logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 1 Juli 2002 Tajuk Rencana  
Line

Bagaimanapun Kasus PT BJS Perlu Diselesaikan

- Bisnis uang adalah bisnis kepercayaan. Jadi, memiliki sensitivitas tinggi. Itulah sebabnya pemerintah mati-matian mempertahankan keberadaan bank, kendati harus menyuntik dana sangat besar. Bila bank dilikuidasi, maka dana nasabah yang kali pertama harus diselamatkan. Tanpa upaya itu, kepercayaan akan merosot dan pada gilirannya akan mengena industri jasa perbankan secara keseluruhan. Begitu pula nasib yang bisa menimpa perusahaan sekuritas. Apabila nasib nasabah tidak diperhatikan dalam kasus penutupan perusahaan, maka dampaknya akan meluas. Bisa timbul trauma bagi investor pasar modal. Kepercayaan menurun dan pada gilirannya perusahaan sekuritas lain pun terkena. Dalam konteks inilah kita meminta perhatian khususnya pada penyelesaian kasus PT Bank BPD Jateng Securities (BJS).

- Semula muncul kabar cukup melegakan yakni upaya Gubernur selaku komisaris untuk mengusahakan dana talangan dari APBD senilai Rp 27 miliar. Rencana itu pun kabarnya sudah disetujui pimpinan DPRD Jateng. Belakangan mentah lagi karena ternyata hal itu dinilai melanggar peraturan pemerintah. Terlepas dari soal dari mana datangnya dana talangan untuk menyelamatkan perusahaan terutama juga nasib para nasabah, bagaimanapun kasus PT BJS perlu diselesaikan. Tidak dibiarkan terkatung-katung hingga lebih enam bulan. Tidak hanya manajemen yang perlu dimintai pertanggungjawaban. Tetapi juga para komisaris dan pemegang saham. Mereka tak bisa dengan seenaknya lepas tangan atau merasa tidak bertanggung jawab. Apalagi menyangkut dana pihak ketiga puluhan miliar rupiah.

- Ada kesan dari luar, seakan-akan nasib PT Bank Bepede Jateng Securities ini benar-benar memprihatinkan karena para pemegang sahamnya tidak mau tahu. Masyarakat terkadang tidak mengetahui persis bagaimana ihwal persoalannya. Bagaimana kronologinya sehingga perusahaan itu kesulitan keuangan sampai akhirnya harus berhenti operasi. Apakah tidak ada deteksi awal atau mekanisme internal yang dapat mengantisipasi hal itu. Di sinilah kita mengarahkan persoalan itu tidak semata-mata tanggung jawab manajemen, tetapi juga para komisaris dan pemegang saham. Dan masyarakat awam akan mengarahkan hal itu pada Bank BPD Jateng yang dianggap secara de facto menaungi perusahaan tersebut. Kendati direksi Bank BPD sudah berusaha menjelaskan posisi sebenarnya.

- Tidak seharusnya saling menyalahkan. Lebih penting dari semua itu adalah mencari penyelesaian agar tidak berlarut-larut. Apakah tidak ada investor lain yang tertarik mengambil oper perusahaan sekuritas tersebut. Menurut mantan Direktur Utama PT BJS Hari Prabowo, sudah ada tawaran dari beberapa investor. Tetapi mereka menunggu langkah-langkah awal penyelamatan. Karena memang tidak mungkin seorang investor atau sebuah perusahaan membeli perusahaan lain dalam keadaan sekarat. Justru karena itulah, dengan memakai pola-pola penyelamatan perbankan, bisa dipikirkan upaya menghidupkan kembali perusahaan melalui bantuan dana segar. Setelah itu baru dijual. Persoalannya memang jumlahnya tidak sedikit. Kalau mungkin dulu cepat tertangani, kebutuhan dananya tidak sebesar sekarang.

- Tak jera-jeranya kita mengingatkan, ini bukan persoalan teknis semata. Ini tidak hanya menyangkut nasib sebuah perusahaan dengan beberapa puluh karyawan dan sekian ratus nasabah. Tetapi kasus ini berdampak luas karena bisa memengaruhi kepercayaan investor. Padahal, kita mengetahui betapa sulitnya membangkitkan gairah pasar modal di provinsi ini. Sejak dahulu sudah diupayakan, namun baru belakangan, atau beberapa tahun terakhir, mulai dirasakan hasilnya. Itu pun belum maksimal. Pada saat situasi sedang bertumbuh secara bertahap, kemunculan kasus penutupan PT BJS tentu amat disesalkan. Apalagi sampai sekarang penyelesaiannya tidak jelas. Nasib nasabah memang akan selalu menjadi ukuran. Karena biasanya mereka berada pada pihak yang lemah dan hanya menjadi korban.

- Kita percaya akan ada pola penyelamatan yang tepat. Apakah melalui suntikan dana, mengundang investor baru atau apa pun. Pada prinsipnya menurunnya kondisi perusahaan hingga kesulitan keuangan tidak hanya diakibatkan oleh mismatch atau mismanagement. Tetapi juga karena faktor perubahan lingkungan eksternal. Apalagi kalau bukan krisis ekonomi sejak tahun 1997 yang mengakibatkan fluktuasi tajam di pasar modal dan pasar uang. Yang jelas perubahan lingkungan itu tidak terkait dengan prospek industri. Justru dalam beberapa tahun terakhir prospek perusahaan sekuritas dan bisnis perdagangan saham ini makin meningkat. Dalam konteks itulah, penyelamatan perusahaan itu akan menemukan peluangnya mengingat secara bisnis masih bisa dika-takan feasible.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA