Daerah
Senin, 25 Juni 2007 : 17.38 WIB
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Akibat Abrasi dan Penurunan Tanah
Hampir Separuh Tambak di Semarang Rusak
Semarang, CyberNews. Akibat abrasi, penurunan tanah, dan dampak pemanasan global, sekitar 900 hektare tambak di Semarang rusak atau hilang dalam kurun lima tahun terakhir.

Jika saat ini luas keseluruhan tambak 1.030,21 hektare, areal yang hilang telah mencapai hampir separuhnya.

Kasubdin Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang Cahyo Saparinto memaparkan data tambak di Semarang yang rusak dari tahun 2002-2004 mencapai 731.303 hektare.

Dia memperkirakan dalam kurun 2004-2007 telah bertambah menjadi kurang-lebih 900 hektare. Areal tambak di pesisir Kota Semarang berada di empat wilayah kecamatan, yakni Genuk, Semarang Utara, Semarang Barat, dan Tugu.

Dari empat kecamatan itu, kerusakan tambak yang paling luas terjadi di Kecamatan Tugu. Kendati demikian Cahyo tidak menyebut berapa luasannya. ''Di Tugu banyak tambak masih menjadi milik petani. Sedangkan di kecamatan lain, seperti Genuk dan Semarang Timur sudah banyak yang dikuasai investor,'' kata Cahyo, Senin (25/6).

Dampak Reklamasi

Dampak dari kerusakan itu secara langsung dialami pemilik tambak. Selain kehilangan tanah, mereka juga kehilangan hasil yang bisa diperoleh dari budi daya perikanan di lahan itu. Sulit untuk menghitung rinci besarnya kerugian yang dialami pemilik.

Yang jelas, ujar Cahyo, tiap 1 hektare tambak di kawasan pesisir Semarang rata-rata bisa menghasilkan Rp 25 juta-Rp 40 juta/ tahun. ''Kecenderungan pemilik enggan melaporkan tambaknya yang rusak atau hilang. Mereka khawatir dengan melapor, hak kepemilikan atas tanahnya juga hilang.''

Lebih lanjut Cahyo menjelaskan, abrasi yang merusakkan tambak di Semarang salah satunya dipicu oleh aktivitas reklamasi pantai. Reklamasi berdampak langsung terhadap pola arus gelombang di sekitarnya.

''Selain reklamasi, penurunan tanah dan dampak pemanasan global juga turut memberi saham atas kerusakan tambak. Penurunan tanah bisa akibat eksploitasi air tanah, beban bangunan, serta oleh faktor geologis. Adapun pemanasan global berdampak pada peningkatan tinggi muka air laut.''

Abdul Rofiq (27), petani tambak di Kampung Tapak Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu membenarkan terjadinya abrasi. Dalam pengamatannya, laju abrasi di Tugurejo rata-rata 10 m/ tahun. Jika dihitung keseluruhan tambak yang hilang di wilayah Kecamatan Tugu telah mencapai 150 hektare.

''Di sini sebagian tambak sudah menjadi lautan. Upaya penanaman mangroove tidak banyak membantu,'' ujar Rofiq( rukardi/Cn07 )

Berita Terkini
Senin, 18 Februari 2008 : 19.36 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.25 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.18 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.10 WIB - Daerah Aktual
Diduga Kuota Haji Habis
Warga Luar Jawa Cari KTP Magelang
Senin, 18 Februari 2008 : 18.54 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 18.32 WIB - Ekonomi Aktual

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission