logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 9 Juli 2002 Jawa Tengah - Muria  
Line

Ingin Naik Haji, Amalkan Manakib Jawahirul Maani

DAFTARKAN UANG: Sebagian umat Islam sedang mendaftarkan uangnya untuk program asma'arto di lapangan Simpangtujuh, Kudus, belum lama ini. (Foto: Suara Merdeka/P7-15)

AMALAN pembacaan manakib Syekh Abdul Qodir Jailani bagi warga ahlussunnah wal jamaah diyakini sebagai wasilah untuk mencapai tujuan secara spiritual (batiniah). Di pedesaan sudah merupakan ritual rutin selain membaca Al Barzanji. Terutama diamalkan lewat anggota Tarekat Qadiriyah yang dikenal taat prinsip syariat. Tarekat ini didirikan para putra dan murid sepeninggal Syekh Abdul Qodir Jailani yang wafat pada 11 Rabiul Akhir 561 H (1166 M) dalam usia 91 tahun. Syekh Abdul Qodir Jaelani adalah wali dari Baghdad (rahimahullah) di dunia muslim.

Salah satu komunitas terorganisasi yang melakukan amalan manakib adalah Jamiah Manakib Jawahirul Maani di Pasuruan Jawa Timur dan sudah memiliki cabang secara nasional. Sabtu (22/6) cabang Kudus mengadakan pengajian Maulid Nabi dan Haul Syekh Abdul Qodir Jaelani dan Ijazah Kubro serta Asma Arto. Banyak yang belum tahu bahwa dengan mengamalkan manakib secara teratur merupakan salah satu kiat rohaniah untuk memperlancar rezeki. Tentu harus dibarengi usaha.

Keyakinan manfaat besar bagi pengamal manakib itu diungkapkan oleh Syekh Ahmad Jauhari saat memberikan mauidhoh dan ijazah kubro Jawahirul Ma'ani serta asmo arto se-Jawa di Simpangtujuh, Kudus, Sabtu (29/6).

''Jika tidak mampu menunaikan ibadah haji lantaran tidak ada biaya, amalkan Jawahirul Maani secara teratur. Insya Allah, rezeki akan mengalir dan keinginan melaksanakan ibadah haji tercapai. Saya sudah menunaikan haji lima kali karena rajin membaca manakib.''

Paling sedikit dibaca 11 kali dan diadakan setiap tanggal 11 tiap bulan diikuti selamatan. Sebagian nasi selamatan dinikmati keluarga dan dibagikan kepada tetangga. ''Insya Allah nanti rezeki akan mengalir dari Allah. Jika belum ada rezeki, pembacaan manakib harus terus dilakukan di samping selamatan bubur abang satu kilogram. Bubur juga dibagikan kepada tetangga.''

Syekh Jauhari Ummar bisa pergi haji lima kali setelah mengamalkan manakib 13 tahun lebih. Selain itu bisa membangunkan rumah putra-putranya dan semua sudah menunaikan haji. Menunaikan ibadah haji bagi umat Islam sesuatu yang mendesak segera dilaksanakan sebagai pelaksanaan rukun Islam kelima. Banyak yang terpaksa menunda pelaksanaannya, karena butuh dana besar sekitar 2.850 dolar AS (2003). Suatu jumlah yang tidak kecil bagi sebagian umat Islam yang bukan aghniya (mampu).

Ditemui Syeh

Manakib Jawahirul Maani dikembangkan oleh Syekh Ahmad Jauhari Umar dari Pasuruan, Jawa Timur sekitar 1990. Hal itu dilakukan setelah menjalani pengalaman spiritual ditemui Syekh Abdul Qodir Jaelani. Sekarang anggota tersebar secara nasional. Siapa Syekh Abdul Qodir Jaelani? Beliau lahir di Naif, Jailan, Irak pada Ramadan 470 H (1077 M). Beliau diyakini sebagai wali istimewa yang dikarunia kesucian dan berbagai karamah (kehormatan dan kemuliaan) oleh Allah. Dia mendapat julukan Ghauts Al Azam Muhyiddin Sayid Abdul Qodir Jailani bin Abu Shalih. Dalam terminologi kaum sufi, wali ghauts menduduki jenjang rohaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan Allah bagi umat manusia setelah para Nabi.

Ayah beliau keturunan Imam Hasan Ra, putra sulung Imam Ali Ra dan Fatimah Ra (putri tercinta Rasul). Ibunya putri seorang wali, Abdullah Saumi, keturunan Imam Husin,putra kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian beliau Hasani sekaligus Huseni.

Dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi dan Haul Syekh Abdul Qodir Jaelani dan ijazah kubro serta asma arto (uang agar berkah) di Kudus, ungkap Sekretaris Panitia Noor Rois, juga dihadiri sekitar 250 kiai khos se-Jawa yang mengadakan istighotsah di pendapa kabupaten. (HM Soleh AK-58j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA