image

Pertunjukan seni Ayu Laksmi dan Svara Semesta di Bali World Music 2015, Arma Ubud, Bali. (Foto: ayulaksmi.com)

24 November 2017 | 09:37 WIB | Selebrita

Ayu "Ibu" Laksmi Pernah Jadi Petani Anggrek

  • Sebuah Memoar (1)

SOSOK I Gusti Ayu Laksmiyani (49) dengan peran menyeramkan sebagai ibu di film Pengabdi Setan berbanding terbalik dengan kesehariannya. Seniman multitalenta asal Singaraja ini justru kerap muncul bak dewi dari kahyangan dengan kidung-kidung tujuh bahasa sembari menyuarakan cinta kasih pada sesama.

Namun siapa sangka, wanita yang sekarang menggeluti genre world music ini pernah tampil sebagai rocker dengan hits album Istana yang Hilang (1991). Ia bahkan turut berkontribusi dalam album kompilasi Indonesia's Top 10 dengan single "Tak Selalu Gemilang" ciptaan Didi AGP. Sound track film Catatan Si Boy 2 dengan lagu "Hello Sobat" ciptaan Harry Sabar juga mengabadikan suara emasnya.

Namun di tengah keberhasilannya sebagai penyanyi, ia merasa ada yang kurang di dalam dirinya.

"Ketika kita datang dari daerah, ada keinginan untuk menembus pasar nasional. Tetapi ketika sudah sampai (di Jakarta), saya merasa tidak ada kebebasan untuk berkarya. Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke Bali," imbuh peraih mandat Bali's Environment Ambassador ini dalam perbincangan bersama suaramerdeka.com baru-baru ini. 

Selepas pulang ke Bali, Ayu Laksmi meneruskan studinya di Fakultas Hukum Universitas Udayana. Ada satu prinsip yang dijalankan di keluarganya.

"Saya dibesarkan dengan berkesenian, tapi tetap harus belajar," tutur Ayu.

Ayu yang berhasil menamatkan studinya sebagai Sarjana Hukum pada 1993 kemudian bergabung dengan sejumlah grup musik. Berbagai tempat manggung seperti kafe, restoran, hotel, bahkan kapal pesir, sempat ia jelajahi. Ia juga bergabung dengan kelompok band ternama di Bali, Tropical Transit, yang dimotori oleh Riwin, salah seorang anggota group Pahama.

Pada periode yang sama, Ayu mulai belajar menyanyi sebagai entertainer dan mencoba berbagai jenis musik.

"Jazz, R n B, latin, semua saya coba," imbuhnya.

Stop Menyanyi

Pada tahun 2000 Ayu tiba pada titik jenuh.

"Saya jenuh, saya merasa belum bertemu dengan apa yang saya cari. Saya mengosongkan diri dari menyanyi dan berkebun sebagai petani anggrek. Saat itu saya betul-betul stop tidak menyanyi," kisah Ayu.

Dua tahun berikutnya, dunia dikejutkan dengan peristiwa bom Bali I. Ayu mengaku, peristiwa inilah yang membuatnya tersadar untuk kembali ke tradisi.

"Pada peristiwa bom Bali, orang-orang Bali berusaha tidak membalas dengan kemarahan. Maka kemudian dibuatlah program Bali for The World. Saat program dari pemerintah itu ada, teman-teman dari Jakarta ingat Ayu Laksmi, di mana dia sekarang," kenangnya.

Bak gayung bersambut, Ayu diminta turut berkontribusi pada event yang dibuat untuk recovery dari tragedi bom Bali itu. Namun demikian, ia mengaku sempat kebingungan akan jenis musik apa yang bakal ditampilkan.

"Saya berpikir, dua tahun saya tidak nyanyi, apa yang harus saya tampilkan. Karena selama ini saya menyanyikan lagu orang lain. Untuk mengembalikan kepercayaan pada dunia, tidak mungkin saya nyanyi genre musik jazz," tutur Ayu. 

Momentum ini lantas mengantarkan Ayu Laksmi kembali ke seni tradisi. Namun begitu, ia mengaku tak tahu apa yang harus ditampilkannya dalam Bali for The World, sebuah helatan yang digelar sebagai recovery dari insinden berdarah itu.

Inspirasi justru datang dari sopir pribadinya, Kadek Budiarta.

"Saat itu saya sampaikan, saya bingung nyanyi di acara perenungan agar manusia tidak saling marah. Kemudian sopir saya, Kadek Budiarta, memberi saran agar saya menyanyikan lagu berbahasa Jawa Kuna yang biasa dibawakan di pura. Dia yang mengajari saya," tutur Ayu.

Sejak saat itu Ayu menembangkan kidung-kidung dari Kitab Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa. Dari sanalah, wanita kelahiran Singaraja, 25 November 1967 ini seolah mendapatkan isyarat untuk terus melestarikan genre musik bernuansa etnik.

Selanjutnya: Geluti Tradisi, Ayu Laksmi Sempat Disangka Kehilangan Akal

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )