
| Jumat, 12 Juli 2002 | Jawa Tengah - Banyumas |
Saluran Irigasi Tambak - Sumpiuh Rusak
BANYUMAS-Kepala Dinas Pengairan dan Tamben, Ir Budi Susilo, Dipl.HE mengatakan dari 27 kecamatan di Banyumas yang kekeringan akibat kerusakan irigasi sebenarnya hanya tiga kecamatan. Sedang 24 kecamatan lainnya yang mengeluh sawahnya kekeringan adalah daerah tadah hujan. ''Ketiga kecamatan itu, Sumpiuh, Tambak dan Kemranjen. Kekeringan diakibatkan rusaknya jaringan irigasi induk Sumpiuh - Tambak sepanjang 25 kilometer,'' jelasnya kemarin. Kerusakan itu merupakan jumlah kerusakan jaringan induk irigasi Sumpiuh dan jaringan sekunder ke sawah. Irigasi yang mengairi 150 hektare sawah di ketiga kecamatan itu, sebenarnya potensi airnya cukup. Namun akibat kerusakan yang disebabkan faktor alam dan manusia, timbul kekeringan. ''Bangunan irigasi tersebut juga merupakan tanggungan Provinsi Jawa Tengah, '' katanya. Menurut Budi, untuk perbaikan saluran irigasi tersebut, pihak Provinsi Jateng sedang mengusulkan grant dari Japan International Corporation Agency (JICA) Jakarta. Dana yang dibutuhkan untuk perbaikan irigasi itu, mencapai Rp 10 miliar. Bantuan Anggaran Untuk perbaikan sarana dan prasarana irigasi tahun 2002 sendiri ada bantuan anggaran dari APBN sebesar Rp 1,2 miliar dan APBD Jateng Rp 400 juta. Sedangkan Pemkab menyediakan anggaran APBD sebesar Rp 1 miliar. Dana APBD Jateng dialokasikan untuk perbaikan jaringan irigasi di Kemranjen, Kebasen, Sumpiuh dan Tambak. Sedang dana APBN untuk perbaikan irigasi Jawa Tengah di Kecamatan Kedungbanteng, Karanglewas, Purwokerto Barat dan Patikraja. Sedangkan dana APBD Banyumas terbagi untuk perbaikan irigasi di Kecamatan Kebasen, Tambak, Sumbang, Baturraden, Kedungbanteng dan Patikraja, untuk O & P jaringan irigasi di Cilongok, Karanglewas, Kedung Banteng, Kembaran, Tambak, Sumbang dan Sokaraja. Selain itu untuk proyek penanggulangan bencana alam untuk Kecamatan Sumbang, Kedungbanteng, Karanglewas, Sumpiuh, Tambak, Ajibarang, Cilongok, Purwokerto Utara dan Kembaran. Asisten Ekonomi Pembangunan (Asekbang) Suyatno, S.Sos, mengatakan, perbaikan sarana dan prasarana irigasi untuk menjamin ketersediaan air bagi tanaman di lahan sawah beririgasi. Banyumas sebagai gudang dan penghasil gabah untuk ketahanan pangan, sampai saat ini masih mencukupi dan aman. Untuk itu, perlu dilakukan penataan kembali pola tanam lahan sawah beririgasi. Langkah yang ditempuh antara lain, pola tanam yang disusun berdasarkan aspirasi Paguyuban Petani Pemakai Air (P3A). ''Usulan aspirasi pola tata tanam dari petani, dibahas P3A dahulu dan diupayakan lebih mengedepankan diversifikasi tanaman,'' katanya usai rapat Ketahanan di Gedung Korpri Purwokerto kemarin. Petani, tidak lagi diharuskan menggunakan pola tata tanam padi padi palowija. Tetapi dibebaskan untuk memilih tanaman yang dapat meningkatkan pendapatannya. Tentunya tetap mempertimbangkan faktor kesediaan air, jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan, faktor drainase dan hama.(ash-47) | |||||