logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 9 Juli 2002 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Batu Akik Karya Slamet Tembus Mancanegara

PENGRAJIN AKIK: Slamet, warga Kampung Tosari, Jaraksari, Wonosobo bekerja membuat batu akik. Karyanya banyak diminati pedagang India dan Pakistan. Banyak pula wisatawan yang membeli produknya sebagai cenderamata saat berkunjung ke Dieng dan Wonosobo.(Foto:Suara Merdeka/P55-17j)

Percikan bunga api sesekali terlihat ketika pecahan batu akik (batu aji) beradu dengan gerenda yang diputar manual oleh pengrajin Slamet (52), warga Kampung Tosari, Kelurahan Jaraksari, Wonosobo. Bebatuan bahan akik itu ternyata cukup keras, sehingga ketika digesek dengan gerenda menimbulkan percikan api.

Menjadi pengrajin batu akik sudah ditekuni Slamet hampir 20 tahun. Selama ini, dia membuat akik secara manual. Kegiatan itu dilakukan di halaman rumahnya secara terbuka sehingga acapkali menjadi perhatian dan ditonton anak-anak atau tetangganya.

Dalam 20 tahun menggeluti dunia perakikan, tak terhitung lagi hasil karyanya. Telah ribuan batu akiknya menyebar ke berbagai kota di Jawa, bahkan ke mancanegara. Sebagian lain, banyak yang dikoleksi para kolektor akik yang datang ke rumahnya.

Slamet yang lahir di desa terpencil di Purbalingga menuturkan, selain dikoleksi penggemar biasa, batu akik yang diproduksi juga banyak dipesan pedagang dari Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan Jatim. Justru berkat pedagang itu, terutama pedagang Jakarta, batu akik karya Slamet banyak digemari pedagang batu dari India dan Pakistan.

Selain India dan Pakistan, batu akik karyanya juga sering menjadi barang cenderamata wisatawan mancanegara yang banyak berkunjung ke Wonosobo dan Dieng. Ada pemandu wisata yang menyediakan cenderamata berupa batu akik karya Slamet.

Keistimewaan atau keunggulan batu akik Slamet terletak pada saat menggerenda/mengolah atau membentuknya. Dia memanfaatkan air yang mengucur/mengalir terus-menerus ke arah batu gerenda yang berputar, sehingga warna akik yang dihasilkan tetap cemerlang dan tidak pudar.

"Bila waktu membentuk batu akik tidak dikucuri air yang mengalir, maka batu akan menjadi panas. Hal itu menyebabkan warna batu memudar."

Berburu Bahan

Tentang bahan, Slamet tidak pernah kekurangan. Di dalam rumahnya tersimpan bermacam batu akik. Bahan tersebut diperoleh dengan membeli atau berburu batu akik ke berbagai sungai di Purbalingga seperti Sungai Klawing, Kali Tambra, dan puluhan sungai lain.

Slamet menilai, bebatuan di berbagai sungai di Purbalingga merupakan bahan baku batu akik yang paling bagus di Jateng. Jenis bebatuannya, antara lain batu nagasui, yahman, dan pancawarna.

Dia mengungkapkan, di antara bermacam hasil karyanya yang diminati pembeli adalah batu akik jenis pancawarna, im-yang, tapak jalak, puser/lorek, dan batu bergambar.

Mengenai harga, Slamet tidak pernah menetapkan harga terlalu tinggi. Kini, harga akik berkisar Rp 7.500 - Rp 15.000/buah. Meski demikian, untuk batu akik yang istimewa harga bisa Rp 75.000 lebih. Dalam sehari, Slamet bisa menyelesaikan lima buah batu akik.

Soal penghasilannya sebagai perajin batu akik, dia yang telah mempunyai satu cucu itu menyatakan masalah rezeki sudah diatur Allah SWT. Dengan keyakinan itu, Slamet tak mau terlalu ngoyo.

Kendati penghasilannya tidak besar, Allah Mahaadil. Dia yang dibantu istrinya yang bekerja sebagai penjahit, sampai sekarang tetap bisa bertahan. Bahkan dari tiga anaknya, kini yang sulung sudah berkeluarga, nomor dua masih kuliah, dan si bungsu masih di SD.

Soal kelangsungan sebagai perajin, Slamet menyatakan hingga sekarang dia masih ingin menekuni dan tetap bertahan. Dia mengakui sekarang jumlah perajin batu akik di Wonosobo terus menyusut. Kini jumlahnya kurang dari lima orang yang masih bertahan di daerah pegunungan itu.(Sudarman-17j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA