
| Jumat, 12 Juli 2002 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
35 Desa di Pegunungan Kekeringan
Jalan Kaki 5 Km untuk Mencari AirKEBUMEN- Tiga puluh lima desa di Kebumen kini mulai kesulitan air bersih. Desa-desa yang dilanda kekeringan itu umumnya berada di dataran tinggi yang tersebar di 11 kecamatan. Mata air di desa-desa pegunungan mulai mengering. Akibatnya, warga harus jalan kaki satu hingga tiga kilometer untuk mendapatkan air. Sampai sekarang belum ada bantuan air bersih, meski warga sangat membutuhkan untuk keperluan sehari-hari. Kasubag Kesejahteraan Sosial Pemkab Kebumen Syamsul Bahri MI mengemukakan, desa-desa yang dilanda kekeringan itu tersebar di Kecamatan Prembun (4 desa), Alian (3 desa), Kebumen (1 desa), Sadang (1 desa), dan Pejagoan (3 desa). Selain itu, kekeringan juga menimpa desa-desa di Kecamatan Sruweng (7 desa), Karanggayam (5 desa), Karanganyar (3 desa), Buayan (4 desa), Rowokele (1 desa), dan Kecamatan Ayah 1 desa). Syamsul mengungkapkan, kondisi paling parah melanda Kecamatan Sruweng dan Kecamatan Karanggayam. Desa-desa di sana berada di dataran tinggi di bawah hutan pinus dan sebagian berupa tanah cadas. Tiap tahun wilayah itu selalu langganan kekeringan. Untuk mengantisipasi kondisi kekeringan yang semakin meluas, pihaknya telah berkoordinasi dengan Bappeda serta Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas). Selain itu, Pemkab telah mendata dan menyalurkan permintaan air bersih ke PDAM Kebumen. Minta ke PDAM Dia mengakui, selama ini banyak permintaan dari warga yang langsung disampaikan ke PDAM. Bagian Kesra lebih banyak koordinasi dan hal itu pun kadang terbentur birokrasi. "Lebih efektif warga meminta air langsung ke PDAM." Desa-desa yang dilanda kekeringan tersebut bukan sama sekali tak memiliki sumber air. Bahkan, seperti Desa Banyumudal dan Nogoraji Buayan, termasuk desa yang banyak terdapat mata air. Hanya saja, lantaran desa itu ada di pegunungan sehingga di bagian atas tetap rawan kekeringan. Secara terpisah Camat Karanggayam Haryanto SSos mengatakan, berdasarkan pemantauan langsung ke desa-desa kini ada lima desa paling menderita. Desa-desa tersebut adalah Karanggayam, Karangreja, Kalireja, Ginandong, dan Karangtengah. "Di beberapa desa itu semua mata airnya telah mengering." Bahkan warga di dataran tinggi itu tiap hari harus jalan kaki tiga-lima kilometer untuk mengambil air di sungai atau antre di mata air terdekat. "Desa-desa tersebut memang langganan kekeringan. Begitu satu bulan tak ada hujan, sumber air mulai mengering." Haryanto menuturkan, selama ini pihaknya telah menyosialisasikan kepada warga untuk membuat sumur gali lewat proyek air bersih (PAB). Akan tetapi terkendala kondisi tanah cadas dan bebatuan, sehingga untuk menggali lebih dalam sangat sulit. Pihaknya mengharapkan, Pemkab segera melakukan pengiriman air bersih. Sebab, semakin hari kondisi rawan air bersih itu semakin dirasakan masyarakat di dataran tinggi.(B3-17j) |