image

Foto: ayulaksmi.com

26 November 2017 | 21:52 WIB | Musika

Svara Semesta 2, Kembara Kontemplasi Ayu Laksmi

SETELAH comeback ke dunia musik pada 2010 lalu, Ayu Laksmi (50) seniman sekaligus musisi asal Bali, menelurkan album bernuansa world music dengan tajuk Svara Semesta. Lima tahun sesudahnya, ia kembali mengeluarkan album bertajuk sama dengan imbuhan "2" di belakangnya.

Dalam album Svara Semesta 2 (2015), Ayu Laksmi, sebagaimana Svara Semesta pertama, tetap konsisten mengusung musik berunsur Bali. Namun sebagai langkah pelestarian budaya secara progresif, Ayu berusaha "mengawinkan" unsur-unsur tradisional Bali yang diwakili alat-alat musik purba denganElectronic Dance Music(EDM). Bukan cuma itu, di karya kedua ini, Ayu menyelipkan nuansa Melayu dan Latin. Ayu juga banyak melakukan musikalisasi puisi dari karya-karya sastra yang memikat. 

Dibuka dengan mantra, album ini begitu lekat dengan aroma kontemplatif. Dilanjutkan dengan "Hyang" pada track pertama, pendengar akan dibawa merenungi perjalanan hidup. Syair dari lagu ini diambil dari puisi "Manusia Gilimanuk" yang ditulis Fajar Arcana, medio 1991-1997.

Selanjutnya lagu bernuansa Melayu "Daima". Lagu ini mengisahkan sosok Daima, ibu dr. Rizal, pendiri RS Bunda. Dalam perbincangan bersama kami, Ayu menuturkan, lagu tersebut dibuat atas permohonan sang kakak, Ayu Partiwi, sebagai hadiah atas peluncuran autobiografi dr. Rizal.

"Daima adalah ibu dokter Rizal. Menyanyikan lagu dengan nuansa Melayu seperti dalam lagu Daima adalah impian saya," tutur Ibu Budaya Komunitas Spiritual Puri Agung Dharma Giri Utama ini.

Menariknya, meski berasal dari Singaraja, Ayu tak canggung menembangkan lagu ini dalam bahasa Minang. Lagi-lagi Ayu mengeksplorasi puisi Daima tulisan Alberthiene Endah. Untuk syair berbahasa Minang, ia dibantu Masni Fanshuri untuk menerjemahkannya. Lagu Daima dibuat dalam dua versi.

Beralih ke track selanjutnya, "Tri Hita Karana". Lagu ini mampu menghanyutkan perasaan siapapun yang mendengarnya. Bunyi-bunyian meditatif khas Hindi disuguhkan Ayu secara apik. Seperti Tri Kaya Parisudha di album Svara Semesta pertama, lirik dalam lagu ini terdiri dari dua bahasa, yakni Inggris dan Bahasa Bali.

Pada lagu "Btari Nini", Ayu Laksmi berkisah tentang keagungan Dewi Sri (Dewi Padi) sebagai pengayom pertanian. Sekali lagi Ayu mengemas puisi Cok Sawitri dalam musik yang indah dan menenangkan.

Beranjak ke "Kidung Maria", Ayu mengeksplor diri dengan syair berbahasa Latin. Lagu tersebut tercipta makanala Romo Budi Subanar dari Universitas Sanata Dharma mengutarakan niatnya untuk menampilkan Legong Maria. Dari sanalah ia kemudian mencipta tembang Kidung Maria dengan nuansa Bali. Ia mengadaptasi ungkapan Elisabet pada awal Masehi bertajuk "Ave Maria" untuk syair lagu tersebut.

Pendengar kemudian dibuai dengan lagu "Gumam Batin" ciptaan Sawung Jabo. Dalam album ini, Ayu mengaku, Sawung Jabo memberikan karya ini kepadanya. Syair dari lagu ini diadaptasi dari puisi Gumam Batin Pengembara tulisan Henky Kurniadi (2005). 

Album ini dipungkasi dengan tembang "Duh Atma". Syair dari Duh Atma diambil dari Kidung Gebang Apit Lontar karya Ida Made Oka Gejel yang dicipta medio 30an di Lombok. Lagu ini ia persembahkan kepada dua orang di belakang grup seni Svara Semesta, I Nyoman Sura dan Eko Wicaksono, yang lebih dulu kembali ke alam keabadian. Lagu ini juga berhasil duduk sebagai lagu tema film dokudrama I Gusti Ngurah Rai (2008).

Secara keseluruhan, ini adalah album world music terbaik yang pernah ada di Indonesia. Penyuguhan album ini juga tak main-main. Ayu benar-benar memperhatikan estetika secara seksama. Sebagai cover, ia memilih lukisan dari I Made Moja. Ia juga turun langsung sebagai produser dan menyiapkan konten album seestetik mungkin.

Album ini juga semakin terasa "mahal" saat banyak menampilkan karya-karya foto diri Ayu Laksmi oleh Darwis Triadi dan Gusti Dibal. Selain itu Ayu turut menyelipkan kutipan-kutipan puitik nan menggelitik bagi siapapun yang membacanya. Svara Semesta 2 (dan perdana) didistribusikan oleh Demajors. Svara Semesta 2 juga bisa diakses di Spotify.

 

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )