image

Foto: ayulaksmi.com

24 November 2017 | 09:43 WIB | Selebrita

Geluti Tradisi, Ayu Laksmi Sukses Patahkan Stigma

  • Sebuah Memoar (2)

LANGKAH Ayu Laksmi untuk menggeluti seni tradisi ternyata banyak mengundang kekhawatiran sejumlah kalangan. 

"Banyak orang berpikir saya kehilangan akal untuk eksis karena usia makin bertambah, lalu kembali untuk mengangkat hal-hal yang berbau seni tradisi dan religi. Mereka berpikir jika di jalur ini berarti saya sudah di titik akhir, sudah selesai. Banyak yang menakut-nakuti begitu. Tapi makin ditakuti kok saya makin dapat inspirasi," papar Ayu.

Ketakutan itu terpatahkan. Sejak 2002, Ayu justru makin bersemangat membuat lagu bernuansa world music. Beberapa lagu diciptakan dengan lirik bahasa Indonesia, lalu diterjemahkan ke dalam Jawa Kuna. 

Sejak tahun itu pula Ayu berpartisipasi dalam World Music Festival yang dikemas secara kultural.

"Saya mengemas dengan unsur teatrikal dengan lagu original ciptaan saya, tapi belum saya rekam. Saat itu sudah dikemas dengan penampilan perempuan Bali yang berbicara tentang cinta kasih dan bhinneka tunggal ika," kisah Ayu.

Hasilnya, banyak orang yang mengapresiasi karyanya. Ia mulai membawa pentasnya ke luar negeri meski harus merogoh kocek sendiri. Namun seiring waktu banyak donatur yang bersedia membiayai pementasannya hingga ke Benua Biru dan Negeri Paman Sam. 

Dari sanalah Ayu makin pede di jalur ini. Tangan dinginnya berhasil menelurkan karya-karya world music yang eksotik. 

"Dalam proses mencipta karya, saya meyakini saya memiliki sesuatu yang dititipkan Tuhan dan semesta untuk saya sajikan ke karya seni. Saya anggap semua karya saya bukan hasil saya sendiri, tapi juga dari Yang Maha Kuasa. Karena saya hidup sebagai seniman, saya ingin selalu ada inspirasi. Ada suara-suara yang datang dari mimpi, dari orang lain," tutur peraih Saraswati Award ini.

Ini pulalah yang menjadi dorongan lahirnya album Svara Semesta pada tahun 2011. Bersama Antida Records, Ayu menembangkan 11 lagu. Antara lain Ibu, Wirama Totaka, dan Tat Twam Asi.

Album Svara Semesta ditulis dalam lima bahasa, yakni Sanskrit, Kawi, Bali, Indonesia, dan Inggris. Album ini berhasil masuk dalam lima besar Design Grafis Terbaik versi Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2012.

Svara Semesta lalu menjelma sebagai salah satu Komunitas Seni di Bali, yang menaungi ragam seni musik, tari, sastra, teater, fotografi, videografi , film/movie maker, dan spiritualist.

Antara Alam, Sesama, dan Tuhan

Dalam Svara Semesta, Ayu berkisah tentang kecintaan pada semesta dan sesama. Rupanya, tekadnya untuk menyuarakan cinta kasih tak terlepas dari pengalaman di masa kecilnya.

"Saya lahir di Singaraja. Dulu, pelabuhan Buleleng yang terletak di Bali Utara, menjadi tempat keluar masuk orang dari berbagai tempat. Ada banyak agama dan suku di sana. Maka bisa dikatakan pola pikir plural-lah yang membesarkan dan memberi pengaruh kepada saya untuk bergaul dengan berbagai macam suku dan agama," imbuh Ayu.

Dalam pandangannya, banyak karya yang lahir karena sebuah peristiwa.

"Itu saya anggap sebagai pemicu untuk menciptakan karya dari Tuhan, dititipkan ke orang-orang melalui saya. Saya anggap sebuah karya terjadi karena harus berjodoh," tandas Ayu.

Seperti halnya tatkala ia musti menerima permintaan Romo Budi Subanar dari Universitas Sanata Dharma yang ingin menampilkan Legong Maria. Dari sanalah ia kemudian mencipta tembang Kidung Maria yang dimasukkan dalam album Svara Semesta 2 (2015).

Sementara untuk lagu Ibu, Ayu mengaku, inspirasi datang dari ibundanya. 

"Beliau sangat sabar dan mengerti saya sejak saya mulai menyanyi di usia 5 tahun. Saya benar-benar ingin mempersembahkan karya," imbuhnya.

Ada pula lagu Daima yang ia nyanyikan dalam bahasa Minang. Inspirasi lagu Daima datang dari ibu dr. Rizal, pemilik RS Bunda. Ayu Partiwi, kakak Ayu Laksmi, ingin memberikan persembahan saat peluncuran buku biografi dr. Rizal.

"Daima adalah ibu dokter Rizal. Menyanyikan lagu dengan nuansa Melayu seperti dalam lagu Daima adalah impian saya," tutur Ibu Budaya Komunitas Spiritual Puri Agung Dharma Giri Utama ini.

Dalam album Svara Semesta 2 yang menyuguhkan tujuh bahasa, Ayu juga memasukkan lagu khusus "Duh Atma" sebagai persembahan untuk music director Svara Semesta, Eko Wicaksono, dan koreografer Svara Semesta, I Nyoman Sura, yang telah kembali ke alam keabadian. Lagu yang diadaptasi dari Kidung Gebang Apit Lontar ini juga turut menghidupkan film dokudrama I Gusti Ngurah Rai.

Hidup Bak Beringin

Di balik keberhasilannya sebagai seniman, Ayu ternyata memendam filosofi hidup yang ia pegang teguh sampai hari ini.

"Saya berusaha hidup sebagai pohon beringin yang akarnya menjuntai ke kanan dan kiri. Artinya, meski kokoh, kita jangan lupakan asal usul. Karena masa kini adalah masa lalu, jadi kita tidak boleh lupa dengan asal usul," tandasnya mantap.

Ayu juga mengingatkan agar masyarakat tidak melupakan budaya. Namun ia juga punya cara untuk anak-anak muda yang saat ini masih gandrung dengan nekawarna berbau manca.

"Kalau anak muda belum cinta seni tradisi, tidak bisa dipaksa. Nanti dia lama-lama akan mencari dan mencari dengan yang terdekat yaitu budayanya sendiri. Nanti dia akan cinta sendiri," tutur Ayu.

Di akhir perbincangan kami, sekali lagi Ayu menunjukkan ilmu padinya. Ketika ditanya tentang pembuatan buku otobiografi, "Sudah ada dua penulis yang ke saya, tapi saya rasanya belum ada apa-apa. Nanti jika berjodoh, jika diizinkan Yang Maha Besar," pungkasnya.

Baca Juga: Ayu "Ibu" Laksmi Pernah Jadi Petani Anggrek

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )