
| Selasa, 9 Juli 2002 | Ekonomi |
Orang Indonesia Kurang Hargai Produk Sendiri
SEMARANG- Orang Indonesia kurang menghargai produk sendiri dan lebih suka menggunakan produk luar. Akibatnya, produk dalam negeri yang sebenarnya sangat berpotensi tidak ditangani secara baik sehingga terbengkalai dan kalah bersaing. ''Kita lebih suka berobat ke luar negeri, padahal di Indonesia sudah cukup banyak dokter berkualitas. Kita juga lebih percaya pada obat-obatan impor, padahal jamu tak kalah berkhasiat dan banyak diminati orang luar,'' ungkap Rhenald Kasali, kemarin. Dia mengemukakan hal itu di sela-sela kunjungannya ke pabrik jamu PT Sido Muncul di Bergas, Klepu, Kabupaten Semarang. Pakar pemasaran itu datang bersama petenis Wynne Prakusya dan artis Sophia Latjuba didampingi Direktur Utama Irwan Hidayat. Wynne menjadi bintang iklan baru untuk produk jamu Tolak Angin. Iklan berdurasi 15 detik tersebut dibuat dalam versi bahasa Indonesia dan Mandarin. Sementara itu, Sophia baru-baru ini meneken kontrak iklan eksklusif dengan perusahaan jamu tersebut. Rhenald menjelaskan, sumber daya alam Indonesia sangat melimpah namun belum diberdayakan sepenuhnya. Bahkan, Cina yang sangat terkenal ramuan jamu tradisionalnya mengimpor 50-60% bahan baku dari Indonesia. Bila budaya bisnis kita terlalu pasrah seperti itu, lanjut dia, Indonesia akan tersingkir dalam persaingan bebas AFTA 2003 yang sudah makin dekat. Seharusnya mulai sekarang kita memperkuat local brand dan mengembangkan secara profesional. ''Saya prihatin, banyak orang Indonesia kurang mengenal atau menghindari jamu lantaran dianggap tidak modern. Padahal orang Amerika dan Eropa kini mulai beralih pada produk herbal atau jamu-jamuan untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran.'' Pariwisata Potensi besar lain yang perlu segera mendapat pembenahan untuk mendongkrak daya saing adalah sektor pariwisata. Kunci keberhasilan sektor itu sebenarnya bukan terletak pada promosi, melainkan justru pembenahan produknya. Dia mengemukakan, banyak kendala yang dihadapi dunia pawisata di Indonesia sehingga kurang berkembang. Antara lain masalah keamanan dan kenyamanan lokasi wisata sehingga banyak turis asing enggan kembali lantaran merasa waswas dan tidak nyaman. ''Kita tidak perlu mempromosikan secara besar-besaran lantaran justru pemborosan. Bila lingkungan mendukung dan kondusif, maka turis asing pasti senang dan dengan sendirinya akan mempromosikan produk pariwisata kita ketika kembali ke negaranya.'' Selain itu, lanjut dia, pariwisata sebaiknya tidak dikelola secara birokratis, tetapi lebih baik dikembangkan secara bisnis sehingga melibatkan sektor swasta dalam pengelolaannya agar lebih profesional.(D18-53j) | |||||