image

foto ilustrasi - istimewa

13 September 2017 | 10:33 WIB | Sastra

Cerpen

Malam Pengantin

Malam Pengantin
oleh: Alfiah Ariswati Sofian

Aku terdiam menggigil di depan pintu. Dingin angin malam menyergap sekujur tubuhku yang terbalut gaun pengantin. Rambutku terburai. Sandal berhak 7 cm telah berpindah dari kaki ke tanganku. Aku sadar pasti penampilanku begitu kusut seperti benang kehilangan ujungnya. Namun aku tak peduli semua itu. Seperti hilang akal, pintu kontrakan itu kugedor berkali-kali dengan keras seakan hendak kudobrak. 
Dan ketika pintu terbuka, nampak jelas kau melihatku dengan pandangan tak percaya.
"Kau..?"
Tanpa menunggu lama, aku menyerobot masuk, dan duduk di tepian tempat tidur.
nafasku masih naik turun berebut udara. 
"Nay....apa yang kau lakukan?" tanyamu lirih.
Kau lantas duduk di sampingku.
Tubuhku masih menggigil. Bibirku bergetar antara kedinginan dan ketakutan.
"Kau sadar apa yang kau lakukan?" diambilnya selimut dan menutupkannya ke tubuhku yang menggigil.
Aku masih terdiam. Mulutku terkunci padahal aku ingin sekali berteriak kuat agar bongkahan berat di dadaku terangkat.
"Nay....kau tak seharusnya berada di sini. Ini malam pengantinmu...." suaramu lirih di telingaku.
"Semua orang pasti mencarimu sekarang....kau sadar itu?"
Kutatap matanya. Mata teduh yang selalu menenangkanku saat segudang permasalahan menimpaku. Aku melihat sisa tangis yang berusaha disimpan di ujung matanya. Aku bisa melihat itu.
"Kamu habis menangis?" tanyaku tersendat. Air mata memang tak henti mengalir dari mataku. Menghilangkan make up yang dipoleskan sejak sore tadi oleh perias pengantin teman ibuku.
Tapi kau justru tersenyum. Berusaha tersenyum tepatnya. Karena aku melihat jutaan luka bercerita dari kedua matamu.
"Aku tidak mencintainya...," bisikku kelu,"aku tidak bisa hidup dengannya...."
Lagi-lagi kau tersenyum.
"Dia pilihan orang tuamu, Nay...percayalah bahwa itu terbaik buatmu."
"Lantas kamu?" kutatap kembali mata teduhmu. Tapi kau tetap saja tersenyum dan meraih tanganku. Menggenggamnya begitu erat. 
"Kamu sedih, kan? Kamu marah karena aku menerima pernikahan ini? Kamu menangis....jangan bohong....kamu nangis..." Nafasku kembali tersengal.
"Ya Nay, aku sedih kehilangan kamu. Tapi aku bahagia melihatmu menikah."
Kau usap air mata yang terus banjiri wajahku. Merengkuhku, dan membawaku ke pelukanmu. Perlahan nafasku mulai teratur. Detak dadamu begitu menenangkanku. Tiba-tiba aku merasa begitu lelah.....lelah.....sangat lelah.......
Alunan lembut musik Kenny G dengan 'Forever in Love' nya memaksaku membuka mata. Terasa berat sekali. Tapi aku berusaha membukanya. Kau duduk di tepi tempat tidur, menatapku lekat. Dan kulihat kau sedikit tersentak kaget saat aku bertanya aku ada di mana.
"Kau di kontrakanku, Nay," bisikmu lembut.
Seperti mesin waktu, otakku berputar mengingat apa yang telah terjadi. Pesta itu...aku loncat keluar jendela...di taksi....apotek....dan....
"Kau mau kopi, Nay?" tanyamu sembari bangkit dari tempat tidur.
Kau tau benar, aku memang gila kopi. Dan di saat ada masalah, kopilah tempatku membuang kesah.
"Jangan!" sontak aku berteriak. Kau tatap wajahku tak percaya.
"Maksudku...biar aku yang buat kopi. Kau duduklah di sini." 
"Tapi kamu nggak biasanya mau buat kopi....," katamu tak percaya. Meski begitu kau akhirnya kembali duduk, melihatku beranjak dengan pandangan bertanya-tanya. Sedikit kikuk, aku menuju dapur.
Dua gelas kopi panas terhidang di atas meja. Kau duduk terdiam di ujung meja. Aku tak tahu apa yang kau pikirkan. Namun aku bisa menduganya. Tatapanmu kosong sekarang. Kau pasti cemas bagaimana harus menjelaska pada keluargaku dan keluarga calon suamiku tentang kejadian ini. Bagaimana aku bisa berada di tempat ini. 
"Nay....."
Kuangkat kepalaku. Kulihat dari cermin di belakangmu, wajahku nampak begitu berantakan. Mataku sembab karena menangis semalaman. Rambutku kusut, demikian juga bajuku.
"Kau tak seharusnya melakukan ini...."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Meninggalkanmu, dan menikah dengan orang yang bahkan aku tak kenal?" ucapku setengah berteriak.
"Bukan itu maksudku,..."
"Lalu apa....apa yang harus kulakukan?" 
Kau terdiam. 
Malam kian merangkak. Suasana begitu sunyi. Kau sibuk dengan pikiranmu. Demikian juga aku.
Seteguk demi seteguk, kau mulai minum kopi buatanku. Memang tidak biasanya aku mau membuat kopi. Karena Biasanya kamulah yang memanjakanku dengan kopi buatanmu. Tapi kali ini akulah yang meminta membuatnya. Karena malam ini adalah malam spesial. Malam terakhir kita bertemu.
"Kopinya enak, Nay....ternyata kau pandai juga menyeduh kopi...." pujimu.
Aku tersenyum pahit. Sepahit kopi itu.
Kopi di atas meja tlah kita habiskan seiring malam menjemput pagi. Dan kita berdua tetap terdiam membisu. Cuma suara jangkrik di halaman yang sesekali menimpali.
"Nay....," tiba-tiba keheningan terpecah. Wajahmu mulai memucat. Bibirmu bergetar.Tanganmu gemetar berusaha meraih bahuku. Aku berdiri mendekat. Kupeluk erat tubuhmu.
"Kau pernah memintaku membawaku pergi dari sini, kan?"
Kuanggukkan kepalaku. Matamu mulai sayu. 
"Tapi kau menolaknya," jawabku kelu.
Kau mengangguk lemah. Aku pun kian erat memelukmu, seakan tak ingin melepaskanmu.
"Sekarang aku berubah pikiran, Nay...."
Seketika aku tersentak. Halilintar serasa menghantam tepat di kepalaku. Duarrrr......!!!
"Apa maksudmu?" teriakku tak percaya,"kemarin kau tolak mentah-mentah usulku!"
"Dengarkan aku dulu, Nay...." 
"Tidak!"
"Nay...., aku tidak bisa melihatmu seperti ini..."
Aku pun berteriak histeris, Ketika tubuhmu tersungkur dengan bibir menghitam dan mulut mengeluarkan busa.
"Kenapa.....kenapa baru sekarang kau katakan...bangunlah....bangun...." kuguncang-guncang tubuhmu dengan keras. Kupanggil-panggil namamu. Tapi kau diam tak bergerak. Aku pun menangis sejadi-jadinya.....
Andai saja kau katakan itu ketika aku baru datang tadi, mungkin tak kan seperti ini kejadiannya. Kita pasti sudah berada jauh dari sini, menata hidup dan bahagia bersama.....
Aku tak bisa lagi menangis. Air mataku telah mengering. Tak bisa lagi tangis kutumpahkan. Apa yang harus kulakukan? Dengan langkah gontai aku beranjak ke dapur. Kuseduh lagi secangkir kopi, dengan tak lupa menabur sisa racun yang tadi kuberikan padamu. Aku pengantinmu, sayang. Dan ini malam pengantin kita. Kemudian, kuteguk secangkir kopi terakhir dengan senyum terindah......

Karanganyar, 8 Agustus 2017

(Red /CN40 )

ENTERTAINMENT TERKINI