
| Jumat, 12 Juli 2002 | Jawa Tengah - Pantura |
Tes Darah Petani Memprihatinkan
BREBES - Hasil tes darah terhadap petani bawang merah dan cabe di wilayah pantura (pantai utara) Brebes ternyata makin memprihatinkan. Antara petani desa satu dengan desa lain menunjukkan gejala peningkatan keterpengaruhan terhadap pestisida bertambah. ''Saya merasa prihatin dengan kondisi ini. Untuk menghindarinya, petani harus berani mengubah pola pemakaian pestisida secara benar supaya aman,'' papar Asisten Lapangan Asosiasi Industri Perlindungan Tanaman Indonesia (AIPTI) Supili, kemarin . Menunjuk data yang diperoleh dari tes darah terhadap 80 petani di Desa Kemurang Wetan dan Sarireja Kecamatan Tanjung, bulan Juni lalu, terdapat antara 36 sampai 37 persen petani tekena pengaruh pestisida pada tubuhnya. Meski masih dalam kategori ringan, namun perlu segera ada perubahan perilaku pemakaian pestisida. Dari data dua desa itu, kata Supili, sangat berbeda jauh dari data yang diperoleh di tempat lain, yakni di Desa Keboledan Kecamatan Wanasari. Di desa yang mayoritas petani bawang merah itu, muncul 47 persen petani (dari 53 responden) terkena pengaruh pestisida. ''Tes darah terakhir di Desa Keboledan pada 9 Juli lalu, 24 petani normal, 25 terkena pengaruh ringan, dan empat orang kategori sedang.'' Secara terpisah Site Manager AIPTI Maryudin mengatakan, program AIPTI sebagai LSM perusahaan obat pertanian, adalah mengarahkan petani supaya menggunakan pestisida secara tepat dan benar. Dengan demikian dapat meminimalkan kontaminasi pestisida pada tubuh petani. Sepuluh Desa Mengenai tes darah itu dimaksudkan supaya petani percaya bahwa apa yang mereka lakukan yakni menggunakan pestisida di luar ketentuan yang cenderung berlebihan akan berdampak masuknya racun pada darah mereka. Untuk tes darah itu, AIPTI sudah melakukan di 10 desa yang mayoritas petani menggunakan pestisida. ''Setelah diketahui secara pasti keterpengaruhan pestisida, mereka biasanya baru menyadari dan mau mengubah pola pemakaian pestisida di kemudian hari,'' paparnya. Selain tes darah dengan sample petani yang melakukan penyemprotan, AIPTI juga melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada remaja desa, petani, pemilik kios obat pertanian dan petugas lapangan perusahaan obat pertanian. Mereka diberi bekal tentang bagaimana bahaya pemakaian pestisida sebagai racun hama. Kalau dia pemilik kios, diberikan pengarahan supaya menempatkan pestisida secara benar. Bagi petani supaya aman gunakan masker, sarung tangan, baju lengan panjang, dan celana panjang saat penyemprotan. Arah angin perlu juga diperhatikan, supaya tak berlawanan. Lebih penting lagi pemakaian pestisida harus sesuai aturan. Misal satu tangki semprot tak perlu diberi pestisida secara berlebihan. Kalau cukup 30 sampai 40 cc, tak perlu sampai 60 sampai 80 cc pestisida. Disamping pemborosan dalam hal biaya, akan dapat membunuh musuh alami lain. (wh-20) |