
| Senin, 1 Juli 2002 | Internasional |
Cheney Jadi Presiden AS Selama Dua Jam
WASHINGTON - Selama dua jam 15 menit Sabtu lalu, Dick Cheney menjadi orang paling berkuasa di dunia. Pada waktu itu, dia menggantikan sementara posisi George W Bush sebagai Presiden AS. Pada pukul 07.09 (19.9 WIB), Bush meminta diberlakukan Amandemen Ke-25 Konstitusi sebelum menjalani masa tenang yang diperlukan untuk pemeriksaan kesehatan usus besar. Pada saat yang sama, Wakil Presiden Cheney telah berada di Gedung Putih, menjalankan bagian dari tugas rutinnya. ''Hari Sabtu yang relatif normal,'' kata Jennifer Millerwise, wanita juru bicara Gedung Putih. ''Dia (Cheney) pergi ke kantor untuk pertemuan rutin membahas keamaman nasional. Kemudian dia mengadakan pertemuan terjadwal dengan para staf, guna membahas berbagai isu secara luas,'' tambahnya. Untuk kali kedua itulah Pasal 3 Amandemen Ke-25 Konstitusi AS diberlakukan. Pasal tersebut mengatur pengalihan kekuasaan secara sukarela, ketika presiden tidak mampu melaksanakan tugas-tugasnya. Pada 13 Juli 1985, kekuasaan dialihkan selama tujuh jam 54 menit kepada Wapres George Bush (ayah Presiden AS saat ini) ketika Presiden Ronald Reagan menjalani operasi usus besar. Namun, tidak ada peralihan kekuasaan pada saat Reagan menjalani operasi darurat untuk mengeluarkan peluru dari paru-parunya, setelah dia ditembak dalam percobaan pembunuhan tahun 1981. Para ahli medis dan para sejarawan Amerika berpendapat, tidak ada yang bertanggung jawab atas negara saat berlangsung operasi terhadap Reagan pada 1981 itu. Serangan Teror Sementara itu, Biro Penyidik Federal (FBI) mengeluarkan peringatan rahasia kepada lembaga-lembaga penegak hukum setempat, mengenai kemungkinan serangan teror terhadap AS sekitar liburan peringatan Hari Kemerdekaan. Surat kabar New York Times melaporkan, Minggu: ''FBI tidak punya informasi menyangkut ancaman teror menjelang Hari Kemerdekaan 4 Juli. Namun, kita perlu tetap waspada.'' FBI menjaga kerahasiaan pesan tersebut, karena menyimpulkan ancaman semacam itu sejauh ini sangat tidak kuat untuk dijadikan dasar bagi peringatan publik, kata koran tersebut. Pesan itu didasarkan pada informasi dari berbagai sumber, termasuk sumber keamanan asing, pengawasan elektronik terhadap tersangka teroris, dan wawancara dengan anggota Al Qaedah yang ditangkap di luar negeri baru-baru ini. (ant-30) | |||||