
| Selasa, 9 Juli 2002 | Jawa Tengah - Pantura |
PA Darul Aitem Sekolahkan Santri dari Zakat
ZAKAT apabila dikoordinasi dengan baik ternyata menghasilkan harta yang besar. Seperti dilakukan Panti Asuhan Putra-putri Darul Aitem Simbang Kulon, Pekalongan. Hingga kini panti asuhan yang berdiri sejak 1989 dapat mengandalkan kehidupannya dari zakat baik mal maupun fitrah. ''Untuk dapat menghidupi seratus lima santri yang terdiri atas anak yatim kami hanya mengandalkan zakat, sedangkan bantuan lain merupakan tambahan seperti bantuan Yayasan Dharmais yang setiap bulan membantu uang Rp 1,25 juta,'' ungkap H Mirza, Ketua Yayasan Al Maktab yang memiliki Panti Asuhan Darul Aitem. Bahkan dengan zakat, para santri yang dididik dalam panti asuhannya dapat sekolah dengan biaya dari yayasan. ''Untuk kebutuhan makan dan sekolah, setiap bulan kami memerlukan dana Rp 10 juta.'' Kebutuhan Rp 10 juta itu tidak berlaku untuk setiap tahun pelajaran baru. ''Untuk tahun pelajaran baru kami selalu memerlukan dana lebih tinggi untuk membayar uang pembangunan, mulai TK sampai MA. Dalam tahun pelajaran ini yayasan memerlukan sekitar Rp 15 juta.'' Dia mengakui penarikan zakat itu hanya diberlakukan untuk masyarakat di Simbang Kulon yang dinilai sebagai aghnia' (golongan mampu). Bila tidak Lebaran, yayasan itu mengandalkan zakat mal. Pada saat Lebaran, yayasan tersebut mengandalkan zakat fitrah. Meski demikian, bukan berarti bantuan lain tertutup. ''Yayasan Al Maktab tetap mengharapkan bantuan para dermawan. Apalagi saat ini tahun pelajaran baru yang akan menerima santri dan memindahkan sekolah para santrinya ke tingkat lebih atas.'' Dia mengaku senang dengan perhatian Polsek Buaran yang dalam peringatan HUT Ke-56 Bhayangkara tahun ini memberikan bantuan bagi yayasannya berupa beras tiga kuintal dan pemberian SIM C untuk dua santrinya yang dapat mengendarai motor. Dua SIM itu diterima Nurhayati dan Zaenal Arifin. ''Bantuan itu sangat berharga bagi kami, apalagi yang memberi adalah polisi,'' ujarnya saat menerima bantuan di Yayasannya Desa Simbang Kulon. Bantuan tersebut diserahkan Kapolsek Buaran Ipda Sumarjo didampingi beberapa anggota serta bhayangkari. Di yayasan itu, Kapolsek memotong tumpeng sebagai kegiatan memperingati HUT Ke-56 Bhayangkara. Potongan tumpeng itu kemudian diserahkan kepada santri terkecil, Nurul. Seusai potong tumpeng dilanjutkan makan bersama dengan seluruh santri. Hanya sayang, saat itu beberapa santri tak ada di panti dan sedang pulang lantaran sekolahnya libur. Pengurus yayasan pun mengizinkan agar mereka bertemu dengan keluarga untuk beberapa hari. Panti Asuhan Putra-putri Darul Aitem Simbang Kulon, ungkap Mirza, berdiri pada 1989 dan didukung keluarganya. Setiap hari selain anak-anak panti asuhan itu belajar ke sekolah umum seperti MI, MTs, dan MA juga wajib menjadi santri. Ditekankan Mengaji Setiap pagi dan sore sebelum masuk sekolah mereka wajib mengaji kitab Alquran dan kitab kuning. ''Justru mengaji itulah yang ditekankan menjadi kewajiban sehari-hari.'' Dia mengatakan, mengingat pengelolaan panti asuhan itu berat berkaitan dengan pembiayaan maka para santri yang masuk diseleksi sangat ketat. Mereka harus benar-benar anak yatim atau yatim piatu dari duafa (kurang mampu). Itu diperlukan, sebab mereka akan dibiayai gratis oleh yayasan baik untuk keperluan makan, mengaji maupun sekolah mulai dari MI hingga MA. Berkaitan dengan pembiayaan itu, setiap tahun yayasan membatasi santrinya untuk masuk ke panti. Namun, bila hanya menjadi santri untuk mengaji saja dibebaskan dan setiap hari setiap pengajian diikuti sekitar 300 santri termasuk santri dari panti asuhannya. Hingga kini pihaknya sudah meluluskan 12 orang yang hafal Alquran, lulus MA 28 orang, MTs 60 orang, dan MI ratusan orang. Mudah-mudahan kini banyak dermawan yang perhatian ke panti asuhannya dengan menyumbangkan harta untuk kepentingan anak yatim, sehingga dalam satu tahun ke depan dapat menerima anak yatim lebih banyak lagi.(Trias Purwadi-42j) | |||||