Nasional
Selasa, 23 Mei 2006 : 19.01 WIB
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gus Dur Diteror Massa FPI dan MMI
Purwakarta, CyberNews. Sejumlah massa yang mengatasnamakan gabungan kelompok Islam memprotes acara Dialog Lintas Etnis dan Agama di Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (23/5) yang dihadiri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mereka meminta acara dibubarkan.

"Ketika baru beberapa menit Gus Dur menyampaikan pandangannya sebagai keynote speaker, di luar forum mereka membuat kegaduhan," jelas ketua steering committee acara tersebut, Sona Maulida Roemardhie.

Kegaduhan itu, lanjutnya, terjadi lantaran sekitar 50 massa gabungan dari Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Forum Umat Islam (FUI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memaksa masuk Gedung PKK Kabupaten Purwakarta, tempat acara digelar.

"Mereka dikomandoi Ketua FPI Cabang Purwakarta Asep Hamdani. Sekitar 15 orang masuk dalam ruangan diskusi untuk membubarkan forum," tuturnya dalam siaran pers, Selasa sore.

Agar mereka tidak merusak, forum memberi kesempatan perwakilan massa untuk berbicara. "Sebagian mengeluarkan kata-kata kotor yang tak pantas diucapkan oleh orang yang mengaku beriman," jelas Sona.

Gus Dur menanggapi hal itu dengan tenang. Dia menjawab panitialah yang berhak meminta dirinya meninggalkan forum. "Saya diundang panitia. Anda hanya diberi kesempatan bicara oleh panitia. Karena itu, Andalah yang harusnya keluar dari sini," kata Sona menirukan Gus Dur.

Melihat gelagat itu, massa Barisan Anshor Serbaguna dan Garda Bangsa yang berada di lokasi bangkit emosinya. Untungnya bentrokan tidak sampai terjadi. "Para perusuh itu keburu diusir pihak kepolisian," imbuh Sona.

Selain itu, Sona mengungkapkan tanda-tanda mereka ingin membubarkan forum itu telah tercium beberapa hari sebelumnya. "Sehari sebelumnya saya diundang MUI Purwakarta terkait forum ini. Di sana, saya divonis sekuler yang telah diharamkan MUI. Untuk itu, mereka meminta forum tidak jadi dilaksanakan," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut dari peristiwa ini, kata Sona, pihaknya akan mengambil langkah tegas. Pertama, membuat pers rilis bahwa NU Purwakarta menuntut mereka untuk meminta maaf kepada Gus Dur melalui media massa. Kedua, mendesak polisi untuk memeriksa mereka karena telah mengganggu ketertiban acara.

Sona juga mengimbau supaya mereka meminta maaf kepada kaum Nahdliyyin. "Karena perbuatan mereka telah menyakiti kaum Nahdliyyin," imbaunya.

"Banyak ulama menelepon saya, karena mereka mendengar berita Gus Dur disakiti. Kata mereka, kok ternyata ada warga Purwakarta yang berani menyakiti tokoh besar NU itu. Sekarang ini saya dan kawan-kawan di Purwakarta akan berkonsentrasi mencari bukti-bukti untuk menuntut mereka," tegas Sona.

Pada acara bertema "Merajut Cinta yang Terserak, Merangkai Silaturahim, Menuju Purwakarta Wibawa Karta Raharja" itu, Gus Dur diminta untuk memaparkan pandangannya tentang pluralisme dalam bingkai masyarakat mandiri. Selain Gus Dur, acara ini dihadiri oleh sesepuh Purwakarta KH Habib Hasan Syueb, rohaniawan Benny Susetyo, perwakilan agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Konghucu. Bupati Purwakarta urung hadir karena faktor kesehatan.

( imam m djuki/cn05 )

Berita Terkini
Senin, 18 Februari 2008 : 19.36 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.25 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.18 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.10 WIB - Daerah Aktual
Diduga Kuota Haji Habis
Warga Luar Jawa Cari KTP Magelang
Senin, 18 Februari 2008 : 18.54 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 18.32 WIB - Ekonomi Aktual

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission