Nasional
Selasa, 05 Desember 2006 : 11.19 WIB
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
McDonald's Tunjuk Vincent dan Desta jadi Duta WCD
Jakarta, CyberNews. Restoran cepat saji McDonald's Indonesia meresmikan Ronald McDonald Reading Corner di beberapa restoran McDonald's. Program ini bisa dimanfaatkan pengunjung untuk berbagai kegiatan dalam membantu pendidikan anak-anak yang kurang beruntung.

Selain itu, McDonald's juga telah menunjuk dua orang "Duta WCD" untuk Indonesia yaitu Vincent dan Desta Club 80's. "Merupakan tradisi tahunan McDonald's Indonesia dalam membantu pendidikan anak-anak kurang beruntung melalui program World Children's Day (WCD) di McDonald's," kata Communications Manager McDonald's Indonesia Rini T. Wardani dalam siaran persnya.

"Pengalaman kami menyelenggarakan kegiatan WCD, dari tahun ke tahun partisipasi yang ditunjukkan pelanggan McDonald's semakin meningkat, baik dari jumlah stiker "Helping Hand" yang terjual maupun sumbangan buku dan uang dari kotak donasi yang disampaikan melalui restoran-restoran McDonald's," katanya.

Melihat hal itu, McDonald's Indonesia tergerak untuk menjadikan WCD sebagai program sosial McDonald's yang sifatnya lebih jangka panjang, bukan lagi hanya sebagai acara penggalangan dana bantuan yang sifatnya sesaat, karena kami sadar bahwa pendidikan merupakan komitmen jangka panjang.

Mengenai penunjukan "Duta WCD", Rini mengatakan, penunjukan dua orang Duta WCD dari kalangan anak muda, selain sebagai motor untuk berbagai kegiatan dalam rangka WCD yang akan dilakukan McDonald's, juga untuk mengajak para pelanggan remaja McDonald's untuk turut berpartisipasi aktif melakukan berbagai kegiatan sosial untuk membantu adik-adik mereka yang kurang beruntung.

Dengan menjadi duta WCD, Vincent dan Desta akan ikut berpartisipasi dan membantu McDonald's dalam menggalang dana bantuan pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Selain itu, mereka juga akan mengadakan kunjungan ke taman bacaan, ikut mengajarkan ketrampilan membaca serta mendongeng bagi anak-anak, dan tentu saja mengadakan kegiatan-kegiatan menarik lainnya guna mendukung kampanye WCD.

Lebih lanjut Rini mengatakan, saat ini biaya pendidikan semakin lama semakin mahal. Banyak anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung terpaksa harus putus sekolah karena mereka tidak mampu membayar uang sekolah dan buku. Namun pendidikan tidak harus berhenti disini, dengan buku setiap anak dapat terus belajar meskipun tidak secara formal duduk di dalam kelas.

Setiap Ronald McDonald Reading Corner yang ada di restoran-restoran McDonald's nantinya dapat dimanfaatkan siapa saja untuk membuat kegiatan yang ada hubungannya dengan membantu pendidikan, misalnya membuat acara mendongeng atau menggambar bersama, bagi pelanggan McDonald's yang ingin menyumbangkan buku-buku juga dapat menyalurkannya melalui Ronald McDonald Reading Corner.

Dengan demikian diharapkan tempat tersebut tidak akan sepi dari berbagai kegiatan. McDonald's akan bekerjasama dengan berbagai pihak seperti penerbit, maupun perusahaan lain yang peduli untuk pembuatan Ronald McDonald Reading Corner.

Dalam pelaksanaan program ini McDonald's bekerjasama dengan Forum Indonesia Membaca (FIM) dalam penyebarluasan buku bacaan ke taman bacaan dan perpustakaan komunitas di Indonesia serta mengadakan berbagai aktifitas literasi di Ronald McDonald Reading Corner.

Salah satu penunjang pendidikan yang utama adalah buku, maka dari itu, melanjutkan apa yang telah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya, dana yang terkumpul dari program WCD tahun ini juga akan disumbangkan dalam bentuk buku dan alat-alat bantu untuk pelatihan keterampilan.

Seperti yang dikatakan orang bijak, "Buku adalah jendela dunia", dengan buku kita semua dapat memperoleh berbagai macam pengetahuan, mengunjungi berbagai tempat di dunia hanya dengan membaca berbagai cerita yang ditulis di dalam buku. Dari buku juga kita bisa mempelajari berbagai pemikiran orang-orang sukses dan terkenal serta mengambil contoh baik yang bisa diterapkan dalam kehidupan kita.

Sayangnya, seperti disebutkan dalam laporan Bank Dunia No. 16369-IND dan Studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) di Asia Timur tahun 2000. Kebiasaan membaca anak-anak Indonesia peringkatnya paling rendah (skor 51,7). Skor ini masih di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Kondisi tersebut disebabkan banyak hal, termasuk mahal dan langkanya buku sehingga masih banyak anak-anak yang tidak mampu membeli buku.( mh habieb shaleh/CN08 )

Berita Terkini
Senin, 18 Februari 2008 : 19.36 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.25 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.18 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.10 WIB - Daerah Aktual
Diduga Kuota Haji Habis
Warga Luar Jawa Cari KTP Magelang
Senin, 18 Februari 2008 : 18.54 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 18.32 WIB - Ekonomi Aktual

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission