
| Selasa, 9 Juli 2002 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Dibuka Pendaftaran SLTPN Gelombang II
MAGELANG - Memasuki pendaftaran siswa baru (PSB) gelombang kedua SLTP negeri di Kota Magelang yang dibuka hari ini, Selasa (9/7) dan ditutup Rabu (10/7) besok pagi, Sekretaris Dewan Pendidikan Tri Widodo SPd meminta, para orang tua berpikir realistis. "Semua jangan ingin masuk sekolah negeri, tapi siap-siap memilih sekolah swasta," katanya, kemarin. Pertimbangannya, tambah Sekretaris PGRI Kota Magelang itu, sekitar 800 calon siswa SLTP negeri yang tidak diterima pada gelombang pertama, dipastikan akan mendaftar pada gelombang kedua. Padahal, sisa bangku di 4 SLTP Negeri hanya 314 kursi. Perinciannya, SLTP Negeri 9 kurang 49 kursi, SLTP 11 kurang 107, SLTP 12 kurang 4, dan SLTP Negeri 13 kurang 154 kursi. Melihat data itu, yang harus lari ke SLTP swasta sekitar 486 anak. Sebaiknya, mulai hari ini mereka memilih sekolah swasta yang diminati. Tri mengemukakan, beberapa sekolah swasta masih kekurangan siswa. Antara lain, SLTP Taman Dewasa, SLTP Muhammadiyah, SLTP Pantekosta, dan beberapa sekolah lain. Jika calon siswa dan orang tua tidak pilih-pilih, dipastikan semua bisa ditampung. Pemerataan Mutu Dia menerangkan, daya tampung 13 SLTP negeri di Kota Magelang 2.622 siswa. Padahal, yang mendaftar 3.500 lebih lulusan SD, baik dari dalam maupun luar kota. Pendataan oleh Dewan Pendidikan pada pendaftaran gelombang pertama, kata Tri Widodo yang juga Kepala SD Rejowinangun Selatan I, siswa dari luar kota yang diterima pada 13 SLTP berjumlah 1.267 orang, mayoritas dari Kabupaten Magelang. Sebaliknya, lulusan SD di Kota Magelang yang diterima jauh lebih banyak, yaitu 1.848 anak. Dia menampik pendapat yang mengatakan kualitas calon siswa yang tidak lulus tes gelombang pertama rendah. Dia berpendapat, tes itu bersifat untung-untungan. Bisa saja hasil ujian jelek, tapi tesnya lulus. Namun, bisa pula sebaliknya. Dengan dasar itu, Tri memperkirakan, empat SLTP negeri yang masih kekurangan murid, nanti akan mendapat siswa-siswa berkualitas. "Hasilnya di masa datang akan lebih baik, karena akan terjadi pemerataan mutu pendidikan. Dengan begitu, tidak akan ada lagi sekolah favorit dan nonfavorit." (P60-70e) |