Daerah
Kamis, 14 September 2006 : 21.59 WIB
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Luas Hutan Terbakar Lebih 1.572 Ha
Merbabu-Sumbing Dibuka Desember
Personel Perhutani dibantu warga sekitar Merbabu melokalisasi bekas kebakaran yang masih terlihat kepulan asap. Atas kerawanan kebakaran hutan di musim kemarau, pendakian sementara dilarang. (Foto SM CyberNews/Riyono Toepra)
Semarang, CyberNews. Puncak Gunung Merbabu, Sindoro dan Sumbing hingga kini masih dinyatakan rawan kebakaran. Itu setelah terjadi kebakaran puncak gunung tersebut yang merupakan kawasan Taman Nasional pada Minggu 27 Agustus hingga Senin 11 September lalu, yang hingga kini masih meninggalkan kepulan asap cukup tebal.

Atas kondisi tersebut, Perum Perhutani Unit I Jateng mengelola hutan seluas 647.5697 ha, tetap melarang pendakian gunung di tiga puncak gunung itu. Bahkan, puncak gunung lain seperti Gunung Slamet juga tertutup bagi aktivitas pendakian oleh kelompok pencinta alam.

''Kita baru bisa membuka aktivitas pendakian mungkin sekitar pekan pertama Desember mendatang. Ini karena curah hujan pada bulan itu sudah cukup baik,'' tandas Kepala Sub Seksi Hukum Keamanan dan Hubungan Masyarakat (Hukamas) Perum Perhutani Unit I Jateng, Joko Sampurno, Kamis (14/9).

Dia mengungkapkan, kebakaran hutan yang terjadi kawasan TN itu, berdasar pemantauan dan pencatatan di lapangan, baru menimpa savana atau rerumputan dan ilalang yang tumbuh liar dan sebagian besar kering.Pohon besar yang menjadi penyangga agar tidak terjadi longsor, hanya sebagian kecil terbakar.

Kebakaran yang terjadi diduga akibat ulah beberapa orang yang melakukan pendakian gunung, kemudian membuat api unggun. Saat memadamkan api itu, diduga tidak tuntas. Masih ada kepulan asap kecil yang tersisa.

''Saat terjadi angin kencang, timbul percikan api kecil dan terbang terbawa angin. Kemudian menimpa rumput dan ilalang kering yang mudah terbakar. Karena itulah, untuk antisipasi kita melarang pendakian,'' papar dia.

Paling parah

Untuk kawasan hutan yang terbakar paling parah, kata dia, terjadi saat kebakaran pada Senin 28 Agustus lalu, di puncak Merbabu. Saat itu sekitar 469 ha luas lahan yang hangus terbakar. Selain terjadi kobaran si jago merah cukup tinggi, juga menimbulkan kepulan asap cukup tebal.

Kebakaran itu awalnya terlihat di petak 49,14 dan 23 di KPH Surakarta. Dari ketiga petak tersebut seluas 347 ha, yang terbakar 85 ha. Sekitar pukul 17.00 muncul titik api di petak 24 dan menimbulkan kebakaran seluas 11 ha dan petak 34 seluas enam hektare yang masuk wilayah BKPH Ambarawa, KPH Kedu Utara.

Pukul 23.00 juga muncul titik api baru di petak 15 dan 23, kemudian meluas ke petak 12. Kondisi itu langsung dapat ditangani. Di petak 12 dari seluas 56,5 ha, yang terbakar 1,5 ha. Total kebakaran hari itu di Merbabu yang masuk wilayah KPH Surakarta 377 ha dan KPH Kedu Utara 92 ha.

Kendati api dapat dipadamkan personil Perhutani, LMDH, Muspika, BKSDA dan warga sekitar, kepulan asap masih terlihat tebal. Angin kencang yang datang diketahui menimbulkan kebakaran lagi di lahan seluas 104 ha.

Di puncak Gunung Sindoro dan Sumbing wilayah KPH Kedu Utara, kebakaran paling parah terjadi pada Senin lalu (4/9), mencakup 366 ha. Awalnya terjadi di petak 2a seluas 15 ha di Desa Adipuro yang merambat hingga mencakup 65 ha di Desa Mangli. Kebakaran sejak pukul 07.00 baru dapat dipadamkan pukul 16.00.

Sebenarnya saat di hutan Desa Adipuro terbakar, pukul 08.30 di petak 29a juga terjadi kejadian serupa. Dari lahan seluas 20 ha berkembang hingga 24 ha. Kemudian di petak 27a seluas 147 ha. Amukan si jago merah dari tanaman rumput dan ilalang yang kering terus meluas dan menjilat di petak 20a dan b seluas 120 ha. Total kebakaran padan hari itu mencakup wilayah 366 ha.

Kejadian paling akhir, Senin lalu (11/9) yang menjilat hutan seluas 10 ha di petak 34a kawasan TN di Dusun Tekelan, Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang. Pihak Perum Perhutani Unit I Jateng, hingga kini mencatat luas hutan yang terbakar 1.572 ha. Di kawasan hutan itu dan di tempat lain, pihak Perhutani masih memantau kepulan asap tebal yang masih terjadi.

( riyono toepra/cn05 )
  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission