logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 9 Juli 2002 Berita Utama  
Line

Belum Ada Indikasi Keterlibatan GAM

  • Seorang Tersangka Mengaku Wartawan

JAKARTA- Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Makbul Padmanagara menyatakan, sampai saat ini pihaknya belum menemukan adanya indikasi keterlibatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam kasus peledakan mercon besar (versi polisi bom) di Mal Graha Cijantung, 1 Juli lalu, meski semua pelaku yang tertangkap berasal dari Aceh.

"Belum tentu GAM terlibat, walau pelakunya dari Aceh. Ini semua masih dalam penyelidikan," kata Makbul kepada wartawan di Mapolda kemarin. Dia membantah pula keterlibatan anggota TNI dalam kasus ini.

"Polisi belum bisa menentukan siapa di balik pemboman. Meski pelakunya sudah terungkap, tapi belum semuanya tertangkap dan saat ini masih dalam pengejaran kepolisian".

Polisi telah menahan lima tersangka kasus peledakan bom.

Tiga di antaranya diidentifikasi sebagai pelaku, yaitu Syahrul, Hasan, dan Ali Muda. Bahkan Syahrul alias Sugeng yang ditangkap di Ciledug, Jumat lalu, mengaku wartawan tabloid wanita yang biasa meliput di Polda. Dia juga diidentifikasi terlibat dalam pelarian Ibrahim, pelaku pengeboman Gedung BEJ, 13 September 2000.

Kapolda mengakui hingga saat ini belum mengetahui motif dan aktor intelektual di belakangan kasus peledakan Graha Cijantung.

Oknum Wartawan

Sebagaimana kasus peledakan Gedung BEJ, kata Makbul, Polda hingga kini belum berhasil menangkap aktor intelektual serta beberapa tersangka lainnya, seperti Imam Samudra, Hambali, dan sebagainya.

Menurutnya, hingga saat ini belum banyak keterangan yang berhasil dikorek dari lima tersangka yang ditangkap. "Para tersangka tak banyak memberi keterangan kepada penyidik".

Soal senjata api yang disita, Kapolda menjelaskan, diakui maupun tidak, Polda menemukan senjata tersebut dari Syahrul. "Selain itu, kita masih melakukan penyelidikan terhadap sejumlah senjata api dan amunisi di rumah kontrakan di Cimanggis, Depok," katanya.

Khusus tersangka Syahrul, yang mengaku wartawan, Makbul mengatakan belum tahu pasti soal itu. "Kalau benar, itu namanya oknum dan bisa juga bekas wartawan. Mungkin hanya kebetulan. Yang jelas dia pelaku tindak pidana pengeboman. Kalau dibilang bom memang iya. Tapi saya melihatnya cuma mercon kapasitas besar".

Target Lain

Kasatserse Umum Ditserse Polda AKBP Erizman menambahkan, sasaran peledakan sebenarnya bukan hanya Mal Graha Cijantung atau tempat hiburan lainnya. Sebab berdasarkan hasil pemeriksaan para tersangka, ternyata Mapolda dan Mabes Polri pun dijadikan target.

Namun Erisman mengakui, kemungkinan itu hanya berdasar hasil pemeriksaan yang menyatakan Syahrul adalah seorang wartawan. Syahrul mengaku bekerja di Tabloid Nuansa, dan sering berada di lingkungan Polda maupun Mabes Polri. "Ia mengaku wartawan, dengan menunjukkan kartu pers dari Tabloid Nuansa dan mengaku sering ke Mapolda. Kalau bukan wartawan, ngapain di sini (Polda)? Bisa saja sasaran berikutnya Polda. (Bisa saja) Dia ke sini, lalu meletakan bom di pojok-pojok Mapolda," kata Erizman.

Tidak hanya itu. Berdasarkan keterangan sejumlah tersangka, terungkap beberapa rencana aksi peledakan lainnya. Setelah peledakan Graha Cijantung, aksi serupa juga akan dilakukan di pusat pertokoan Roxy, Jakarta Pusat, serta Pelabuhan Merak.

Sementara itu, beberapa wartawan yang dikonfirmasi banyak yang mengaku tidak mengenal Syahrul. Mereka mengatakan tak pernah melihat Syahrul terlibat aktif dalam berbagai kegiatan peliputan di lingkungan Mapolda.

Syahrul Aryady alias Sugeng ditangkap Jumat lalu di rumahnya, Jalan Makarta V, Blok A 18/10 Pondok Kacang, Cileduk. Dari tangannya disita kartu identitas wartawan No. B 112860021, atas nama Drs S Aryady.

Yang aneh, identitas itu berlaku mulai 18 November 2002 sampai 18 Maret 2005. Barang bukti lain yang disita dari tangan Syahrul adalahsenjata api revolver laras panjang, dengan 12 butir peluru.

Seperti diketahui, polisi berhasil menangkap enam laki-laki asal Aceh Timur di kawasan Bogor, dengan tuduhan terlibat peledakan Graha Cijantung. Polisi juga menyita sejumlah bahan peledak, senjata api, dan peralatan militer di sebuah rumah kontrakan mereka di kawasan Tapos, Cimanggis, Kota Depok.

Sejauh ini, polisi yakin mereka berkaitan dengan empat pengeboman di Jakarta beberapa waktu lalu. Seperti Diskotik Eksotis, Hotel Jayakarta, Sarinah, dan Diskotik Seribu Satu.(bu-48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA