
| Jumat, 12 Juli 2002 | Internasional |
Korban Salah Tembak Dapat Kompensasi ASWASHINGTON - Seorang menteri kabinet Afghanistan mengatakan, AS menjanjikan dana sebesar dua juta dolar (sekitar Rp 18 miliar) untuk mengganti rugi para korban insiden "salah tembak" di utara Kandahar (Afghanistan selatan), majalah Time melaporkan Rabu dalam web site-nya, time.com. Para pejabat Afghan menyatakan, 48 penduduk sipil tewas dan 17 lainnya cedera dalam serangan udara AS pada 1 Juli lalu. Korban tersebut termasuk orang-orang pada pesta pernikahan. AS belum menentukan berapa banyak korban tewas dalam serangan di Deh Rawud dan desa-desa lain di Provinsi Uruzgan, Afghanistan tengah, itu. Pentagon (Dinas Pertahanan AS) Senin lalu menyatakan telah mengirim tim militer AS ke daerah itu untuk melakukan investigasi resmi. Menteri Kabinet Afghan Mohammed Arif Noorzai mengatakan kepada Time, dalam pertemuan awal pekan ini dengan para pejabat Afghan di Kabul, para pejabat AS menjanjikan dana untuk memberikan ganti rugi kepada para korban. Noorzai menjelaskan Jenderal Dan McNeill, komandan operasi AS di Afghanistan, dan Dubes AS Robert Finn menjamin Presiden Hamid Karzai bahwa bantuan itu segera datang. Sokongan bagi Negara "Bantuan itu bukan berupa ganti rugi saja," kata juru bicara Karzai, Fazel Akbar. "Bantuan tersebut juga untuk menyokong negara." Sokongan itu berupa uang tunai dua juta dolar yang akan diserahkan kepada Karzai, kata Time."Ada janji bantuan uang namun kami belum menerimanya," kata Akbar. Noorzai mengatakan kepada Time, bantuan tersebut akan dibagi-bagikan oleh presiden "kepada keluarga-keluarga yang terpengaruh pengeboman, yang kini sangat menderita". Departemen Luar Negeri AS tidak bersedia mengatakan apakah akan dilakukan pembayaran tunai, namun memberikan konfirmasi ada rencana untuk memberikan bantuan kepada Afghanistan. "Kami memutuskan untuk memberikan bantuan konstruksi di daerah itu," kata juru bicara Deplu, Richard Boucher. Para pejabat Kedubes AS di Kabul tidak bersedia berkomentar, kata majalah mingguan itu. Pentagon juga tidak mengomentari laporan tersebut. Serangan udara pada dini hari dilancarkan setelah awak "kapal meriam" AC-130 melaporkan kapal itu ditembak dari darat di daerah yang dikenal sebagai pusat dukungan bagi pemimpin Talib di Afghanistan. Paling Bahaya AS, Rabu, menyatakan peran militer dalam "perang melawan terorisme" belum selesai di Afghanistan, yang masih merupakan "tempat paling berbahaya" meski milisi Talib telah disingkirkan. "Jelas hal itu belum selesai," kata juru bicara Gedung Putih, Ari Fleischer. "Negara itu tetap merupakan tempat sangat berbahaya, dan tetap menjadi tempat yang AS terikat untuk membantu. Di negara itu juga masih diperlukan misi militer." Fleischer mengatakan, kekerasan baru-baru ini di Afghanistan, khususnya pembunuhan terhadap Wapres Haji Abdul Kadir, menunjukkan Afghanistan masih tetap merupakan tempat paling berbahaya. "Dan negara itu tetap menjadi tempat AS terikat untuk membantu menciptakan stabilitas, sementara kami berperang melawan terorisme," lanjut Fleischer. Dia memuji Presiden Afghanistan Hamid Karzai, yang dinilainya mampu memperlihatkan kepemimpinan yang kuat dan berupaya keras untuk menyatukan berbagai kelompok di Afghanistan. Presiden AS, George W Bush bertekad membantu rakyat Afghanistan yang sejak lama mengalami kekacauan serta peperangan, tambah juru bicara itu.(rtr-niek-ant-46) |