logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 1 Juli 2002 Olahraga  
Line

Atlet Berkuda Kesulitan Latihan

KESULITAN: Nurdin (kiri), bersama Aviv Zen, sebelum mencoba kuda di lapangan Poltabes. (Foto:Suara Merdeka/dok-17)

SEMARANG - Atlet berkuda, Nurdin, yang selama ini memperkuat DKI Jaya dalam berbagai event nasional, kebingungan setelah bertugas di Semarang. Komandan pasukan berkuda Poltabes itu, kesulitan mempertahankan prestasinya, karena di sini tidak ada pembinaan secara khusus dari KONI Jateng.

Kepada Suara Merdeka, atlet yang menekuni nomor three event (tunggang serasi, show jumping, cross country) itu terpaksa melakukan latihan sendiri di lapangan Poltabes, tanpa ada koordinasi dari pihak terkait.

''Saya sendiri bingung, bagaimana Jateng sampai separah ini dalam pembinaan olahraga berkuda. Padahal di sini saya lihat punya potensi yang besar,'' katanya.

Dia sempat bertanya kepada pihak KONI Kodya Semarang, dan bertemu dengan Ketua Hariannya, Drs Tohir. ''Dia hanya bilang...., itu bagus. Selanjutnya tidak tahu. Masak untuk memperkuat Jateng saja kok susahnya setengah mati. Wong kudanya kami yang punya, latihan pun tak ada yang mengawasi.''

Sementara Sekretaris Umum Pordasi Jateng, Ny Christanti Christiana yang dihubungi secara terpisah mengakui kondisi Pordasi Jateng memang seperti itu. ''Berkuda ini kan ibarat anak ayam kehilangan induk. Secara organisasi kami diakui, namun sama sekali tidak ada perhatian. Jangankan bantuan dana, sentuhan kecil pun tidak pernah ada dari KONI maupun pemda,'' tandasnya.

Tanpa Perhatian

Dengan kondisi itulah, dia bersama kawan-kawannya di Pordasi terpaksa menghidupi diri sendiri. Mulai dari kuda, joki (atlet) sampai pada lapangan, semuanya diatasi sendiri. Hal itulah yang mebuat Pordasi sangat berat.

Para pembina olahraga berkuda Jateng sudah beberapa kali bertemu dengan Wali Kota Sukawi Sutarlip dan juga Gubernur Mardiyanto untuk membicarakan masalah lapangan berkuda Jateng.

''Hasilnya, ya begitu terus. Kami tidak pernah mendapat perhatian dari bapak-bapak itu. Terus terang saja, dibanding Jabar, Jatim dan DKI, kita ini yang paling miskin. Kadang kami meri melihat para pesaing,'' katanya.

Juli nanti, musim perlombaan dalam kejurnas sudah mulai digelar. Dia sendiri tetap melakukan pembinaan pada para atletnya. Namun, apa yang dilakukannya itu sebatas pada kemampuan. ''Ya, sekuat tenaga sajalah. Yang penting kami tidak mau menyerah sebelum berlomba, kebetulan anak-anak masih punya semangat.'' (C8-17)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA