
| Selasa, 9 Juli 2002 | Semarang & Sekitarnya |
6.385 Siswa Harus Sekolah di Swasta
SEMARANG - Seorang ibu tak mampu menyembunyikan kebahagiaan manakala melihat nomor tes sang anak terpampang di papan pengumuman SLTP 2. Tanpa malu-malu wanita paro baya itu berkali-kali menciumi pipi anaknya yang tambun. ''Selamat ya. Kamu memang hebat. Ayo ke mal tak belikan sepatu, tas, dan baju baru,'' kata sang ibu. Namun kemarin tidak semua orang tua siswa bahagia. Seorang bapak berkali-kali meneliti satu per satu daftar nomor tes yang dipajang di halaman SLTP 1. Dia seakan tak percaya anaknya tak lolos seleksi. Dia mengangkat telepon genggam yang berdering di saku. ''Halo, Ma. Anak kita nggak diterima. Terpaksa ya sekolah di swasta,'' kata dia dengan wajah sendu. Memang ada pula orang tua yang tidak bisa menerima sang anak gagal mengikuti seleksi. ''Anak saya pandai. Nilainya rata-rata sembilan lebih. Ini pasti ada permainan,'' kata dia berapi-api. Sedikitnya ada dua orang tua siswa marah-marah di SLTP 1. Mereka tak bisa menerima sistem tes yang dianggap merugikan dan tidak adil. ''Sejak kelas IV anak saya selalu masuk lima besar. SD-nya juga favorit. Sistem penerimaan siswa baru ini tidak fair (adil-Red). Karena, hanya mengandalkan hasil tes,'' kata dia, dengan nada marah. Senin (8/7) kemarin adalah hari bahagia bagi 10.191 siswa yang lolos seleksi SLTP negeri. Namun 6.385 siswa lainnya gagal dan harus bersekolah di sekolah swasta. Tidak Ngotot ''Kalau saya tidak perlu ngotot. Buat apa sih?. Kalau memang anak saya tidak mampu dan kalah bersaing, ya harus saya terima apa adanya. Banyak sekolah swasta lebih bagus daripada negeri,'' kata Edy, warga Pedurungan yang anaknya gagal bersekolah di SLTP 4. Tidak semua orang tua mau menerima kenyataan sang anak gagal tes. Banyak yang menempuh jalur belakang. Walau, para guru meyakinkan apa yang terpampang di papan pengumuman itu hasil final. Bahkan untuk menghindari lobi para orang tua, banyak kepala sekolah meninggalkan kantor sekaligus mematikan telepon genggam. Ketua PSB SLTP 3 Drs Tasudi menyatakan orang tua segera mengambil berkas untuk mendaftarkan anak di sekolah swasta. Namun sebagian besar siswa yang lolos seleksi sudah mengambil berkas daftar ulang. ''Sebetulnya berkas daftar ulang tak harus diambil dan diisi hari ini. Namun untuk membantu para orang tua, kami tetap menyediakan waktu. Walau mengembalikan tetap besok.'' Beberapa orang tua siswa yang tak lolos seleksi mempertanyakan penambahan nilai tes dengan piagam penghargaan. ''Apa benar piagam anak-anak yang diterima itu asli?'' kata salah seorang orang tua siswa curiga. Kepala SLTP 9 Dra Umi Kulsum menyatakan setiap sekolah selalu mengecek kebenaran dan keabsahan piagam calon siswa. ''Walau piagam itu ditandatangani kepala SD asal dan Kadinas Pendidikan, sekolah tetap menguji siswa penerima piagam."(D6-71g) | |||||