image

Poster Film Kartini (Foto SM/legacypictures)

12 September 2017 | 23:18 WIB | Sinema

Melihat dan Mengingat Kartini

PERTENGAHAN tahun ini, sebuah film berjudul Kartini diluncurkan. Film produksi Legacy Pictures dan Screenplay Films itu disutradarai Hanung Bramantyo dengan menampilkan sederet aktor dan aktris ternama, seperti Dian Sastrowardoyo (sebagai Kartini), Christine Hakim (Ngasirah), Reza Rahardian (Sosrokartono), dan lainnya.  

Riwayat pesohor memang kerap menjadi sumber inspirasi bagi sineas, tak hanya di Tanah Air tapi juga di berbagai negara. Beberapa diantaranya yakni Gie (menampilkan sosok Soe Hok Gie), Soekarno, Jenderal Soedirman, Sang Kiai (KH Hasyim Asyari), serta Sang Pencerah (KH Ahmad Dahlan).

Yang menarik, sosok Kartini ternyata menjadi salah satu yang paling kerap difilmkan. Pada 1982, dia muncul dalam layar lebar garapan sutradara Syuman Djaya. Film berjudul R.A. Kartini itu menampilkan aktris utama Yenny Rachman yang memerankan Kartini dewasa.

Sementara pada pertengahan tahun lalu, ada juga sebuah film yang mengisahkan Kartini. Film itu bertajuk Surat Cinta untuk Kartini diproduksi oleh MNC Pictures dengan sutradara Azhar Kinoi Lubis. Berbeda dengan sebelumnya, film ini menampilkan sisi lain dari riwayat Kartini, yakni tentang seorang petugas pos bernama Sarwadi (diperankan oleh Chicco Jerikho). Sosok Kartini sendiri diperankan oleh Rania Putri Sari.

Mengingat ada beberapa yang serupa, maka susah dihindari untuk mengupas film Kartini tanpa membandingkan. Maka tulisan ini coba menghadirkan perbandingan antara ketiganya.

Surat Cinta untuk Kartini memiliki plot yang berbeda dibanding dua film yang lain. Film itu mengungkap kisah fiksi Pak Pos yang kerap mengantar surat pada Kartini, sehingga dia jatuh cinta pada putri Bupati Jepara tersebut. Menurut penulis, sudut pandang penulisan plot cerita itu sangat menarik, karena mengungkap peran orang lain (liyan) yang tenggelam dengan kebesaran nama Kartini.

Meski demikian, hal itu sebenarnya lazim dilakukan dalam tradisi Jawa. Dalam seni pewayangan, biasa dikenal kisah carangan, yakni lakon yang keluar dari pakem Mahabharata atau Ramayana.

Sementara R.A. Kartini sebatas pengetahuan penulis memiliki kekuatan pada sosok sutradara sekaligus penulis skenario Syuman Djaya. Dia mampu menghadirkan adegan-adegan yang memikat berpadu dengan dialog sang pemain. Beberapa teks yang terucap bahkan seolah memang ditekankan sebagai kutipan atau kata mutiara.

Keberhasilan R.A. Kartini bisa terlihat dari raihan delapan nominasi pada Festival Film Indonesia (FFI) 1983 dan memenangi tiga penghargaan (saat itu kalah oleh Di Balik Kelambu karya Teguh Karya yang sama mendapat delapan nominasi tapi mampu meraih enam penghargaan yakni untuk film, sutradara, pemeran utama pria, pemeran utama wanita, pemeran pendukung pria, dan penyunting terbaik). Yang menarik, Yenny Rachman sebagai pemeran Kartini bahkan tak masuk nominasi.

Kartini garapan Hanung menjanjikan harapan menjadi salah satu film terbaik. Dia mampu menggabungkan kekuatan akting para pemain dengan penampilan visual yang menarik. Meski demikian, diakui atau tidak ada semacam “beban sejarah” pada film itu terutama terhadap R.A Kartini.

Dari sisi keaktoran, Dian Sastro menurut penulis tampil lebih segar dibanding Yenny. Dia mampu menunjukkanjiwa muda Kartini, sekaligus keseriusannya dalam berpikir. Meski tak semua memuaskan, menurut penulis, pemeran Kartini kali ini setidaknya layak masuk dalam nominasi pemeran utama terbaik pada FFI nanti.

Gelar yang terbaik juga bisa ditujukan untuk Christine Hakim. Berperan sebagai ibu Kartini, dia (seperti biasanya) tampil meyakinkan. Jika itu terjadi, Christine mengulang prestasi Nani Widjaya yang meraih Piala Citra pada 1983 saat memerankan sosok yang sama.

Hanung dan juga Robert Ronny selaku produser juga layak mendapat apresiasi atas totalitas dalam memproduksi film ini. Seperti yang diketahui, tidak mudah membuat film berlatar sejarah. Tata artistik menjadi tantangan terbesar, yakni menghadirkan suasana pada masa Kartini hidup.

Mulai dari suasana pedesaan, alat transportasi, hingga pernak-pernik perlengkapan rumah serta pakaian harus benar-benar mendukung masa itu. Dan itu semua ternyata mampu dilakukan dengan cukup apik.

Walau begitu plot yang diusung Kartini sekilas memang serupa dengan R.A Kartini. Tapi keserupaan itu memang tak bisa dihindari mengingat perannya sebagai film sejarah. Itulah yang membuat Surat Cinta untuk Kartini terasa lebih segar karena terbebas dari beban sejarah meski kisahnya tetap berpijak pada kehidupan Kartini.

(Adhitia Armitrianto /CN41 )

ENTERTAINMENT TERKINI