logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 9 Juli 2002 Surat Pembaca  
Line

Uang Bapak Tak Bisa Diminta Kembali

Pada 13 Mei, bapak saya diundang Citra Jaya, Plaza Simpang Lima (Matahari) Lt I Plaza Semarang. Beliau yang berusia 80 tahun datang sendiri tanpa sepengetahuan kami karena bekerja.

Sorenya bapak memamerkan jam tangan yang katanya hadiah dari suatu pertemuan. Ketika ditanya pertemuan apa, beliau menunjukkan amplop dengan kop Citra Jaya tersebut.

Setelah saya baca surat dalam amplop berisi surat perjanjian, bapak membeli sejumlah barang yaitu mineral pot 18 lt bio tech, magic power, toaster oven dan mixer, dengan total harga Rp 4.390.000.

Untuk itu bapak mendapat jam tangan sebagai hadiah cuma-cuma dan telah membayar uang muka Rp 300.000. Barang akan dikirim bila lunas. Tentu saja kami terkejut.

Hari itu juga pukul 19.30 saya bersama suami dan bapak, ke toko Citra Jaya ingin membatalkan perjanjian. Di toko diterima Herlina yang menemui bapak pagi harinya.

Tetapi untuk meminta kembali uang bapak, tidak dikabulkan dan hanya bisa kembali dalam bentuk barang. Kami tidak mau karena tak satu pun barang itu yang kami perlukan, termasuk jam tangan yang kemudian kami kembalikan.

Dalam pembicaraan, seorang rekan Herlina menyalahkan kami yang "melepas" orang tua pergi sendiri. Bahkan dia meminta surat keterangan dokter bahwa bapak saya pikun.

Kami mungkin memang tidak bisa menuntut karena dalam perjanjian tertulis uang muka yang telah diberikan tidak dapat dikembalikan/ditukar.

Tapi setidaknya melalui Surat Pembaca ini kami ingin mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dengan surat undangan yang sering dikirimkan ke alamat rumah dengan modus operandi menjanjikan hadiah cuma-cuma.

RB Mulyati
Jl Veteran 41, Semarang

***

Andakah Pemilik Buku dan Majalah

Pepatah menyebutkan belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air. Pepatah ini artinya pengenalan pendidikan di usia dini akan lebih mudah penyerapannya.

Berdasarkan realita di tengah masyarakat, dewasa ini banyak pengaruh perilaku pergaulan yang cenderung menyesatkan. Hal ini jika dibiarkan akan berdampak terhadap generasi muda.

Saya mengetuk hati pembaca, masih banyak adik kecil yang membutuhkan sumber pengetahuan Islami. Sementara mereka tidak mampu untuk memiliki.

Barangkali pembaca terketuk untuk membantu dengan menyumbangkan buku, bacaan Islami, ataupun majalah bernuansa Islam yang sudah tidak digunakan lagi.

W Istiqomah
Pagedangan Rt 1/Rw 4
Kec Ambal, Kebumen

***

Jaga Kebersihan

Setelah membaca tulisan di Suara Merdeka 6 Juni yang berjudul "Wuih, kotornya Kali Semarang", saya sebagai seorang siswa mendukung penuh kepada pihak-pihak yang menggerakkan aksi membersihkan lingkungan.

Di antaranya Bapak Wali Kota Semarang dan instansi terkait, LSM lingkungan hidup, kelompok pencinta alam, siswa SMU, serta pihak lainnya.

Kegiatan untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni 2002), sebaiknya terus digalakkan agar lingkungan di kota Semarang tidak menjadi kotor dan kumuh. Tidak ada lagi sampah berserakan di jalan.

Marilah kita menjaga keberhasilan lingkungan sehingga Semarang yang terkenal dengan Kota ATLAS-nya senantiasa bersih, asri dan nyaman untuk ditinggali dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

Cynthia
SMU Kebon Dalem Semarang

***

Aparatur Rembang

Formasi aparatur negara dalam situasi transisi bukanlah format yang monolitik seperti masa Orde Baru. Tetapi secara dinamis terus berubah-ubah dan membuat konsolidasi sosial ekonomi dan politik sukar konsisten.

Juga hilangnya atau berkurangnya privelege bagi eksekutif di daerah yang menjadikan superioritas atas DPRD tampaknya lebih tepat sebagai nostalgia.

Dengan demikian upaya meminang DPRD adalah cara atau metode yang mau tidak mau harus dilakukan, meski membayar mahal. Cuma masalahnya sampai seberapa penyelewengan itu bisa ditoleransi.

Bahkan tidak mungkin kalau nanti di Rembang antarelitenya terjadi seperahu tak sekayuhan. Bukankah kaidah integritas abdi rakyat harus menjadi standar, tidak justru memilin-milin, memelintir aturan.

Nantinya akan menjurus pelecehan etika dan hukum yang kalau tidak hati-hati bisa menggiring ke hotel prodeo (penjara) atau menjatuhkan kehormatan.

Upaya meminimalkan keterlibatan aparatus negara kepada kepentingan politik atau pribadi bisa jadi jalan keluar.

Dalam hal ini kesadaran politikus diperlukan untuk sepakat tidak terlibat jauh dan selanjutnya meningkatkan kualitas aparatus dengan memanfaatkan tenaga-tenaga karier yang terlatih.

Dengan batas-batas yurisdiksi yang telah ditetapkan secara spesifik, keterperosokan akan hal ini masih pada tataran lapis permukaan. Namun adalah sikap bijak jika sedini mungkin diantisipasi dan mawas diri.

Arif Suseno
Puri Selatan, Rembang

***

Kayu Jati Gelap

Saya selalu mengikuti berita kasus kayu jati gelap di Kendal baik melalui Suara Merdeka maupun media lain. Saat ini rasanya berita-berita tersebut mulai menurun dan kasusnya sepertinya akan berlalu begitu saja.

Karena menyangkut rasa keadilan, saya mohon Kapolres mengusut tuntas sampai di pengadilan. Jangan terkesan hukum hanya berlaku bagi rakyat kecil saja.

Mengingat kerusakan hutan jati di Kabupaten Kendal sudah sangat parah, kami mohon DPRD merealisasikan wacana pansus kayu jati gelap. Kepada Perhutani agar maju terus jangan takut teror gertak sambal.

Dan untuk wartawan serta LSM, tegakkan amar makruf nahi munkar, jangan takut teror dan ancaman, rakyat Kendal ada di belakang Anda.

Muhammad Jailani
Sijeruk, Kendal

***

Minum Gratis

Mencermati gambar orang yang sedang minum air kendi di halaman XIII, tanggal 30 Mei, saya mengucapkan salut kepada Sdr Suparman tinggal di Puspanjolo Selatan Semarang.

Beliau masih peduli dengan cara menyediakan minum gratis setiap hari sejak tahun 1992. Amalnya patut menjadi suri tauladan bagi kita semua.

Di zaman yang serba sulit seperti sekarang ini masih ada orang yang peduli kepada orang-orang kecil (abang becak dan pejalan kaki yang lewat).

Saya hanya ingin menyarankan kepada Sdr Suparman atau saudara yang lain, sebaiknya kendinya dicat warna putih.

Air kendi akan terasa lebih dingin mirip air es, jika dibanding dengan kendi yang tidak dicat putih sehingga terasa lebih segar. Selamat beramal.

Rustanto
Jl Penyu I/25
Ungaran-50511


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA