![]() |
|
|
||||||||||||||||
|
|
Menwa ''Sweeping'' Warga Australia
Sebelum melakukan ''sweeping'', mereka sebenarnya ingin berdialog dengan pimpinan Dewan. Namun karena tidak ada yang mau menemui, mereka akhirnya berkumpul dan berorasi di depan ruang lobi. Dalam orasinya, menwa meminta pemerintah memutuskan hubungan diplomatik dengan Australia karena negara tersebut dianggap telah menginjak-injak martabat rakyat Indonesia. ''Bangsa Indonesia cinta damai namun tentu saja lebih mencintai kemerdekaan dan kedaulatan. Saat kedaulatan dan harga diri bangsa telah diinjak-injak, tak ada pilihan lain kecuali bangkit melawan,'' tandas salah seorang menwa, Pongki Iswondo ketika berorasi di DPRD. Perlawanan harus dilakukan karena Australia ternyata tidak mengindahkan protes Indonesia dalam berbagai persoalan. Misalnya, pemanggilan pulang Dubes RI untuk Australia dalam kasus pemberian visa terhadap warga Papua yang meminta suaka. Begitu pula pada kasus karikatur Presiden SBY. Hal itu menunjukkan sikap Indonesia ternyata dianggap angin lalu. ''Penampilan karikatur Presiden Indonesia jelas-jelas telah menghina pemerintah dan bangsa ini. Kita tidak bisa tinggal diam mnelihat situasi tersebut,'' tegas Pongki. Dia menilai Australia melalui PM John Howard ternyata berstandar ganda. Di satu sisi mendukung keutuhan NKRI namun di pihak lain memberikan suaka kepada warga negara Indonesia yang meminta perlindungan. Pemerintah perlu mewaspadai sikap pihak asing yang kemungkinan menginginkan lepasnya Papua dari RI. Komandan Satuan Menwa UII, Firman W Kartiko menambahkan meskipun harga diri bangsa sudah diinjak-injak namun masih ada saja kelompok dan golongan yang berkutat pada kepentingannya sendiri. Mereka tidak menunjukkan kepedulian atas persoalan bangsa. Melihat kenyataan memprihatinkan tersebut dia meminta seluruh elemen bangsa bersatu merapatkan barisan menjadi pengawal tegaknya NKR serta menolak segala bentuk campur tangan asingI. Tanpa solidaritas dan persatuan, niscaya bangsa ini akan terus menjadi bulan-bulanan pihak asing. ''Kami juga mendesak pemerintah segera memutuskan hubungan diplomatik dengan Australia apabila mereka masih terus mencampuri urusan negeri ini, terutama pada kasus pemberian visa terhadap warga Papua,'' papar Firman. Selain itu, menwa menuntut permintaan maaf harian The Weekend Australia dan pemerintahan John Howard atas pemuatan karikatur Presiden RI. Setelah berorasi di halaman DPRD DIY, menwa yang mengenakan seragam hijau-hijau tersebut menuju Hotel Ibis untuk men''sweeping'' warga Australia yang berada di sana. Manajemen hotel diwakili S Widi menemui mereka di depan pintu masuk dan mengatakan menerima pernyataan para menwa dan merasa prihatin atas kasus yang akhir-akhir ini menimpa Indonesia. Aksi menwa tak hanya di Ibis, mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju Hotel Garuda yang terletak di pojok utara Jalan Malioboro. Lagi-lagi mereka meminta pihak manajemen memperlihatkan daftar tamu orang asing. Setelah diperlihatkan ternyata tidak ada warga Australia. Mereka keluar
dan meneruskan perjalana menuju Hotel Mutiara. Di sana mereka juga tidak
menemui orang Australia. Rencananya, aksi dan ''sweeping'' masih akan
berlanjut dengan jumlah massa lebih besar pekan depan.( agung pw/Cn08 )
|
|||||||||||||||
| Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission |