logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 6 Juli 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

SDN Salatiga 5 Urung Dibubarkan

  • Lulusannya Terampil Tabuh Gamelan
TAK JADI BUBAR: SD Negeri 5 Salatiga atau SD ''njeglong'' tak jadi dibubarkan. Sebab, jumlah muridnya masih banyak. Sekarang ini sedang membangun gapura yang menghabiskan dana sekitar Rp 2,1 juta.(Foto: Suara Merdeka/A2-76)

PARA guru dan wali murid SD Negeri 5 Salatiga, akhir Mei 2002 lalu kaget ketika Wali Kota H Totok Mintarto melemparkan wacana pembubaran sekolah di Jalan Kartini itu. Menurut rencana, bangunan itu akan dipergunakan untuk kantor bersama partai politik yang mempunyai wakil di DPRD.

Mengapa kaget? Kata Kepala Sekolah Ny Sutiyem (53), jumlah murid dan prestasinya selama ini cukup baik.

''Karena itulah, kami langsung klarifikasi ke Pak Wali. Beliau mengatakan, rencana pembubaran tersebut sekadar wacana. Kalau sempat menimbulkan masalah, beliau minta maaf,'' kata Sutiyem kepada Suara Merdeka di rumahnya, Jumat (5/7).

Sekarang jumlah murid mulai kelas II hingga V sebanyak 154 anak dengan tenaga pengajar 11 orang. Rencananya pada tahun pelajaran 2002/2003 ini lembaga yang dipimpinnya akan menampung 40 murid kelas I. Tapi karena tiga anak tidak naik kelas, kelas itu hanya menerima 37 murid baru.

''Ternyata hingga hari ini pendaftarnya masih sedikit. Atas izin Kepala Dinas Pendidikan, kami diperbolehkan menerima pendaftaran sampai 10 Juli mendatang,'' lanjut penerima Satya Lencana Karya Satya 30 tahun tersebut.

Prestasi

Dari segi prestasi, SD Salatiga 5 sebenarnya tak kalah dari 84 SD negeri lain di Salatiga. Tahun pelajaran 2000/2001, muridnya berhasil masuk tiga besar sebagai siswa teladan. Selain itu, juara badminton, karawitan, dan macapat tingkat Karesidenan Semarang.

''Pelajar kami juga rutin mengikuti lomba yang diselenggarakan lembaga pendidikan di Salatiga dan lomba dalam peringatan Hardiknas,'' ujar pengurus Kwarcab Salatiga tersebut.

Muridnya meraih prestasi lewat macapat karena mendapatkan diajari menambuh gamelan dan tembang-tembang Jawa.

Harap diketahui, SD Salatiga 5 merupakan salah satu SD yang membekali muridnya dengan keterampilan memukul gamelan berlaras slendro dan pelog.

Latihan dilakukan Sabtu pukul 10.00-12.00. Mereka diasuh penjaga SD, Tukimin. Pelatih itu pernah kursus gamelan hingga tingkat Provinsi Jateng. Adapaun macapat diajarkan oleh Ny Sutiyem.

Walaupun mampu mengajari muridnya nembang macapat, Sutiyem tak mau disebut pesinden.

''Saya hanya nguri-uri kebudayaan Jawa,'' kata pemegang ijazah diploma 3 Universitas Terbuka itu.

Yang diajarkan kepada muridnya tak hanya lagu yang nadanya sudah pakem. Ny Sutiyem mengubah sendiri dengan nada yang berbeda-beda.

''Kalau anak diminta nembang pocung, misalnya, nadanya tak hanya seperti yang terdapat dalam buku. Murid kami sudah mampu menyanyikan dalam laras slendro dan pelog,'' kata mantan YMT Kepala Dinas Pendidikan Cabang Sidorejo tahun 2000 itu. (Dwi Pamuji Sulistyanto-76c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA