logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 9 Juli 2002 Tajuk Rencana  
Line

Sayang, Pompa Air Itu Dibiarkan Mangkrak

- Dua ratus hektare sawah di Desa Sendangijo, Gemantar dan Sawangan Kecamatan Selogiri, Wonogiri pada musim kering ini terancam tidak bisa ditanami. Bukan karena musim kering, melainkan karena mesin pompa air yang ada di sana sudah lama mangkrak, tak bisa berfungsi. Pada masa lalu, meskipun dalam musim kemarau seperti sekarang, sawah di tiga desa itu tidak menghadapi problem. Air diperoleh berkat pompa. Sarana irigasi itu dibangun pada tahun 1982, sumbangan dari Proyek Bengawan Solo. Namun, kemudian panel pompanya rusak karena terbakar, sehingga tak bisa berfungsi. Untuk perbaikan pernah diusulkan kepada Pemkab Wonogiri, tetapi hingga kini belum ada realisasi. Beda pendapat tentang istilah ''perbaikan panel'' atau "pengadaan pompa" dalam draf usulan menyebabkan masalah tak terpecahkan hingga sekarang.

- Melihat tahun pembangunannya, masalah tersebut bukan hal baru. Kini mencuat lagi karena petani ingat kembali manfaat pompa itu pada masa lalu. Menurut Lurah Sendangijo Jasman, pompa air itu berhasil menjaga kelangsungan bercocok tanam meskipun pada musim kering seperti sekarang. Apalagi bagi daerah Wonogiri yang tiap tahun selalu menghadapi problem air ketika musim kemarau datang. Ketika masih berfungsi, sarana itu bisa menghemat biaya cukup besar jika dibandingkan menyewa pompa air milik swasta. Kalau menyewa, petani harus merogoh kantong sampai Rp1.500.000/hektare. Dengan pompa air yang sudah ada itu, biaya yang dibutuhkan terutama untuk membeli bahan bakar solar, cuma sekitar Rp 200.000/hektar. Karena itu sangat disayangkan jika pompa air tersebut dibiarkan terbengkalai.

- Jika masalah lama itu sekarang mencuat kembali, itu adalah sangat tepat. Musim kering memaksa masyarakat berpikir keras dalam mencukupi kebutuhan air. Apalagi di daerah kering seperti Wonogiri, Blora, Boyolali, Rembang, Demak dan lain-lain. Air menjadi barang sangat berharga berkaitan dengan berbagai kebutuhan. Misalnya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, mandi, irigasi sawah dan kebutuhan hewan piaraan. Terutama hewan besar seperti sapi, kerbau, kuda, dan lain-lain. Musim kering dan berbagai problem air yang muncul, sekaligus mengingatkan kita tentang berbagai cara pemenuhannya. Selain Wonogiri, ada beberapa daerah yang juga memanfaatkan pompa-pompa air untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Misalnya Blora, Sragen, dan Sukoharjo.

- Meskipun sudah makin banyak waduk dibangun, di provinsi ini masih tetap banyak sawah tadah hujan. Sawah yang irigasinya menggantungkan diri pada kemurahan alam. Dalam musim kemarau biasanya tidak bisa lagi digarap, khususnya untuk bertanam padi. Ada yang kemudian menanam palawija seperti kacang hijau dan kacang tanah. Ada juga yang menanam semangka, melon, dan blewah. Namun, lebih banyak lagi yang dibiarkan bero karena kering sama sekali. Tak mungkin lagi tumbuh-tumbuhan bisa hidup. Rumput pun mengering kekuning-kuningan. Situasi itu menimbulkan pertanyaan di hati kita, tidak mungkinkah di daerah-daerah kering semacam itu di bangun pompa-pompa air? Kalau di kota-kota besar saja bisa, di daerah pesawahan yang luas potensi itu jauh lebih besar.

- Di Blora ada pompa air yang digerakkan oleh tenaga listrik PLN. Ada pula yang menggunakan pembangkit sendiri. Mana yang lebih ekonomis, bisa belajar ke Desa Sendangijo. Menggunakan pembangkit sendiri ternyata lebih efisien. Dihidupkan hanya pada waktu dibutuhkan saja, yaitu ketika sumber-sumber air sudah kering. Sedangkan pada musim hujan, pompa diistirahatkan dan dirawat sampai tiba musim kering lagi. Jika menggunakan listrik PLN, dioperasikan atau tidak, tetap harus membayar tarif minimal. Persoalannya barangkali, petani tak punya cukup modal untuk membeli pompa yang cukup besar. Di sana dibutuhkan pelopor atau penggerak. Mereka yang mempunyai inisiatif untuk menghimpun petani, bersama-sama membangun sarana yang dibutuhkan. Wadah semacam darma tirta barangkali bisa dimanfaatkan.

- Andaikata pesawahan tadah hujan bisa memanfaatkan pompa air, problem kemarau tidak bakal dihadapi petani lagi. Hal itu sangat penting dikaji kemungkinannya untuk penerapan di daerah yang lebih luas. Banyak pakar telah mengingatkan bahaya kemarau sekarang. Pengaruh arus panas El Nino dikhawatirkan akan membawa dampak kering lebih berat. Harus dicatat, gejala alam yang datang secara periodik itu masih memendam rahasia yang belum terpecahkan oleh para ahli. Akhirnya, kedatangannya yang potensial membawa bencana besar di sektor pertanian itu tak bisa dihindarkan. Para penguasa hanya bisa menyerukan untuk melakukan persiapan penanggulangan agar tak terjadi akibat lebih buruk. Kalau hal itu terus terjadi tiap musim kemarau tiba, dampak lebih buruk tak terhindarkan.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA