
| Jumat, 12 Juli 2002 | Jawa Tengah - Banyumas |
PerselingkuhanOleh: Didi Wahyu SEORANG dosen sebuah perguruan tinggi ''tertangkap basah'' sering berkirim SMS kepada mahasiswinya yang sudah bersuami. Ratusan SMS yang dikirim dosen berusia 45 tahunan itu, bahasanya khas ABG. Yaitu dengan simbol-simbol masa puber seperti panggilan Yang, mam, pap sampai ungkapan kangen-kangenan. Ketika suami mahasiswi itu menegurnya, dengan tangkas sang dosen menyebut bahwa semuanya hanya ''sebatas SMS''. Dengan menyebut ''sebatas SMS'', dia yang sangat paham hukum itu, berupaya menciptakan alibi agar tidak ada tuduhan lebih lanjut. Ia pun bersumpah-sumpah, mulai detik (tertangkap basah) itu, tak berkirim SMS lagi pada mahasiswinya. Padahal, andai tuduhan itu ada, masih bisa mengelak dengan argumen yang lebih cerdas. Bisa saja menyebut bahwa kiriman SMS itu hanya bagian dari penelitiannya. Semisal untuk mengetahui reaksi seorang wanita bersuami bila dipanggil ''mam'', oleh pria sudah beristri. Tetapi sulit dimengerti kalau kirim-kiriman SMS antara dosen dan mahasiswinya itu tidak masuk dalam kategori selingkuh. Lihat saja Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS Poerwadarminta, selingkuh diartikan sebagai curang, tidak jujur, tidak terang-terangan. *** MAKA sangat pas analisis Sekda Banyumas, Drs H Bambang Priyono, saat berbicara di depan para Kepala SD. Perselingkuhan canggih sulit disentuh. Terlebih tempat tujuan selingkuh (hotel, vila) melindungi peselingkuh. Ia menengarai, selama ini hanya perselingkuhan guru SD di desa yang selalu menjadi sorotan masyarakat. Pak Guru yang berboncengan motor dengan Bu Guru sudah ramai jadi pergunjingan orang dan dituduh selingkuh. Sementara peselingkuh canggih dengan mobil berkaca gelap, bisa bebas membawa pasangannya ke manapun tanpa diketahui orang. Padahal statistik guru SD yang selingkuh sebenarnya tidak terlalu besar. Dari delapan ribu guru SD yang ada di Banyumas, setiap minggu memunculkan sekitar 50 orang yang terlibat berbagai kasus. Paling banyak memang kasus perselingkuhan, persentasenya hanya 0,05 persen. Perselingkuhan kelas rumah tangga ini, dampaknya memang tidak terlampau besar. Paling hanya sebatas pada rumah tangga yang yang terkait. Kalaupun melebar, cuma penjatuhan sanksi administrasi dari atasan. Jika dibawa ke pengadilan hanya menuai aib. ***
BERBEDA dengan kasus penolakan Kasasi yang diajukan oleh Tri Waluyo Basuki. ''Kalau ingin jadi Bupati, jangan dengan memenjarakan saya,'' kata Ketua DPRD itu. Betapa tak gusar, ketika ia belum memperoleh petikan keputusan dari MA itu, di kalangan masyarakat sudah beredar fotokopi surat pengantar putusan itu. Jadi tak heran, kalau Tri menengarai ada ''perselingkuhan politik'' untuk menjatuhkannya. Karena jika ia dieksekusi, dua tahun penjara, habislah karier politik dokter muda itu. Sebelumnya, rencana pembangunan terminal bus secara secara swadana atau mengundang investor juga jadi perdebatan seru di kalangan anggota Dewan. Pihak yang tak setuju investor, mencurigai adanya ''perselingkuhan ekonomi'' antara pemilik modal dengan anggota dewan yang suaranya kencang meneriakkan investor. Maka perselingkuhan memang tak cuma merusak kehidupan rumah tangga. Tetapi telah merambah ke dunia politik, ekonomi bahkan bidang lain. Perselingkuhan yang sudah setua peradaban manusia, tak cuma sulit disentuh. Terlebih lagi untuk memberantasnya. (47) - Didi Wahyu, wartawan Suara Merdeka Biro Banyumas |