image

MMI di kota Malang. (suaramerdeka.com/Benny Benke)

15 November 2017 | 20:30 WIB | Musika

MMI Menjaga Marwah Musik Indonesia

JAKARTA, suaramerdeka.com- Mari kita tepikan sejenak kekayaan spot wisata di Malang Raya, dari Bromo, B29, Jatim Park II, Jatim Park II, Museum Angkut di kota Batu, dan deretan daerah wisata ikonik lainnya yang mencengangkan indra perasa kita. Kita kembalikan Malang kepada salah satu fitrahnya. Yaitu penghasil musisi wahid di negeri ini, dan yang paling utama, masyarakatnya sebagai apresiator musik nomor satu di Indonesia. Terutama musik pemekak telinga, musik rock.

Dalam banyak kesempatan sejumlah musisi rock Tanah Air seperti Eed Syahranie, Roy Jeconiah, hingga Donny Fatah bersaksi, selama mereka manggung dengan grup band mereka. Yaitu Edane, Boomerang dan Godbles, mengakui tampil di Malang adalah "sesuatu".  Atau dalam redaksi bebas diartikan, tampil di Malang seperti tampil di ibukota rock Indonesia.

Ketiga musisi rock di atas bukanlah orang asli Malang, jadi menjadi sangat absyah pengakuan mereka. Lain misalnya, jika pendapat itu kita berikan kepada Ian Antono, Abadi Soesman, Mickey Jaguar, Teddy Sujaya, hingga Totok Tewel yang memang asli Malang. Karena hampir di semua lagu mereka, yang mereka bawakan saat tampil di Malang, senantiasa mendapatkan tanggapan luar biasa dari penonton konsernya. Hanya pada nada pertama sebuah lagu, pekik pembuka sebuah vokal, massa penonton musik rock langsung terbakar dibuatnya. Sisanya, adalah cerita menggetarkan hati dari para musisi yang pernah tampil di kota permai ini.

Membuat puluhan musisi bergenre lainnya, senantiasa keranjingan, jika tampil di hadapan publik penikrat musik di Malang Raya. Karaoke massal senantiasa terjadi di hampir semua pertunjukan musik live di kota ini. Sehingga tak syak, di luar kekayaan spot wisatanya, yang juga dikelola dengan baik ini, musik adalah salah satu jati diri Malang Raya.

Penulis pernah menjadi saksi hidup, saat gelaran musik akbar bernama Soundrenaline pernah mampir di kota Malang. Juga sejumlah konser besar lainnya, dari sejumlah grup band sohor di Indonesia, Malang senantiasa membubuhkan tanda yang sulit dihilangkan bagi para panampil, penikmat, dan peliputnya.

Jadi menjadi tidak mengherankan jika Museum Musik Indonesia akhirnya.benarbenar berdiri di kota ini. Museum Musik Indonesia atau MMI, sebagaimana tercatat dalam laman resminya, adalah sebuah organisasi museum yang menghimpun, memelihara, dan memamerkan rekaman musik dan bendabenda lain yang terkait dengan musik, khususnya musik di Indonesia. 

De jure MMI didirikan di Malang pada tanggal 3 September 2016 oleh Pongki Pamungkas dan Hengki Herwanto dengan badan hukum berbentuk Yayasan. Namun de facto embrio MMI telah ada sejak 8 Agustus 2009 dengan nama Galeri Malang Bernyanyi (GMB).

Pengurus Yayasan MMI terdiri dari Ketua Hengki Herwanto, Sekretaris Ciciel Sri Rejeki dan Bendahara Aditya Mohamad. Sebagai Pembina Pongki Pamungkas dan Pengawas Bens Leo. Visi MMI adalah turut memelihara sejarah musik di Indonesia yang dilakukan melalui misi mendokumentasikan rekam jejak musik di Indonesia. Saat ini MMI berada di Jl Nusa Kambangan 19 Malang. Buka setiap hari jam 10:00-17:00 WIB. 

Di tempat ini dipamerkan koleksi rekaman musik (Indonesia dan Internasional), buku dan majalah musik, instrumemen musik nusantara dan berbagai rupa lainnya. Salah satu Keunikan MMI adalah sebagian besar koleksinya berasal dari sumbangan masyarakat, baik dari Indonesia mau pun dari mancanegara.

Maka, setelah memutari kota Malang dengan Macito, Malang Tour City, penulis baru-baru ini berkesempatan mampir di MMI. Meski berlokasi di gedung pertunjukan yang sahaja, keberadaan MMI tetap mampu menunjukkan kewibawaannya.

Sebagaimana kita maklumi bersama, kelemahan mendasar bangsa ini karena mengabaikan kebudayaan mencatatnya. Tak heran hampir semua peristiwa besar dan bersejarah di negeri ini, kepustakaannya hampir semuanya tidak ada di rumahnya sendiri.

Apakah kita akan mengkaji historiografi wayang dan peninggalan kuno bersejarah kita terus terusan di Leiden, Belanda? Dan akan membiarkan juga kesadaran musikalnya berserakan, sebelum kekayaan koleksinya terdampar di negeri orang?

Tentu tidak. Berangkat dari kesadaran itulah, MMI mengada dan berdiri. MMI jelma karena kesadaran kolektif pencecap musik di kota Malang untuk mencatat perjalanan hidup musiknya sendiri. Sebuah ikhtiar yang mematahkan anggapan streotipe jika bangsa ini malas mencatat perjalanan hidupnya sendiri.

Sebagaimana diceritakan Ciciel Sri Rejeki, Museum Musik Indonesia sudah terdaftar di Menhumkam dan notaris menjadi Yayasan Museum Musik Indonesia. Dari Yayasan inilah, laju museum dijalankan. Pada awal berdirinya, menurut dia, hanya mengumpulkan kurang lebih dari 200 koleksi. "Tambah tahun bertambah dapat kiriman dari masyarakat dalam dab luar negri. berupa piringan hitam, kaset pita, CD, VCD, buku, majalah dan Memorabilia artis," ujar Ceciel.

Ya, di MMI majalah musik lawas seperti Musika, Aktuil, Selecta, hingga NewsMusik dengan mudah kita temui. Juga koran-koran lama yang mencatat perjalanan musik Indonesia pada sebuah masa. Di luar koleksi medium dengar lainnya.

Hingga saat ini koleksi alat musik tradisional sumbangan dari 41 Wali Kota dari seluruh Indonesia disimpan di MMI. Atau jika ditotal, terkini tercatat, jumlah koleksi MMI kurang lebih telah melampaui angka 25 ribu item. Sedangkan memorabilia yang dihimpun di MMI datang dari kesadan kolektif penyangga utama musik Indonesia, yaitu musisinya. Nama seperti Dorce Gamalama, Grace Simon, Dara Puspita, Ian Antono hinga Iwan Fals, menyumbankan baju show, gitar hingga topinya.

Tentu tidak adil membandingkan MMI dengan sejumlah museum mapan di Eropa dan Amerika, misalnya. Karena pengunjung MMI masih sedikit, atau pada kisaran 10 pengunjung setiap hari. Meski target 

MMI tidak main-main, yaitu mencapai angka 50 ribu per hari. Dengan pengunjung yang masif ke depannya diharapkan museum dapat menghidupi dirinya sendiri. Atau bukan tidak mungkin, dapat menghidupi lingkungannya.

Meski selama ini MMI masih sebatas dapat menghidupi dirinya sendiri, untuk tidak mengatakan, belum benar-benar mandiri. Dalam catatan Ciciel, MMI banyak menerima hibah dari pribadi-pribadi. Seperti nama Tamam Husein yang menyumbangkan 43 PH nya, juga sejumlah musisi indie se Malang Raya dan berbagai kota lainnya, yang banyak menghibahkan CD nya ke MMI. Dengan kata lain, publik luas sangat terbuka untuk diterima sumbangannya demi kelangsungan MMI dalam bentuk apa pun. "Kami  betulbetul menghidupi sendiri, tanpa ada bantuan dana Pemerintah. Dengan sumber pemasukan dari tiket masuk sebesar Rp 5000,- kotak donasi dan menjual minuman kopi serta mercendise," terangnya.

Ciciel menambahkan, MMI biasanya ramai pengunjung saat musim liburan sekolah tiba atau pada hari Minggu. Karena pada saat itu, MMI dijadikan media ajar kepada para siswa atau publik umum. Meski masih penuh kekurangan di sana sini, bahkan  gedung pun untuk sementara masih menyewa, tapi taji MMI sudah terpantau Google. "Buka Google, dan klik Museum Musik Asia. Yang keluar hanya MMI dengan bintang 4,2 dari Goegle," ujar Ciciel bangga.

Meski penuh kekurangan MMI menolak untuk menyerah kalah, apalagi mati. Salah satu usaha MMI untuk dapat masukan tambahan operasional, dengan membuat berbagai event. Dengan harapan tiketnya dapat dijual kepada publik. Sehingga goal.keberadaanya, agar diperhitungkan dunia, sebagai museum musik kebanggaan Indonesia, benarbenar tercapai.

Dan untuk mewujudkan kebanggan itu, aejumkah langkah terstruktur telah pengurus lakukan. Seperti melakukan digitalisasi koleksi PH dan kaset milik MMI. Dengam harapan, musiknya bisa didengerkan dari HP masingmasing pengunjung.

Saat saat ini sudah 28 ribu judul lagu yang telah on dan avaliable di telepon genggam, berkat kerja sama dengan Bekraf, Badan Ekonomi Kreatif. Yang terkini, MMI sedang.melakukan proses membuat buku Musisi Indonesia di mata Museum Musik Indonesia. Dengan semua kiprah yang telah dan akan dilakukan MMI, Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata RI Prof Dr Ir I Gde Pitana M.Sc, memberikan salut dan apresiasinya. 

Karena keberadaan MMI menurut dia, akan memperkaya kazanah loka tujuan wisata museum di kota Malang Raya pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Apalagi kota Malang Raya telah melakukan digitalisasi tujuan wisatanya dengan basis handphone pintar Android. Meski ke depannya, digitalisasinya juga akan menyasar handphone pintar berbasis iOS juga. Jadi, masih mau macam-macam dengan Kera Ngalam?

(Benny Benke /SMNetwork /CN40 )