
| Senin, 1 Juli 2002 | Ekonomi |
Investor Makin Trauma
SEMARANG-Penyelesaian kasus penutupan PT Bepede Jateng Securities (BJS) yang makin berlarut-larut menyusul batalnya pinjaman dana talangan dari pemerintah provinsi, diperkirakan akan membuat iklim investasi pasar modal di Jateng terpuruk.
Pasalnya, selama ini para investor melihat belum ada upaya serius dari manajemen pemegang saham untuk segera menyelesaikan masalah tersebut, khususnya dalam hal pembayaran dana nasabah. ''Kenyataanya proses penyelesaianya justru berbelit-belit, bahkan waktunya akan makin panjang,'' kata Ketua Paguyuban Investor Semarang (Pies) Lukas Lukmana, kemarin. Menurutnya, sebelumnya para investor optimistis Gubernur dalam kapasitasnya sebagai komisaris PT Bank BPD Jateng sebagai salah satu pemegang saham, akan bisa segera mengembalikan dana nasabah. ''Namun jika dengan meminjam dana APBD dianggap salah menurut peraturan tentu investor bisa memahami,'' ujarnya. Hanya saja, sambung dia, paling tidak sekarang ini diperlukan alternatif pembiayaan lain untuk segera mengembalikan dana nasabah. Alternatif tersebut, kata Lukas, antara lain dengan memberikan kepada investor baru atau lembaga keuangan lain. ''Masalahnya para investor sudah menunggu terlalu lama atau hingga sekarang sudah sekitar enam bulan,'' tandasnya. Dia khawatir, hal itu akan memperpanjang terjadinya krisis kepercayaan investasi pasar modal di Jateng. Para investor, ujar dia, akan makin enggan menanamkan dananya di pasar modal, karena trauma dengan kasus tersebut. Padahal, menurut dia, untuk membangun kepercayaan investor pasar modal dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. ''Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan, sebab bisnis ini adalah bisnis kepercayaan.'' Kehilangan Nasabah Dia mengatakan, pada awal kasus penutupan BJS mencuat, dari informasi yang diperoleh Pies, tidak sedikit perusahaan efek yang kehilangan nasabah hingga 60%, bahkan ada yang 70%. ''Hingga kinipun kondisinya masih sama,'' jelasnya. Dia menuturkan, sebenarnya kepercayaan investor Semarang sempat membaik setelah ada dukungan dari kalangan legislatif yang akan menekan pihak terkait dalam hal ini pemegang saham dan perusahaan untuk segera menyelesaikan masalah tersebut. Namun karena belakangan penyelesaian persoalan makin buram, investor kembali mengurungkan niatnya untuk berinvestasi. ''Keinginan kami cuma satu, bagaimana dana nasabah bisa kembali dan persoalan segera diselesaikan, tidak terkatung-katung seperti sekarang ini,'' jelasnya.
Sementara beberapa sumber Suara Merdeka menyebutkan akan ada investor dari sebuah perusahaan sekuritas nasional yang berminat untuk mengelola BJS. Namun investor tersebut hingga saat ini masih menunggu langkah-langkah yang akan dilakukan tim penyelamat BJS yang dibentuk Bapepam. Mantan Dirut PT BJS Hari Prabowo mengatakan, pada tahun 1998 sejumlah investor dari perusahaan sekuritas yang berpengalaman juga berniat masuk ke BJS. Hanya saja, saat itu karena tidak ada tanggapan dari pemegang saham, investor tersebut kemudian mengundurkan diri. ''Apapun bentuk kerja sama itu, apakah merger, akuisisi ataupun joint operasional akan menguntungkan semua pihak termasuk menghidupkan kembali BJS.'' (aw-69) | |||||