logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 9 Juli 2002 Tajuk Rencana  
Line

Penurunan Ekspor Patut Diwaspadai

- Di tengah-tengah optimisme tentang perbaikan perekonomian di Indonesia yang ditandai antara lain oleh perbaikan indikator kurs rupiah, indeks harga saham, dan penurunan suku bunga, kini muncul kabar yang cukup membuat nyali menciut. Laju ekspor selama Januari hingga Mei tahun ini menurun sembilan persen. Suatu angka penurunan yang cukup signifikan. Periode Januari-Mei tahun 2001, ekspor mencapai 24,5 miliar dolar AS. Sedangkan tahun ini pada periode yang sama hanya 22,2 miliar dolar AS. Gejala apa ini? Itulah yang patut diwaspadai. Sebab, pada sistem perekonomian yang telah mengglobal, kinerja ekspor sangatlah penting dan bahkan fundamental. Ekspor akan menentukan posisi neraca pembayaran, cadangan devisa, dan lebih jauh dari itu penguatan kurs mata uang dan tingkat kepercayaan internasional.

- Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini MS Soewandi menuding persoalan instabilitas politik dan keamanan di dalam negeri sebagai salah satu faktor penyebabnya. Para pembeli dari luar negeri tak lagi mengorder barang kita dan beralih ke negara lain karena khawatir ordernya tak lancar akibat situasi dalam negeri Indonesia yang belum kondusif. Mungkin itu menjadi faktor, namun rasanya tidaklah tepat kalau menganggap masalahnya hanya sebatas itu. Kalau hanya itu penyebabnya, mengapa baru sekarang menurun. Bukankah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya situasi lebih kacau. Justru pada saat ini mulai dicapai ketenangan. Berbagai kerusuhan dan kekacauan masih terjadi, tetapi hanya di tempat-tempat tertentu. Secara keseluruhan sudah membaik. Termasuk juga dalam soal gonjang-ganjing politik.

- Lalu apa? Menurut hemat kita faktor penyebabnya lebih kepada soal persaingan di pasar. Artinya, pengusaha eksportir kita makin sulit bersaing dengan produsen dari negara-negara lain. Yang paling banyak disebut adalah Cina. Raksasa ekonomi Jepang pun dikabarkan mulai tersaingi oleh negeri yang sekarang tumbuh pesat perekonomiannya itu. Alasan ini lebih masuk akal. Beberapa waktu lalu memang terjadi slow down perekonomian dunia khususnya Amerika Serikat pascatragedi 11 September 2001. Tetapi sekarang perekonomian sudah membaik, termasuk di kawasan Asia. Data menunjukkan hampir semua negara di ASEAN, kecuali Indonesia, mulai menikmati kenaikan laju ekspor. Justru karena itulah, kondisi saat ini makin memprihatinkan dan butuh perhatian yang lebih serius.

- Dampak penurunan ekspor akan dirasakan secara luas. Bukan hanya soal hitung-hitungan angka dolar atau persoalan cadangan devisa. Lebih jauh dari itu dampaknya kepada penurunan kapasitas produksi dan akhirnya pemutusan hubungan kerja (PHK). Beberapa waktu lalu diberitakan sekitar 16.000 pekerja pabrik tekstil di Jawa Tengah kehilangan pekerjaan akibat menurunnya order. Angkanya akan lebih besar lagi bila dihitung seluruh Indonesia. Bisa jadi akan lebih mencemaskan kalau kita melihat data dari semua industri. Sungguh ini merupakan ancaman riil. Kita tak boleh terlena dengan menguatnya rupiah, meskipun hal itu juga penting. Kita tak akan cukup puas hanya dengan kestabilan moneter. Sektor riil dan khususnya yang bergerak di ekspor pada akhirnya yang paling menentukan.

- Perlu diteliti dengan lebih cermat apa penyebab semua ini tanpa harus saling menyalahkan. Yang paling tahu kondisi tiap-tiap bidang usaha adalah asosiasi. Sangat mungkin, kondisi setiap industri berbeda. Tantangan dan persaingan yang dihadapi industri tekstil tidak sama dengan industri elektronik. Demikian juga dengan yang lain. Maka sebaiknya para anggota asosiasi dan pemerintah duduk bersama membahas masalah ini untuk kemudian mencari jalan pemecahan. Kalau itu menyangkut kelemahan hukum dan peraturan, bagaimana segera diatasi. Sudah saatnya pemerintah dan pengusaha mencari jalan sinergis dan tidak saling mencuri kesempatan. Tetapi kalau masalahnya masih menyangkut kemahalan birokrasi karena banyak pungli dan lain-lain, itulah yang tidak mudah diatasi.

- Dalam bahasa ekonomi, persoalannya lebih mudah dirumuskan. Yakni menyangkut daya saing dan efisiensi. Bagaimana mungkin barang akan laku di pasar internasional, kalau harganya lebih tinggi. Karena itulah, tema besarnya tetaplah berupaya meningkatkan efisiensi. Sedangkan bagaimana efisiensi bisa meningkat itu memang tergantung pada banyak hal termasuk urusan birokrasi di samping kemampuan manajerial di dalam. Pendek kata persoalan serius ini tak bisa diselesaikan oleh pengusaha saja atau sebaliknya hanya oleh pemerintah. Pemerintah berkewajiban menciptakan situasi kondusif dengan peraturan yang memudahkan, biaya birokrasi murah, dan kepastian hukum. Tetapi sebaliknya pengusaha perlu terus memperbaiki kinerja profesionalnya. Efisiensi atau mati, adalah semboyan yang sudah lama diperdengarkan.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA