logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 12 Juli 2002 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Jaringan Irigasi di Temanggung Minim

TEMANGGUNG - Jaringan irigasi di beberapa daerah Kabupaten Temanggung, khususnya bagian utara, masih minim. Akibatnya, masyarakat hanya mengandalkan air dengan sistem tadah hujan atau memanfaatkan sungai-sungai kecil untuk kebutuhan air bersih dan pertanian.

Menurut Kepala Laboratorium Penelitian Hama dan Penyakit Tanaman Pangan (PHPTP) Kedu Utara di Temanggung Ir Kardi Raharjo, kondisi semacam itu sangat menyulitkan penduduk bila kemarau tiba. Ancaman kesulitan air untuk pertanian dan rumah tangga cukup besar.

"Ini perlu pemikiran lebih mendalam, mengingat jaringan irigasi sangat penting untuk mendukung peningkatan hasil pertanian dan agroindustri. Menurut saya, perlu penambahan irigasi agar hasil pertanian dan agroindustri di sana meningkat," katanya.

Daerah-daerah yang perlu mendapat prioritas penambahan jaringan irigasi, antara lain Kecamatan Pringsurat, Kaloran, Kandangan, Kranggan, dan Gemawang. Diungkapkan, pembuatan jaringan irigasi tidak mesti menggunakan sungai, tapi bisa dengan pemompaan atau pengeboran air bawah tanah.

40 Meter

Dia menunjuk contoh Desa Baledu (Kandangan) yang memiliki kedalaman air tanah rata-rata 40 meter, sehingga memungkinkan sekali dilakukan pemompaan. Yang lebih sederhana, yakni dengan membuat bendungan pada sungai kecil di kawasan tersebut.

Biaya operasional sistem itu jika dipergunakan untuk pengairan budi daya tanaman holtikultura dan agrobisnis masih sangat memungkinkan. Padahal, dua jenis budi daya tersebut (holtikultura dan agrobisnis) memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kabag Humas Pemda Drs Bekti Priyono menjelaskan, pada kemarau sekarang belum ada laporan tentang kesulitan air.

Bupati Drs H Sardjono SH CN telah meminta para camat dan kepala desa agar cepat melapor bila mengalami kesulitan air.

"Catatan di Kesbanglimas, sampai saat ini belum ada desa yang minta pengedropan air. Kendati demikian, kami terus memantau terutama desa-desa yang rawan air," katanya.

Yang menjadi pantauan utama yakni tujuh desa di Kecamatan Kranggan, Kaloran, dan Pringsurat. Desa-desa itu selama ini hanya mengandalkan sistem tadah hujan, sehingga rawan air. (nt-56e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA