logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 11 Juli 2002 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Sangkar Tumiyang Rambah Kota Besar

CAT SANGKAR: Seluruh keluarga Sri Sutriono dilibatkan menyelesaikan pembuatan sangkar burung. Tampak isterinya Wartini sedang mengecat sangkar yang belum jadi. Di belakangnya, tumpukan sangkar yang siap dikirim ke Jakarta. (Foto:Suara Merdeka/ash-68)

SELAMA ini orang mengira sentra kerajinan sangkar burung adalah Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Padahal sentra kerajinan sangkar burung itu terletak di sebuah desa terpencil dan IDT yaitu Desa Tumiyang RT 01/1, Kecamatan Kebasen. Daerah itu menghasilkan sangkar burung yang sudah merambah berbagai kota besar di Jawa.

Tokoh pengrajin sangkar burung itu adalah Sri Sutriono, kelahiran Jakarta tahun 1967. Menurut dia, panggilan sehari-harinya, ia menggeluti sangkar burung mulai tahun 1987 lalu. Tahun 1973, Yono kecil terpaksa pulang ke tempat ibunya di Magelang karena Pasar Senen tempat mencari nafkah orang tuanya terbakar habis. Tidak lama kemudian pindah lagi ke Rawalo tempat asal ayahnya.

Di Tumiyang, ia mulai merintis kerajinan sangkar burung dengan membawa contoh dari pasar burung Jakarta di Jalan Pramuka. Semula keluarganya yang memulai membuat sangkar burung dan dijual ke Jakarta. ''Semula saya bawa 1 set atau 3 sangkar ke Jakarta dengan naik kereta api. Kemudian bertambah banyak menjadi 10 set setiap pengiriman,'' jelasnya kemarin.

Setelah itu, pengiriman mencapai 500 set atau 1000 sangkar/bulan. Kalau sebelumnya menggunakan kereta api, sekarang pengiriman ke Jakarta sudah menggunakan truk. Sebab sekali angkut ke Jakarta, bisa langsung ke tempat penampungan di pasar burung Jalan Pramuka.

''Sebenarnya pasaran sangkar burung dari Tumiyang di Jakarta laku keras. Ada 19 pedagang yang menampung tapi kemampuan produksi hanya 1.000 sangkar/bulan, maka terpaksa hanya 1 pedagang yang dilayani. Kemampuan kami hanya 1 orang, kalau dipaksakan mungkin malah hancur meski ada 3 pedagang yang sanggup menampung,'' katanya.

Untuk menyelesaikan 1.000 sangkar banyak hambatan. Kiriman sangkar tergantung proses penyelesaian. Misalnya, cat sudah siap, namun seng tempat menampung kotoran belum ada. ''Kendala terbesar berupa modal, sebab usaha kerajinan sangkar hanya modal keluarga. Saat krisis, mati tidak hidup juga segan,'' ujarnya.

Menurut Yono, bantuan permodalan dari Pemkab Banyumas belum ada. (Ali Syamhadi-68)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA