logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 12 Juli 2002 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

2.000 Ha Padi Terancam Kekeringan

  • Petani Salah Perhitungan

PURWOREJO - Pada kemarau tahun ini diperkirakan tanaman padi di wilayah Purworejo yang kekeringan cukup luas. Sebab, banyak padi yang terlambat ditanam.

Keadaan akan lebih parah kalau perkiraan akan datang el nino, yaitu kemarau kering berkepanjangan terwujud. Diperkirakan areal tanaman padi yang mengalami kekeringan yaitu di wilayah Kecamatan Purwodadi, Ngombol, Grabag, Bagelen, dan Butuh. Wilayah Kecamatan Butuh juga akan kekeringan tetapi tidak begitu merugikan, karena tidak ada petani yang menanam padi.

"Yang terancam kekeringan kurang lebih 2.000 hektare tanaman padi," kata Kasubdin Perlindungan Tanaman pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Purworejo Ir Dri Sumarno.

Dipaparkan, areal sawah di kota itu pada kemarau seluas 25.000 hektare, sedangkan pada musim hujan areal tanaman padi 30.000 hektare. Pada kemarau tahun lalu 1.894 hektare dari 3.325 hektare tanaman padi mengalami kekeringan. Penyebabnya sama, yakni petani salah perhitungan dalam menanam padi.

Petani salah perhitungan, kata dia, karena bibit ditanam Mei lalu. Memang waktu itu masih terlihat aliran air cukup banyak. Namun, karena saat ini banyak sawah yang mengering, diperkirakan banyak tanaman mati.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kata Ir Dri Sumarno, berdasar penelitian Klimatologi Semarang, perkiraan curah hujan bulan ini hanya 0-50 mm. Padahal, kondisi normalnya antara 150-200 mm.

Penggundulan Hutan

Sebenarnya Dinas Pertanian dan Kehutanan sudah mengantisipasi dengan meminta petani mempercepat penanaman padi. Artinya, begitu panen langsung tanam lagi, tidak diperbolehkan mengulur waktu sampai bera.

Pada saat menjelang kemarau, petani juga disarankan agar menanam tanaman yang tahan kering seperti palawija.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Linmas), Dhanni Purwadi SSos mengaku sudah menginventarisasi daerah kekeringan. Dia mengatakan, yang mulai menampakkan gejala kekeringan adalah Desa Sidorejo, Purworejo. Desa lain yang rawan kekeringan adalah Sidomulyo, Donorati, Wonotulus, dan Sudimoro, semua di wilayah Kecamatan Purworejo.

Sebagai antisipasi hal itu, Pemkab menyiapkan beberapa truk tangki untuk mengedrop air. Dia memperkirakan, Pemkab akan kewalahan melayani permintaan karena truk tangki hanya tiga. Kendala itu akan ditopang dengan meminjam truk tangki milik Bakorin Magelang dua buah.

Kedua sumber tersebut khawatir, Purworejo akan mengalami kekeringan serius. Hal itu karena penggundulan hutan di daerah hulu tak terkendali.

Diperkirakan cadangan air pegunungan tidak mampu mengalir sampai November.

Kasubag Umum dan Kepegawaian PDAM Eko Teguh Prasetyawan SE ketika dimintai konfirmasi kemarin menyatakan, saat ini sudah banyak permintaan air dari masyarakat. Setiap tangki berisi 4.000 liter air bersih untuk kebutuhan keluarga seharga Rp 35.000.

Sementara itu, permintaan air bersih untuk niaga Rp 40.000/truk, masing-masing ditambah biaya administrasi Rp 1.000. (yon-56e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA