![]() |
|
|
||||||||||||||
|
|
Wapres: Semua Kekayaan Negara untuk Rakyat
Gunungkidul, CyberNews. Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla
mengatakan, kekayaan negara mulai dari hutan, air dan semua tambang yang
kita miliki semuanya untuk kesejahteraan rakyat. Untuk itu, semua yang
kekayaan yang kita miliki harus kita kelola sendiri. Jangan sampai ada orang
asing atau negara lain yang mengelolanya sehingga rakyat bisa menikmati
hasilnya.
''Bila semua kekayaan yang kita miliki, kita kelola sendiri maka rakyat yang bakal menikmati hasilnya,'' kata Wapres Kalla pada pencanangan launching hutan kemasyarakatan di Dusun Kepek, Desa Banyusoco, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (15/12). Turut mendampingi Wapres, Menteri Kehutanan MS Ka'ban, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan sejumlah tamu undangan lainnya. Dalam kesempatan itu, ditandatangani kerjasama pengelolaan hutan antara Pemda DIY dengan 6 perguruan tinggi di Yogyakarta. Wapres mengatakan, biar semua kekayaan itu bisa kita kelola sendiri maka pemerintah akan membelikan sekaligus mencarikan bibit yang bagus dan berkualitas agar hasil tanaman itu juga bisa berkualitas. Agar hasil tanaman itu, bisa kita kelola sendiri maka pemerintah juga akan mencarikan teknologi yang tepat agar hasil bumi bisa kita kelola sendiri. ''Ini yang kami maksud hasil kekayaan kita untuk rakyat,'' kata Jusuf Kalla. Tahap awal yang harus kita jalani, pemerintah sudah bertekad mulai tahun depan sudah tidak ada lagi impor beras maupun impor gula. ''Kami berharap semua itu bisa kita produksi sendiri, meski kita harus bekerja keras,'' tambah Wapres. Sehubungan dengan itu, kini pemerintah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada rakyat (masyarakat sekitar hutan) untuk mengelola hutan. Sistem pengelolaan itu, kata Wapres, seperti yang terjadi di kawasan hutan Gunungkidul, dimana warga sekitar hutan bisa turut menanam Polowijo. Dengan demikian, kelestarian hutan bisa terus terjaga karena warga sekitar hutan turut menjaga kelestariannya dari tangan-tangan kotor atau dari jarahan para pembalak liar. Disamping itu, sistem tanam tumpangsari seperti yang dilakukan di kawasan hutan Gunungkdiul ini ternyata hasilnya bisa dirasakan langsung oleh warga sekitar hutan. Apabila sistem ini berjalan dengan baik, maka hutan di Indonesia bakal kembali rindang. Dengan adanya hutan, secara tidak langsung bisa mengurangi bahaya banjir, tanah longsor maupun polosi udara. Setelah datang sendiri di Kabupaten Gunungkidul, Wapres mengaku heran dan kagum terhadap pembangunan hutan di daerah ini. Karena di Gunungkidul sudah tidak ada lagi kawasan yang gersang semua daerah hijau. ''Saya pikir image mengenai Gunungkidul yang gersang dan tandus harus kita ubah, buktinya di daerah ini sudah tidak ada lagi lahan gersang semua sudah hijau,'' kata Wapres. Sepertinya pencanangan hutan masyarakat (HKm) yang dilakukan Yusuf Kalla yang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar juga menyempatkan diri untuk berkampanye, meski tidak terlalu transparan. Ketika itu Jusuf Kalla menyebut bahwa kawasan Gunungkidul sekarang sudah hijau, tapi kemudian ia mengatakan "kuning" juga baik. ''Kuning juga bagus lhoo...,'' canda politik Jusuf Kalla. ''Tapi hamparan karpet yang dibawah itu, juga merah. Meski diinjak-injak tapi berani, sedang kalau kuning artinya emas. Emas khan mahal,'' kata Kalla sambil bergurau. ''Tapi merah delima juga mahal lho paak.....,'' teriak pengunjung yang langsung disambut tawa Wapres dan tamu undangan lainnya. ''Ya...ya merah delima memang mahal,'' katanya sambil tertawa. Beberapa tahun lalu, kata dia, ketika ia masih menjabat sebagai Menko Kesra bersama Presiden Megawati Soekarnoputri juga pernah meresmikan penanaman sejuta pohon di daerah ini. Mestinya, pohon itu sekarang sudah besar-besar. Bila pohon-pohon yang ditanam itu terus dijaga maka hutan kita kembali menghijau, seperti yang kita lihat sekarang ini. ''Sekarang Gunungkidul tidak tandus lagi,'' katanya. Sementara Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, kerjasama dengan 6 perguruan tinggi di Yogyakarta yang mengelola hutan pemerintah DIY tidak akan minta hasilnya. Hanya gubernur minta ke 6 perguruan tinggi itu, bersedia menerima calon mahasiswa asal Yogyakarta yang kebetulan ingin kuliah tidak mempunyai biaya. Maka 6 perguruan tinggi itu, yakni UGM, UII, UMY, UNY, Universitas Atmajaya dan UPN wajib menerima mereka. Sedangkan Menteri Kehutanan MS Ka'ban mengatakan, target pelaksanaan ini adalah meningkatkan motivasi pelaksana program HKm dengan penetapan target nasional seluas 400.000 haktare pada tahun 2009 dan 21.100.000 hektare pada tahun 2015. Di Provinsi DIY seluas 1.087,45 hektare untuk Kelompok Tani HKm di Kabupaten Gunungkidul, dan 196,8 hektare untuk 7 Kelompok Tani HKm di Kabupaten Kulonprogo. ( sugiarto/cn05 )
|
|||||||||||||
| Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission |