
| Senin, 1 Juli 2002 | Internasional |
Cari Salju di Gunung untuk Buat Es KrimSALANG - Saat terik matahari musim panas mulai menerpa tanah datar berdebu Afghanistan, anak-anak mulai membebani punggung mereka dengan bongkahan salju. Mereka turun dari puncak gunung di kaki bukit Pegunungan Hindu Kush, untuk membuat es krim. Kerja keras mereka itu dihargai tiga dolar AS (sekitar Rp 29.000) per hari. Dengan menggunakan beliung, skop, bahkan selongsong peluru kanon tank, mereka menggali salju dan mengikat bongkahan salju yang didapat di punggung mereka dengan tali. Mereka kemudian berjalan menuruni pegunungan menuju jalan terdekat, tempat truk-truk dan pekerja anak-anak sudah menunggu. Kecepatan sangat diutamakan. Semakin jauh perjalanan, semakin banyak es yang meleleh, dan itu berarti hilanglah peluang dapat uang dari kota-kota Jabul Saraj, Charikar, dan Kabul. ''Kami lapar, padahal kami sedang kesulitan ekonomi. Pertanian kami tidak terlalu baik,'' kata Mohammad Akram, salah seorang pencari awak. Sebagai pria dewasa, dia membawahi 12 anak-anak berumur antara sembilan sampai 16 tahun. ''Itulah sebabnya mengapa kami melakukan pekerjaan ini. Desa kami rusak total, sedangkan kami membutuhkan pekerjaan.'' Anak-anak itu sendiri terlihat sangat berterima kasih karena dapat bekerja di negeri yang luluh lantak akibat perang 23 tahun, dan baru saja mencoba berdikari. Di Celah Gunung Salju-salju untuk es itu ditemukan di celah-celah karang gunung. Cuaca di pegunungan tersebut berangin dan lebih dingin dari Kabul (ibu kota Afghanistan). Suhu di kota tersebut bisa mencapai 30 derajat Celcius pada musim panas seperti saat ini, dan suhu setinggi itu sangat hangat untuk semua orang. Es yang dibuat dari salju itu digunakan untuk membuat hidangan penutup es, dan juga sebagai alat pendingin termos berisi susu dan gula yang dengan diputar akan berubah menjadi es krim. Satu mangkuk es krim dijual dengan harga 30.000 afganis (sekitar Rp 7.500). Namun hanya satu truk salju dari Pegunungan Nindu Kush yang dikirim ke Kabul per hari. ''Para penjaga toko di kota Kabul lebih menyukai es krim buatan mesin,'' kata salah seorang anak pencari es. ''Mereka menganggap es buatan kami terlalu kotor.'' (rtr-ms-30) |