logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 9 Juli 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Masih Ada Oknum Polisi Suka Menjebak

SEMARANG- Seorang pengendara motor protes lantaran tiba-tiba dicegat di tengah jalan oleh seorang polisi lalu lintas. ''Salah saya apa, Pak?'' tanya pengendara itu, sebut saja Parjo (bukan nama sebenarnya-Red).

''Bapak melanggar lampu pengatur jalan. Lampu menyala merah, tapi Bapak tidak berhenti,'' ungkap polisi itu memberi penjelasan.

Pengendara sekali lagi protes dan menolak ditilang. Pasalnya, ujar pengendara itu, tidak jauh di depannya seorang anggota polisi yang mengendarai motor juga menerobos rambu-rambu itu.

''Mengapa hanya saya yang ditilang, sedangkan polisi itu tidak?''

Polisi sepertinya tidak merespons protes pengendara motor itu. Surat tilang pun tetap diberikan kepada Parjo. Sanksi kepada oknum polisi yang sama-sama melanggar, tidak ada kejelasan.

Kejadian itu mungkin pernah Anda alami. Bahkan, bisa jadi tidak hanya melanggar lampu pengatur jalan tetapi juga rambu-rambu lain. Masalah-masalah demikian bila tidak segera ditangani dikhawatirkan akan memperburuk citra polisi.

Untuk mengetahui langsung berbagai masalah dan keluhan yang muncul di lapangan, Minggu malam lalu jajaran Ditlantas Polda Jateng bekerja sama dengan Radio Rasika FM menggelar dialog interaktif di Ruang Poncowati Hotel Patra Jasa.

''Kegiatan itu perlu dilakukan karena saya bisa tahu langsung kondisi di lapangan. Sebab, jika melalui laporan para Kasat Lantas yang muncul hanya yang baik-baik saja,'' tutur Kadit Lantas Kombes Drs Edy Prawoto.

Bisa ditebak, bagaimana bila jajaran polisi lalu lintas dipertemukan langsung dengan masyarakat untuk membicarakan berbagai masalah lalu lintas yang kerap terjadi. Sejumlah penanya hampir semua menyudutkan polisi, antara lain ada yang mengeluhkan ada oknum polisi yang masih suka menjebak di jalan.

''Dari 1991 sampai sekarang sudah sembilan kali kena tilang. Kesalahan saya sepele, melanggar rambu yang terpasang di jalan. Bukannya sengaja, melainkan karena saya benar-benar tidak tahu,'' ungkap Alamsyah, seorang peserta dialog interaktif.

Seorang peserta lain malah ada yang mengeluhkan, ada oknum polisi yang lebih suka mengurusi truk yang tertangkap karena melanggar rambu. Padahal tak jauh dari tempat polisi itu bertugas, arus lalu lintas sedang tersendat. Selain itu, ada oknum polisi yang cuek melihat kendaraan parkir di kawasan larangan.

Edy Prawoto mengakui satu dari tiga anggotanya yang bertugas di lapangan ada satu yang nakal. Karena itu, untuk proses perbaikan ke depan perlu masukan masyarakat.

Dia mengemukakan, dalam hal penegakan hukum sampai sekarang masih ada perbedaan persepsi antara polisi dan masyarakat. Misalnya adanya larangan motor dinaiki tiga orang. ''Ketika kami menanyakan mengapa motor dinaiki tiga orang, apa jawaban mereka? Maaf Pak, jika dinaiki empat orang tidak cukup,'' tutur Edy disambut tawa peserta.

Bila mereka ditilang pasti akan nggedumel. Padahal, mereka jelas-jelas salah. Karena itu, ucap Kadit Lantas, untuk menyosialisasikan hukum perlu bantuan semua pihak terutama media massa. Jangan sampai bila nanti hukum benar-benar ditegakkan, masyarakat belum siap.(D7-73j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA