logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 10 Juli 2002 Budaya  
Line

Novelis Cilik Menggarap Horor

Novel Tolooong!!! karya Maria Miracellia Bo (inzet) SM/jo

TIDAK disangka Maria Miracellia Bo yang masih berusia 11 tahun mampu membuat novel. Bahkan, hanya dalam waktu dua minggu. Temanya pun tidak main-main: horor! Novel itu berjudul Tolooong!!! dengan ketebalan 145 halaman dan bersampul gambar tengkorak.

Semangat Maria Bo untuk menulis cerita-cerita horor memang sangat tinggi. Begitu ide melintas, dia menuju komputer yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Sampai sekarang dia sudah menulis 40 cerita, namun baru Tolooong!!! yang dibukukan.

Dalam waktu dekat, satu buku lagi bakal muncul dengan tebal 200 halaman. Judulnya? "Masih rahasia," ujar sulung pasangan Eduardus Marius Bo SH MS dan Dra Diah Darmaningtyas R itu.

Di kamar murid kelas V SDK St Maria II Malang itu ada rak yang ditata seperti perpustakaan kecil. Di rak itu terdapat serial Goosebumps hadiah dari orang-orang dekatnya. Ada pula Intisari, Crayon, bahkan ada cerita berbahasa Inggris.

Prestasi yang diraihnya, kelas satu hingga tiga SD selalu menjadi juara pertama. Di kelas empat dan lima masuk tiga besar. Pada 2000, dia meraih juara pertama cepat tepat aritmetika tingkat nasional di Jakarta.

Bakat terpendam yang dimilikinya tampaknya tidak jauh dari pepatah yang mengatakan, "cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga" atau dalam peribahasa Jawa kacang ora ninggal lanjaran. Orang tuanya berkecimpung di dunia pendidikan di PTS besar di Malang. Opanya mantan guru di St Yusuf Hwa Inn dan penulis naskah drama. Omanya guru di St Maria dan tantenya selain pernah menjadi dosen PTS Katolik di Malang juga pernah berkecimpung di dunia jurnalistik, tapi kini lebih mendalami bidang penelitian.

Maria sudah bisa membaca sejak usia tiga tahun. Di kelas 1 SD dia sudah aktif menulis apa saja yang ada di benaknya, terutama khayalan dan horor. Sejak Maret 2002, dia sudah menyelesaikan 17 judul karangan,meski belum dibukukan.

Kesukaan menulis cerita horor ternyata memunculkan kisah nyata yang menggelikan. Suatu malam dia sedang tegang mengetik di komputernya. Tiba-tiba dia lari ke kamar ibunya, karena ketakutan oleh cerita yang dibuatnya. Begitu melihat ibunya belum tidur, dia kembali lagi ke kamarnya dengan perasaan tenang.

Yang menarik dari sosok novelis cilik berusia 11 tahun itu, bila kebanyakan novelis menuangkan tulisan berkisar pada dirinya atau paling tidak pengalaman hidupnya maka tidak demikian dengan Maria.

Dia justru lebih banyak mengarah pada cerita remaja. Dalam cerita horor pun, dia lebih condong pada dunia Barat baik cerita maupun setting-nya. Karena berdasarkan pengakuannya, horor di Barat lebih seram.(Jo-41j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Analisis | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA