Daerah
Selasa, 20 Juni 2006 : 23.50 WIB
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kenangan ''Indah'' tentang Konversi UAN
Semarang, CyberNews. Sinyalemen adanya pendongkrakan atau konversi nilai Ujian Nasional (UN) yang dilontarkan Sekretaris Komisi E DPRD Jateng Thontowi Jauhari mengingatkan kita pada pelaksaan ujian tahun 2003/2004 yang saat itu bernama Ujian Akhir Nasional (UAN).

Saat itu, para siswa yang mengikuti ujian dikagetkan dengan tabel konversi yang bisa mengubah nilai. Ajaib bukan? ''Kok nilai ku jadi segini?" keluh seorang anak yang bersekolah di Jl Pemuda seusai menerima nilai hasil ujian. Saat ditemui SM CyberNews di sela-sela melihat hasil pengumuman tiga tahun lalu.

Pasalnya, saat Andi--sebut saja begitu--membahas soal-soal ujian bersama temannya di bimbingan belajar, dia seharusnya mendapat nilai sempurna. Kalau pada suatu pengumuman ujian lazimnya muncul pemandangan sedih dan senang, saat itu menjadi bertambah, yakni ada siswa yang bingung. Lho kok bingung?

Yang membuat mereka bingung adalah soal tabel konversi yang juga mengundang kontroversi masyarakat luas. Wajar mereka bingung. Soalnya, mereka yang bisa menjawab lebih dari 50 soal, nilainya malah berkurang dari nilai aslinya. Sementara itu, yang menjawab soal hanya sedikit jadi terkatrol.

"Saya yakin kok di pelajaran bahasa Inggris bisa dapat nilai lebih dari yang saya terima. Kenyataannya yang hasilnya cuma seperti ini ya?" keluh Yuni siswa yang bersekolah di Jl Taman Menteri Supeno, Semarang.

Sementara itu, Joko dari SMA yang berada di Semarang atas justru sedikit bersyukur dengan ada tabel konversi. Soalnya, nilainya jadi naik. Dan sebagai anak IPA, dia sendiri tidak yakin dengan kemampuannya mengerjakan soal Matematika. "Waktu selesai ngerjakan Matematika, aku yakin enggak bakal lulus. Tapi begitu ngeliat nilainya, heran juga kok bisa begitu?" ujarnya lega.

Pada saat itu, dalam tabel konversi, seorang siswa bisa mencapai standar kelulusan 4,01 dengan hanya menjawab 10 soal dengan benar. Sampai jumlah soal yang bisa dijawab ada 19 buah, akan diuntungkan karena nilai bakal naik. Sebaliknya, kalau bisa menjawab 20 sampai 39 buah soal dengan benar, siswa justru dirugikan karena nilainya pasti berkurang.

Dalam UN 2005/2006, sejak awal pemerintah menegaskan tidak ada konversi nilai, bahkan Kepala Bidang Penilaian dan Prestasi Akademik Puspendik Depdiknas Dr Teuku Ramli Zakaria MA dalam diskusi di Suara Merdeka akhir April lalu, menegaskan berkali-kali bahwa tahun ini tak ada konversi, karena soal yang diberikan relatif sama antar daerah.

"Sebenarnya tujuannya adalah membuat skala yang sama untuk membuat perbandingan atau pemetaan kualitas pencapaian (educational attainment) pendidikan antardaerah dalam negara kita. Jadi, bukan untuk menolong siswa yang kurang siap mengikuti ujian," tegas Ramli.

Dia menjelaskan, untuk menimbang 1 kg kentang dan 1 kg emas, akan memakai timbangan yang beda dengan skala yang tetap sama. Artinya, intelektual siswa di kota besar dengan yang di pedalaman jelas berbeda. ''Kalau kita sama ratakan, akan menjadi tidak adil," lanjut Pak Ramli seusai berbicara dalam diskusi itu.

UN tahun ini memakai norma kelulusan 4,26 untuk setiap pelajaran dan nilai rata-rata harus diatas 4,50. Kalau seorang siswa untuk bahasa Inggris dan bahasa Indonesia mendapat nilai 8,9 sementara Matematika 4,01 akan tidak lulus, padahal rata-ratanya sudah melebihi 4,50. Inilah yang dicurigai para wakil rakyat ada indikasi pendongkrakan nilai dalam UN 2005/2006.

Di sisi lain, situasi Indonesia saat ujian berlangsung tidak sama. Sebagian siswa kelas III kita memang bisa mempersiapkan diri lebih baik, sementara sebagian siswa lain di daerah Merapi mengerjakan soal ditengah ancaman bahaya wedus gembel.

Kiranya, pemerintah perlu membeberkan proses penilaian UN agar tak menjadi kontroversi di masyarakat. Memang butuh kejujuran untuk mengungkap itu semua. Bukankah para petinggi pendidikan selalu mendengungkan kejujuran di bangku sekolah.( Widodo Prasetyo, Jamal Al Ashari/Cn08 )

Berita Terkini
Senin, 18 Februari 2008 : 19.36 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.25 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.18 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.10 WIB - Daerah Aktual
Diduga Kuota Haji Habis
Warga Luar Jawa Cari KTP Magelang
Senin, 18 Februari 2008 : 18.54 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 18.32 WIB - Ekonomi Aktual

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission