnya konflik dan kekerasan yang melibatkan umat muslim yang dibalut isu terorisme. Seperti kebangkitan dan runtuhnya peradaban-peradaban dunia, demikian juga kebangkitan dan runtuhnya Islam. Di dalamnya bisa ditemui artefak-artefak terjadinya konflik. Di era neo-imperialisme dan neo-kolonialisme, watak penjajah Barat tampaknya tidak reda begitu saja. Di Barat, meminjam analisis John L Esposito, ada kekhawatiran akan ancaman Islam terhadap Barat. Di atas semua fakta konflik yang melibatkan umat muslim maupun non-muslim, kebangkitan Islam bukan sekadar wacana. Kebangkitan Islam akhir-akhir ini justru bisa dilihat sebagai keinginan menawarkan bentuk-bentuk baru pemikiran dan lembaga yang secara mendasar telah terkontaminasi oleh modernisasi dan globalisasi. Sejak dari revolusi Islam Iran sampai ke wilayah Asia Tenggara dan Afrika Barat, seluruh dunia Islam terlihat bergerak aktif. Keyakinan keagamaan yang sebelumnya tidak tercatat, belakangan semakin bermunculan. Keadaan ini mengejutkan dan memunculkan isu-isu besar tentang hakikat kehidupan masa depan masyarakat di dunia modern. Secara evolusioner-adaptasionis, Islam menawarkan pola dan bentuk struktur kehidupan masyarakat.
Analisis lain menyatakan realitas kebangkitan Islam sebagai ada kaitannya dengan perubahan pada arti mendasar politik dan otoritas sosial karena kondisi yang ditimbulkan oleh modernisasi. Di sisi lain, penglihatan tertuju pada kebangkitan Islam sebagai reaksi teologis terhadap implikasi pemikiran dan lembaga tradisional di dunia modern.
Dalam konteks ini, fenomena Islam fundamentalis dan revivalis radikal, seperti halnya fenomena Islam evolusioner adaptasionis, sama-sama sedang bergerak bangkit, mencari dan menawarkan bentuk-bentuk ideal keislaman kepada dunia.(33)
-Munawar AM, alumnus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tinggal di Cilacap |