logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 1 Juli 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Belimbing Demak Riwayatmu Kini (3-Habis)

Jangan Lupakan karena Buah Impor

BIBIT: Upaya Karmono (57) melestarikan pohon belimbing Demak patut mendapat penghargaan. Meski kini populasi belimbing tergeser oleh jambu merah delima, Karmono tetap tekun membuat pembibitan buah itu di pekarangannya. (Foto: Suara Merdeka/yad-76c)

MENGAPA belimbing demak makin langka? Begitu kira-kira pertanyaan yang menggelitik sejumlah orang. Pohon belimbing memiliki masa panen secara periodik. Orang bilang, musiman. Biasanya menjelang kemarau atau sesudah musim hujan. Interval waktu yang cukup panjang itulah salah satu faktor yang membuat para petani belimbing jenuh.

''Menunggunya lama, tidak seperti jambu merah delima,'' kata Subadi (45), petani asal Desa Tempuran.

Selain itu, harga jualnya tidak terlalu bagus. Kalah bila dibanding dengan harga jual jambu merah delima. Harga 1 kg belimbing Rp 6.000 sampai Rp 7.000, sedangkan produksi per pohon sekitar 26 kg.

Sementara itu, harga 100 biji buah jambu Rp 35.000-Rp 45.000. Produksi per pohon mencapai 60 kg. ''Rasanya tak kalah manis dari belimbing. Masa panennya pun susul-menyusul. Jadi, petani cenderung memilih jambu karena lebih untung.''

Meski budi daya dan perkembangan belimbing kini tak menggembirakan, Karmono (57), penilik SD di wilayah Dempet, tetap setia melakukan pemuliaan.

Bagi dia, menanam dan merawat pohon belimbing tak hanya sebagai sampingan, namun sebagai teman dan bagian sejarah hidupnya. ''Meski sekarang belimbing terdesak, tekad saya tetap melestarikan belimbing asli Demak. Buah lain, termasuk impor, boleh memenuhi pasar-pasar, tapi jangan lupakan belimbing demak,'' kata suami Rumisah yang tinggal di Desa Betokan itu.

Laki-laki yang meniti karier sebagai guru SD itu sampai sekarang memanfaatkan pekarangannya seluas 90 m x 22 m sebagai lahan pengembangan belimbing. Di sana ratusan bibit belimbing dibudidayakan.

''Lumayan, meski tidak setiap hari, ada juga yang mencari bibit ke sini. Kadang-kadang dua atau lima bibit dibeli,'' katanya bangga.

Upayanya itu dirintis sejak 1983. Dia mengaku pembudidayaan belimbing relatif rumit. Perawatannya pun harus ekstrateliti. Meski tanah di Demak cocok ditanami pohon belimbing, cara penanamannya tidak bisa dianggap sepele.

Pohon belimbing, kata dia, tidak cocok bila ditanam dengan sistem stek atau isi buah. Ia lebih cocok dengan sistem sambung. ''Pangkal batangnya boleh berasal dari belimbing mana saja asal batang atasnya disambung dengan batang belimbing demak. Teknis sambung itu bisa dilakukan saat pohon belimbing masih muda,'' tuturnya.

Jangan sampai terlalu banyak air atau kekurangan air. Pemupukan juga dilakukan secara intensif sesuai dengan takaran. Penyemprotan hama juga tidak boleh ditinggalkan. Bila sudah dewasa, cabang-cabang pohon yang kering harus dipotong.

Pengembangan pohon itu jauh lebih sulit ketimbang jambu merah delima. Tinggal ditanam, kemudian disiram setiap pagi atau sore, ia akan tumbuh subur, dan hasilnya berlimpah. Produksi buahnya setahun bisa 3-4 kali.

Upayanya yang terus berlanjut seperti bukan tanpa masalah. Pada kemarau seperti sekarang, pekarangan belimbingnya terancam kekeringan.

Bila musim hujan tiba, kerap kali pekarangannya dilanda banjir. Akibatnya, pohon belimbing terancam tidak produktif. (Karyadi-76c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA