Daerah
Rabu, 19 April 2006 : 23.00 WIB
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Mbah Maridjan, Sang Juri Kunci Merapi
Yogyakarta, CyberNews. Sosok renta penjaga Gunung Merapi, Mbah Maridjan tak asing lagi bagi masyarakat Yogyakarta. Dialah yang selama ini menjadi acuan dari sisi mistis dan empiris tentang gunung tersebut. Apalagi pada masa-masa kritis seperti sekarang, dia menjadi jujugan warga sekitar maupun orang luar yang ingin mengetahui Merapi dari sisi lain.

Namun, sampai Rabu (18/4) dia belum mengatakan apakah getaran yang mengusik perasaannya berkaitan dengan Merapi. Berkali-kali dia hanya mengungkap belum mendapatkan tanda-tanda bakal ada letusan. Bahkan dia mengaku mempercayai teknologi canggih yang dimiliki vulkanologi (maksudnya Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian, BPPTK).

''Saya percaya kok dengan alat-alat yang dimiliki pemerintah untuk melihat Merapi dari jarak jauh. Kalau saya kan ada di sini jadi tidak bisa melihat dari dekat,'' tutur laki-laki yang sudah 23 tahun menjadi juru kunci gunung teraktif di dunia itu.

Pernyataan penduduk Kinahrejo itu tentang Merapi menjadi dasar bagi masyarakat sekitar bukan tanpa sebab. Pasalnya, dia menjadi juru kunci setelah ditunjuk oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan diberi nama baru, Mas Ngabehi Suraksohargo. Keraton bagi masyarakat Yogyakarta merupakan penunjuk arah sehingga apa yang dikatakan Mbah Maridjan tentunya juga dianggap sebagai petunjuk karena dialah orang kepercayaan keraton.

Tanda-tanda apakah yang sudah dilihatnya akhir-akhir ini? Laki-laki berusia 79 tahun itu tak juga mau membeberkannya. Berkali-kali dimintanya masyarakat berdoa memohon Yang Maha Kuasa agar terhindar dari bencana ketika Merapi meletus. Imbauannya ini tentu saja menjadi panutan sehingga setiap malam warga sekitar lereng melakukan doa bersama, di masjid, musola dan rumah-rumah.

''Nanti kalau pas akan meletus pasti ada tanda-tandanya. Kalau sekarang kok belum ada ya, seperti hewan turun juga belum, mungkin karena hewannya sudah habis diburu hehehe...,'' ujarnya terkekeh.

Soal pertanda hewan turun ketika hawa di atas mulai panas, Mbah Maridjan tak lagi menganggap itu sebagai perlambang Merapi akan memuntahkan lahar. Ya, kalau dulu, beberapa dekake lalu mungkin masih bisa dijadikan patokan tapi sekarang sudah lain. Pemburu-pemburu yang tak bisa menjaga alam sudah menghabiskan mahluk ciptaanNya.

Mangsa ke-12

Menjelang hari-hari yang semakin kritis sekarang ini, dia masih terlihat tenang. Tidak tampak kesan tegang dari wajahnya yang sudah terlihat garis-garis ketuaan. Sebaliknya dia selalu berbicara dengan nada guyon. Inilah juga menjadi ''penenang'' bagi warga sekitar dengan ungkapan,''Mbah Maridjan saja masih tenang-tenang kok kenapa yang lain ribut?''

Kendati selalu mengelak ketika ditanya kapan kira-kira Merapi meletus menurut perhitungannya, sempat terungkap bahwa menurut dia gunung tersebut akan mengeluarkan isi bumi pada mangsa ke-12. Nah, padahal sekarang baru menginjak mangsa ke-10. Masih ada waktu, tapi kapan? Lagi-lagi dia tidak bersedia mengungkap.

Memahami Merapi bagi dia bukan sekadar melihat sisi negatif seperti ketika akan meletus. Ada sisi positif yang menurutnya sudah dilupakan orang. Mereka merusak lingkungan sehingga membuat ''yang mbahureksa'' Merapi marah. Perburuan hewan dan perusakan lingkungan menjadikan gunung tak lagi bersahabat buat manusia.

''Istilah-istilah ciptaan manusia juga cenderung menyepelekan Merapi. Saya tidak rela kalau awan panas itu disebut wedhus gembel, istilah ini sangat merendahkan alam. Awan panas ya awan panas, jangan disebut yang lain,'' katanya dengan nada ketus.

Kedekatan dan kecintaannya terhadap Merapi membuat dia tak tega alam sekitarnya disebut dengan istilah yang merendahkan. Wedhus gembel menurutnya tidak pantas untuk menyebut salah satu gejala alam di sana. Dia menganggap itu meremehkan ''Merapi''. Peremehan akan mengundang kemarahan.

Mbah Maridjan sampai hari ini, Rabu (19/4) masih bertahan di Kinahrejo, desa terakhir di puncak Merapi. Namun ketika mendengar kabar bahwa Sultan Hamengku Buwono X meminta masyarakat terdekat puncak harus segera mengungsi diapun tidak akan membantah. Padahal sebelumnya dia bersikukuh akan tetap berada di sana sampai benar-benar ada ''pertanda''.

''Saya ini hanya kesed (pembersih kaki, atau bawahan-Red), kalau Ngarsa Dalem sudah berkata begitu ya saya manut, kalau tidak nanti warga tidak mau mengungsi,'' tegasnya.

( agung pw/cn09 )

Berita Terkini
Senin, 18 Februari 2008 : 19.36 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.25 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.18 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.10 WIB - Daerah Aktual
Diduga Kuota Haji Habis
Warga Luar Jawa Cari KTP Magelang
Senin, 18 Februari 2008 : 18.54 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 18.32 WIB - Ekonomi Aktual

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission