
| Selasa, 9 Juli 2002 | Berita Utama |
Delapan Hari di Tanah Suci (1)
Satu Pesawat dengan Rombongan Wapres
Selama delapan hari (26 Juni - 3 Juli 2002), wartawan Suara Merdeka Muhammad Ali mengikuti rombongan umrah dari penyelenggara perjalanan umrah dan haji plus Trimitra yang bekerja sama dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Laporan dari perjalanan spiritual itu diturunkan dalam tiga seri.
RASULULLAH Muhammad SAW pernah bersabda, "Tidak perlu mengumpulkan bekal kecuali untuk berkunjung ke tiga masjid, yakni Masjidil Haram (di Makah), masjidku (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjidil Aqsha (di Palestina)." Hadis Nabi inilah yang mendorong saya sebagai seorang muslim bercita-cita untuk dapat berziarah ke tiga masjid tersebut, terutama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, entah kapan waktunya. Saya katakan entah kapan, karena semuanya itu membutuhkan bekal dan biaya. Namun Tuhan sering memberi rezeki yang tidak disangka-sangka, Tuhan sering memberi peluang yang tak terduga, dan Tuhan sering memberi kesempatan kepada makhluk-Nya. Dan inilah yang saya alami. Di tengah-tengah keinginan yang kuat untuk bisa berziarah ke Baitullah (Makah) dan makam Nabi, tiba-tiba ada tawaran untuk mengikuti rombongan umrah atas kerja sama Suara Merdeka dengan Penyelenggara Perjalanan Umrah dan Haji Plus Trimitra - Garuda Indonesia. Saya hampir tidak percaya atas tawaran ini, karena sebelumnya memang tidak pernah terpikirkan. Dengan ucapan bismillah dan alhamdulillah, tawaran itu saya sanggupi, meski saya hanya punya waktu satu minggu untuk mempersiapkan segala persyaratannya, seperti pengurusan paspor dan visa. Pengurusan paspor dan visa semuanya lancar. Tanggl 26 Juni 2002 saya bertolak dari Tanah Air menuju Tanah Suci bersama rombongan yang berjumlah 70 orang. Sebagian di antara mereka adalah remaja dan anak-anak, karena ini memang paket umrah remaja/pelajar. Ikut dalam rombongan itu, Direktur Utama Trimitra Ali Munawar SE. Yang membanggakan, kami satu pesawat dengan rombongan Wakil Presiden Hamzah Haz saat terbang dari Cengkareng, Jakarta, menuju Jedah, dengan pesawat jenis Boeing 747 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Begitu pula saat pulang. Protokoler Wapres tidak begitu ketat, sehingga dalam penerbangan itu dia menyalami satu per satu semua penumpang pesawat, termasuk rombongan kami. Selain beribadah umrah, Wapres punya hajat menikahkan anaknya yang ketiga, Ayu Gusti Ningrum, yang dipersunting Musa Ichwansyah, anak pengusaha sukses asal Medan. Akad nikah dilaksanakan pada Jumat pagi (28 Juni 2002) di depan Kakbah (rukun Yamani). Ikut dalam rombongan Wapres yang berjumlah 85 orang itu, KH Maimun Zubair dari Sarang, Rembang, yang memberikan ceramah dalam perhelatan tersebut. Saat menjawab pertanyaan Suara Merdeka, Hamzah menjelaskan, menikahkan anaknya di Masjidil Haram karena pertimbangan ibadah. Sesuai dengan hadis Nabi, pahala ibadah di Masjidil Haram dilipatgandakan 100.000 kali dibandingkan dengan beribadah di masjid lainnya. Dia menyayangkan adanya suara-suara miring yang mempertanyakan pernikahan anaknya di Tanah Suci itu. "Kalau di Eropa atau Hong Kong, mungkin perlu dipertanyakan. Lha ini di Tanah Suci, kalau masih dipertanyakan, Islam apa itu?" katanya dengan nada kesal. Mual-mual Sayang, kami tak bisa mengikuti perhelatan pernikahan putri Wapres tersebut, karena sesampai di Bandara King Abdul Aziz, Jedah, rombongan Trimitra tidak langsung ke Makah sebagaimana rombongan Wapres, tetapi terlebih dulu berziarah ke Madinah. Kamis (27/6), pukul 17 waktu setempat (21 WIB), kami tiba di Madinah, setelah sehari sebelumnya transit di Hotel Kaki di Jedah. Jedah-Madinah ditempuh dengan satu jam penerbangan pesawat. Meski hanya sebentar, ini penerbangan yang memabukkan. Semua penumpang merasa mual-mual dan pusing kepala saat mendarat, setelah sebelumnya dibuat waswas oleh pesawat jenis Airbush tersebut. Jalannya pesawat itu seakan-akan tidak stabil, terkadang naik, terkadang turun dengan tajam, dan belok. Kami baru mafhum setelah Direktur Trimitra Surabaya Firman S menjelaskan tipografi Madinah. "Semua pasawat yang mendarat di bandara ini akan mengalami hal serupa. Mengapa? Sebab, letak bandara ini dikelilingi oleh pegunungan," katanya. Dua bus sudah menanti untuk mengantarkan kami ke Hotel Bahauddin, tempat kami menginap. Rasa letih belum hilang, walau telah istirahat sejenak. Namun hal itu tak membuat saya mengendurkan keinginan untuk segera ke Masjid Nabawi, yang letaknya sekitar 200 meter dari Hotel Bahauddin, untuk ikut jamaah salat magrib, berziarah ke makam Rasul, dan berdoa di Raudah (antara makam dan mimbar Nabi). Subhanallah, masyaallah, alhamdulillah, Allahu Akbar, shallahu ala Muhammad, assalamualaika ya nabiyallah, assalamualaika ya habibillah," demikian kata-kata yang terlontar dari bibir dan hati saya saat kali pertama melihat Masjid Nabawi. Saya tak bisa menyembunyikan rasa haru dan syukur saya. "Inilah Masjid Nabi yang selama ini hanya saya kenal lewat gambar," gumam saya. Saat saya tiba di pelataran masjid, panggilan salat magrib dikumandangkan. Sementara dalam masjid terlihat sudah penuh jamaah. Saya melihat ajaran dan akhlak Rasul tercermin di sini. Sebelum azan dikumandangkan, kaum muslim sudah berbondong-bondong menuju masjid. Toko-toko ditutup, dan semua aktivitas dihentikan. Itu juga terjadi saat salat fardu yang lain (isya, subuh, zuhur, dan asar). Pria dan wanita datang ke masjid dengan hati yang khsusyuk dan khudluk. Dari ribuan jamaah itu, 60% diperkirakan penduduk setempat dan 40% sisanya adalah para penjiarah yang datang dari berbagai penjuru dunia, baik bangsa yang berkulit putih, kuning, cokelat, maupun hitam. Saya juga menemukan banyak orang Indonesia di sini, baik yang telah lama menetap sebagai mukimin, bekerja sebagai TKI, maupun yang sedang menunaikan ibadah umrah sebagaimana rombongan kami. Nilai Ibadah Perjalanan ke Tanah Suci memang tidak bisa disamakan dengan plesir ke Eropa, misalnya. Ini berbeda dari perjalanan saya ke Belanda awal tahun 1997. Waktu itu hanya unsur rekreasi dan pengalaman yang saya dapatkan. Perjalanan ke Tanah Suci adalah perjalanan spiritual, perjalanan rohani, perjalanan napak tilas, dan perjalanan yang mempunyai nilai ibadah. Kalaupun ada unsur rekreatif, itu sampingan. Dikatakan napak tilas, karena rangkaian amalan umrah dan haji itu merefleksikan sejarah Nabi Ibrahim AS. Dalam Islam, umrah adalah ibadah, didasarkan atas sabda Nabi Muhammad. "Antara umrah yang satu dan umrah berikutnya adalah pelebur dosa." Hampir sama dengan ibadah haji, umrah juga ibadah yang bersifat fisik, seperti melakukan tawaf (mengelilingi Kakbah tujuh kali), melakukan sa'i (berjalan dan lari-lari kecil) antara bukit Safa dan bukit Marwa tujuh kali. Bedanya dari haji, umrah dapat dilakukan kapan saja, sedangkan haji waktunya ditentukan, yakni di bulan Dulhijjah. Perbedaan lainnya, dalam umrah tak dilakukan wukuf di Arafah dan melontar jumrah di Mina. Rombongan kami lebih memilih mengambil miqat di Bir Ali (12 km dari Madinah). Miqat adalah tempat yang ditentukan bagi orang yang ingin mengawali ibadah umrah atau haji. Di Bir Ali inilai kami memulai mengenakan pakaian ihram untuk menuju ke Masjidil Haram, guna melakukan tawaf, sa'i, dan kemudian tahallul yang ditandai dengan memotong rambut. Dengan tahallul, kami sudah bisa menanggalkan pakaian ihram, dan sudah terbebas dari pantangan-pantangan, seperti memakai wangi-wangian, memotong kuku, dan membunuh binatang. (29t) | |||||