logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 9 Juli 2002 Sala  
Line

Penduduk Kota Mulai Kekurangan Air Bersih

MOBIL TANGKI: Droping air bersih pada musim kemarau ini sangat diharapkan warga. Ketua DPC PDI-P Boyolali Probo Suhartono saat menyumbangkan air bersih menggunakan mobil tangki di Kecamatan Musuk pada musim kemarau tahun lalu. (Foto:Suara Merdeka/shj)

BOYOLALI- Ratusan penduduk kota Boyolali kini mulai merasakan kekurangan air bersih. Air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang digunakan untuk kepentingan sehari-hari, terkadang tidak lancar. Karena itu, mereka berharap PDAM mengedrop air bersih bagi warga.

Beberapa warga yang kekurangan air antara lain berada di seputar Jalan Pandanaran, Desa Penggung, dan warga perumahan Bumi Singkil Permai (BSP), Desa Karanggeneng Kecamatan Boyolali. Air belum tentu setiap hari mengalir, terkadang oglangan.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari khususnya keperluan memasak, warga beramai-ramai mendatangi Umbul Tlatar, Desa Kebonbimo, yang jaraknya sekitar 5 km dari kota. Pagi hingga sore hari Umbul Tlatar dipadati warga. Bahkan untuk menghindari berebut air atau sumber air, mereka datang sehabis subuh.

Hardo (35), warga perumahan BSP mengatakan, kekurangan air bersih khususnya untuk keperluan memasak sebenarnya belum terlalu sulit. Meski air PDAM hanya mengalir pagi dan sore, untuk keperluan memasak masih cukup bahkan yang mempunyai tandon air tidak ada masalah.

Namun, kebutuhan warga yang mengandalkan bak kamar mandi untuk keperluan mencuci pakaian masih belum tercukupi, sehingga harus ke Umbul Tlatar. ''Kendati air PDAM lancar, mereka juga sudah terbiasa mencuci ke Umbul Tlatar. Hanya saja pada musim kemarau ini lebih banyak mencuci di umbul tersebut,'' tuturnya.

Lima Tangki

Kabag Sosial Drs Lastiyadi mengatakan, untuk setiap desa telah diputuskan mendapat bantuan 5 tangki yang berkapasitas 4.000-5.000 liter. Yang mendesak mendapat bantuan tersebut adalah 33 desa di Kecamatan Musuk, Juwangi, Wonosegori, dan Juwangi. Untuk Kecamatan Boyolali masih bisa diatasi dengan mengambil air di Umbul Tlatar yang jaraknya relatif dekat.

Pelaksanaan bantuan sangat tergantung kesiapan PDAM dan Dinas Pekerjaan Umum, Perhubungan dan Kebersihan (DPUPK) yang mempunyai mobil tangki. Dengan anggaran Rp 9 juta sebagaimana tercantum dalam APBD, diharapkan sudah cukup. Namun, jika dikelola pihak ketiga atau swasta, dana sebesar itu mungkin tidak mencukupi.

Organisasi kemasyarakatan dan dermawan diimbau untuk ikut peduli mengatasi kekeringan yang mulai dirasakan warga masyarakat. Sejauh ini belum ada satu pun organisasi kemasyarakatan atau pihak lain yang memberikan bantuan air bersih.

''Padahal tahun sebelumnya, begitu memasuki musim kemarau banyak yang mendaftar untuk memberikan bantuan,'' ungkapnya. (shj-70k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA