
| Selasa, 9 Juli 2002 | Olahraga |
Schumacher Butuh 17 Poin untuk Juara Dunia
KESUKSESAN Michael ''Schumi'' Schumacher meraih poin penuh pada Grand Prix (GP) Inggris di Sirkuit Silverstone, Minggu lalu, makin memperbesar peluang untuk mempertahankan mahkota juara dunia tiga kali berturut-turut, atau lima kali sepanjang kiprahnya di GP Formula 1 (F1). Dengan tambahan sepuluh angka, berarti Schumi sudah mengemas 86 poin. Pesaing terdekat yang juga rekan setimnya, Rubens Barrichello, baru mengumpulkan 32 poin, disusul Juan Pablo Montoya (31), Ralf Schumacher (30), dan David Coulthard (26). Dengan selisih angka 54 dari Rubinho (panggilan akrab Rubens), Schumi hanya butuh 17 poin untuk memastikan diri menjadi juara dunia kali kelima. Dia bakal menyamai Juan Manuel Fangio, pembalap Argentina yang mengoleksi gelar juara dunia lima kali selama karier di GP F1. Tambahan 17 angka itu bisa didapat Schumi dengan satu kali juara, sekali runner-up, dan sekali finis di tempat keenam. Atau dua kali runner-up, sekali di tempat ketiga, dan finis di posisi keenam satu kali. Apabila ini benar-benar terealisasi, nilai maksimal 103 tak mungkin terkejar siapa pun. Sebab, pembalap pemilik poin terdekat (Rubinho), jika keluar sebagai juara pada sisa seri nilai tertinggi hanya 102 poin. Usai balapan di Silverstone, hampir semua pengamat GP sudah meramalkan sulit bagi pembalap lain untuk menjegal Schumi menjadi juara dunia tahun ini. Agaknya bukan hal sulit bagi sang maestro yang berjuluk The Rain Man asal Jerman itu untuk meraup 17 poin. ''Dia memang pembalap hebat, dan lebih hebat jika turun pada lintasan basah,'' ungkap Rass Brown memuji pembalapnya. Tujuh Seri Balapan tahun ini masih tersisa tujuh seri yang bakal digelar di Prancis, Jerman, Hongaria, Belgia, Italia, AS, dan Jepang. Juan Pablo Montoya mengincar juara pada salah satu seri sisa tersebut. Bagi dia, hal itu merupakan target untuk meraih poin penuh pada salah satu GP tahun ini. ''Walau ada keajaiban, rasanya sulit mengalahkan pembalap sehebat Schumi,'' komentar Montoya seusai GP Inggris. ''Kami harus berpikir realistis, tak mungkin selalu tampil jadi juara pada tujuh seri terakhir.''
Sebenarnya Schumi tak perlu menunggu hingga tiga atau empat seri lagi untuk memastikan diri menjadi juara dunia. Sebab, pada seri kesebelas peluang pembalap Jerman berusia 33 tahun itu terbuka lebar. GP Prancis baru akan digelar di Sirkuit Magny Cours pada 21 Juli. Bila Schumi bisa tampil di posisi paling depan pada balapan selama 72 putaran itu, peluang untuk menjadi juara dunia lagi kian sulit teradang. Tahun lalu Schumi tampil sebagai juara di sirkuit ini. Bila juara di GP Prancis, nilai Schumi 96. Dia dipastikan menjadi juara, jika Barrichello hanya finis di tempat keempat, dengan perhitungan setelah ditambah tiga dari poinnya saat ini. Kemudian berturut-turut menjadi juara di enam seri terakhir nilai maksimalnya 95.
Di luar perhitungan secara matematis, sebenarnya peluang Ferrari dan Schumi untuk menjadi yang terbaik tahun ini paling terbuka. Tahun ini bisa disebut sebagai tahun dominasi Schumi. Dari sepuluh seri, Schumi sudah memenangi tujuh seri. Kehebatan Ferrari sangat sulit ditandingi, termasuk dua pesaingnya, Williams-BMW dan McLaren-Mercedes. (Aria Furisan-59t) | |||||