![]() |
|
|
||||||||||||||
|
|
Banyak Kosakata Bahasa Jawa yang Hilang
Semarang, CyberNews. Redaktur pelaksana
majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat Aryo Tumoro meyatakan,
banyaknya ukara (kosakata) bahasa Jawa yang hilang akibat tergantikan
dengan tembung-tembung dari bahasa lain.
''Kalau jumlah penerbitan buku-buku berbahasa Jawa semakin sedikit, dipastikan akan semakin banyak kosakata yang hilang dari perbendaharaan bahasa Jawa,'' kata dia dalam Kongres IV Bahasa Jawa (KBJ) pada sidang komisi Pendidikan Formal di Ruang Poncowati Hotel Patra Jasa, Rabu (13/9). Kenapa kosakasa bahasa Jawa makin banyak yang hilang? Dalam pandangan Aryo, hal itu diakibatkan banyak murid sekolah baik jenjang dasar dan menenga yang tidak menemukan bacaan berbahasa Jawa. Baik dalam bentuk cerkak, cerita anak, dan yang lain. Menurut dia, penerbitan buku berbahasa Jawa akan mengeksiskan kosakata bahasa Jawa. Adanya penerbitan membuat penggunaan kosakata dengan tepat akan lestari dan bisa dinikmati anak-cucu. Bacaan bahasa Jawa merupakan kunci dalam pembelajaran bahasa di sekolah-sekolah. Aryo mengemukakan, guru-guru jenjang SD, SMP, dan SMA yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahasa Jawa bisa berperan aktif dalam upaya penerbitan buku berbahasa Jawa. ''Kalau ada komitmen dari guru, yakni dengan cara setiap daerah membuat buku berbahasa Jawa tentang keunikan daerah masing-masing, misalnya, kabupaten Ponorogo menulis tentang Reog,'' kata dia. Kongres hari ini direncanakan ditutup. Meski demikian, peserta kongres bisa menikmati city tour dengan mengunjungi tempat-tempat wisata di Kota Semarang seperi Masjid Agung Jateng, Kawasan Kota Lama, Klenteng Gedung Batu, dan yang lain. Sementara itu, pemimpin umum Suara Merdeka Ir Budi Santoso yang diwakili asisten direktur Adi Ekopriyono mengemukakan, saat ini kita butuh bahasa dan sastra Jawa yang bisa dibawa ke mal, kafe, atau tempat nongkrong anak muda. Yakni bahasa gaul. ''Bahasa Jawa gaul merupakan pemgembangan bahasa dan sastra Jawa yang sesuai perkembangan teknologi namun tidak mengurangi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,'' ungkap dia yang juga menyampaikan makalah dalam kongres. Pemakalah lain yakni Teguh Budi S mengemukakan, kesulitan siswa belajar
bahasa Jawa pada umumnya pada persoalan tulisan Jawa dan mempelajari
unggah-ungguh atau krama inggil. Terkait persoalan itu, pihaknya telah
membuat program dengan nama ''hanacaraka font''. Program tersebut membuat
siswa bisa menikmati cara menulis aksara Jawa sehingga tidak kesulitan lagi.( widodo prasetyo/cn08 )
|
|||||||||||||
| Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission |