logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 5 Juli 2002 Berita Utama  
Line

Jateng Menghadapi STQ Nasional

Dulu Gudang Qari-qariah, Sekarang...?

KAFILAH JATENG: Qari-qariah Jateng yang siap berlaga di STQ Nasional Ke-16 di Mataram, NTB., 6-12 Juli mendatang. (Foto:Suara Merdeka/B13-48)

QARI-QARIAH Jawa Tengah akan berlaga dalam Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional Ke-16 di Mataram, Nusa Tengga Barat, 6-12 Juli. Bagaimana persiapan mereka untuk menaikkan peringkat? Berikut catatan wartawan Suara Merdeka Agus Fathuddin Yusuf.

DALAM STQ tahun lalu di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jateng berada di peringkat kelima. Urutan pertama sampai empat yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan NTB. Tragis memang. Mungkin ada yang mencoba menghibur diri, "Ah, STQ kan tidak bergengsi. Yang penting kan MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran)".

Ternyata dalam MTQ atau lomba seni baca Alquran pun Jateng tidak mampu berbuat banyak. Buktinya dalam MTQ Nasional 2000 di Palu, tak satu pun piala yang bisa dibawa pulang. Mengapa bisa terjadi demikian? STQ pun sebenarnya termasuk bergengsi. Karena qari-qariah terbaik biasanya mewakili Indonesia dalam MTQ internasional yang diselenggarakan di Malaysia, Arab Saudi, dan Brunei Darussalam.

Kalau kita mau membuka lembaran sejarah, provinsi ini pernah mendapat predikat sebagai "gudang qari-qariah". "Terus sekarang mereka ke mana? Padahal, dulu kita terkenal sebagai gudangnya," tutur Wakil Ketua Komisi E DPRD Jateng Drs KH Ahmad Darodji.

Prestasi Jateng mulai terukir sejak MTQ Nasional Ke-2 di Bandung (1969), ketika itu provinsi ini menjuarai cabang qari dewasa atas nama Abdul Hakim Muslim.

Tahun berikutnya di Banjarmasin, gelar juara diraih Salafuddin (Pekalongan) dan Waryati (Banyumas).

Prestasi Jateng sempat surut pada tiga MTQ berikutnya, karena tidak memperoleh apa-apa. Pada MTQ Ke-7 di Surabaya, 1974, Jateng meraih juara qari tuna netra, atas nama A Muji S Thamrin. Selanjutnya hingga MTQ Ke-11 di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang, 1979, prestasi daerah ini merosot drastis.

Ada sedikit kebanggaan pada MTQ Ke-12 di Banda Aceh, 1981, dengan terpilihnya Siti Hajar sebagai hafizah (penghafal quran) terbaik. Kemudian pada MTQ Ke-15 di Bandar Lampung, Mutmainnah juga menjadi hafizah terbaik. Bahkan ketika itu Jateng memborong hampir semua juara khattil (penulisan kaligrafi) Quran. Namun cabang tilawah hampir selalu gagal.

Sejak 1968

Menurut Kepala Seksi MTQ Drs H Moh Ahyani, pada awalnya musabaqah dilaksanakan setahun sekali. Dimulai tahun 1968 di Makasar. Entah mengapa, sejak MTQ Ke-10 di Manado (1977) diubah menjadi tiga tahun sekali.

Agar pembinaan seni baca Alquran tidak putus, di sela-sela MTQ diselenggarakan STQ, dan kali pertama berlangsung di Masjid Istiqlal Jakarta (1978). Sedangkan pembinaan para qari-qariah diwadahi dalam Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Pengurus diambilkan dari Departemen Agama, ditambah tokoh masyarakat yang berminat dalam seni baca Alquran.

Semula yang dilombakan terbatas cabang tilawah dewasa putra-putri, remaja, dan anak-anak. Kemudian berkembang cabang tuna netra dan tahfizil (hafalan). Bidang tahfiz terdiri atas 30 juz, 20 juz, 10 juz, dan 1 juz. Kemudian, muncul cabang baru berupa syahril (pensyarahan), fahmil (cerdas-cermat), dan khattil Quran.

Kakanwil Depag Drs HM Chabib Thoha MA mengakui, dalam seleksi di Mataram, NTB, ini belum berani memasang target. "Kepada Gubernur, kami hanya berjanji akan memperbaiki peringkat dari posisi lima menjadi lebih baik," katanya.

Mengenai belum munculnya qari-qariah andal di Jateng, ia menilai disebabkan banyak faktor. "Dahulu banyak bermunculan sanggar atau semacam diklat qari-qariah yang diselenggarakan para kiai atau ulama di kampung-kampung, masjid, atau pesantren. Contohnya HM Zain di Kauman Mustaram Semarang. Dia rela keluar masuk kampung mencari bibit qari untuk memperkuat kasidah Nasida Ria sekaligus dididik seni baca Alquran," katanya.

Sekarang hampir sulit dijumpai sanggar-sanggar Alquran. Jateng paling-paling mengandalkan seleksi alami yang dilakukan berjenjang mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi. Padahal, untuk membina mereka menjadi qari-qariah andal dibutuhkan waktu yang panjang, pembinaan berkelanjutan, dan biaya yang tidak sedikit.

Padahal daerah-daerah lain seperti DKI Jakarta, Jabar, dan Jatib sudah sangat intensif dalam membina bidang tilawatil Quran. Hal itu tidak saja dilihat dari dukungan masyarakat, tapi juga dari APBD yang jumlahnya tidak sedikit.

Pembajakan

Persoalan lain yang dihadapi Jateng, kata Ahmad Darodji, adalah maraknya kasus pembajakan qari-qariah, seperti yang juga terjadi pada dunia olahraga. "Kalau di Jateng ada qari-qariah atau hafiz-hafizah yang bagus, maka daerah-daerah lain akan mencermati, kemudian memberikan iming-iming fasilitas, sarana, serta kebutuhan hidup. Akhirnya mereka hengkang dari Jateng. Pada MTQ berikutnya, mereka tidak lagi memperkuat Jateng, tapi sudah milik provinsi lain".

Dia mencontohkan KH Abdul Hakim Muslim yang pernah menjadi qariah terbaik dari Jateng. Tak lama kemudian ia "dibajak" DKI dan sampai kini menjadi pembina di Ibukota. H Muammar ZA, yang asli Pekalongan, juga lari ke Jakarta.

Kemudian Dra Hj Siti Hajrul Kasmi, yang dilatih dan dibesarkan di Institut Ilmu Alquran (IIQ) Wonosobo (kini Universitas Sains Alquran/Unsiq). Ia pernah menjadi qariah terbaik, tapi bukan lagi mewakili Jateng, melainkan Kalbar. Dia pun sempat menjadi qariah terbaik dalam MTQ Internasional di Kuala Lumpur, dan tidak juga mewakili Jateng.

"Dalam hal ini, pemerintah dan masyarakat Jateng harus mulai tanggap," tegas Darodji. Penghargaan kepada qari dan hufaz (penghafal Alquran), ahli khatt dan mufasir (ahli tafsir), dirasa masih sangat kurang apabila dibandingkan dengan penghargaan yang diberikan kepada atlet-atlet olahraga.

"Coba lihat kalau ada si A juara bulutangkis atau sepakbola, pulangnya pasti disambut seperti pahlawan, dan sekaligus hujan bonus dan penghargaan dari para pengusaha. Saya mengimbau, mbok ya kepada qari-qariah juga demikian".

Dia menyarankan agar kehidupan jasmani dan rohani dapat diseimbangkan. "Atlet berprestasi untuk kebutuhan jasmani. Sedangkan qari-qariah, hufaz, dan mufasir untuk rohani. Mbok ya diberi penghargaan yang seimbang," katanya. Akibat perlakuan yang tidak seimbang, maka sulit mencegah mereka saat ditawari pekerjaan, menjadi PNS, atau dinikahkan dengan orang dari lain provinsi, serta menjadi bagian dari pembinaan tilawatil Quran di provinsi lain. Dan, predikat "gudang qari-qariah" pun sudah lama menghilang. (*-48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA