SUARA MERDEKA CYBERNEWS

print print

10/03/2009 22:30 wib - Nasional Aktual
Syuting Film Merah Putih
Lawangsewu Diledakkan

Semarang, CyberNews. Adam Howarth terlihat sibuk. Ahli efek khusus asal Inggris itu mondar-mandir di dalam Gedung Lawangsewu, kawasan Tugumuda, Semarang, Selasa (10/3) siang. Sesekali ia memeriksa bahan peledak yang telah tertata di lantai II. Lain waktu memberi instruksi para pekerja membuat material tiruan di salah satu ruangan. Howarth tengah mempersiapkan peledakan Lawangsewu. Ledakan itu dibuat untuk kepentingan syuting film Merah Putih besutan sutradara Yadi Sugandi.

Mengingat Lawangsewu bangunan bersejarah, Howarth harus bekerja ekstra-hati-hati. Bagaimana efek ledakan yang dahsyat itu tidak merusak secuil pun bagian bangunan itu. "Semuanya sudah dirancang sedemikian rupa sehingga aman terhadap bangunan. Material tiruan yang digunakan juga bersifat ringan," ujar Howarth.

Jaminan Howarth tak perlu diragukan, sebab sebagai ahli efek khusus, ia punya banyak jam terbang. Lelaki bertampang serius itu pernah terlibat dalam produksi film-film berkelas Hollywood, seperti Saving Private Ryan, dan Blackhawk Down. Selain Adam Howarth, Merah Putih melibatkan tenaga-tenaga profesional dari luar, seperti Rocky McDonald (koordinator stunt man), Rob Trenton (tata rias dan efek visual), John Bowring (konsultan ahli persenjatan), serta Mark Knight (asisten sutradara). Dari sini terlihat betapa film produksi PT Media Desa Indonesia itu dibikin secara serius.

Merah Putih adalah film bergenre fiksi sejarah yang mengambil seting temporal masa revolusi fisik pasca-1945. Ia berkisah tentang perjuangan lima kadet yang mengikuti latihan militer di sebuah kota di Jawa Tengah. Mereka, Amir (diperankan Lukman Sardi), Tomas (Dodi Alamsyah), Dayan (Teuku Rifnu), Senja (Rahayu Saraswati), dan Marius (Darius Sinathrya), masing-masing punya latar belakang, suku, dan agama yang berbeda.

Suatu ketika, kamp tempat mereka berlatih diserang tentara Belanda. Seluruh kadet kecuali lima sekawan itu dibunuh. Mereka yang berhasil lolos, bergabung dalam pasukan gerilya Soedirman di pedalaman Jawa.
 
Murni Fiksi
Yadi Sugandi mengungkapkan, meski bersetting masa revolusi fisik, film garapannya itu murni fiksi. Kehadiran tokoh-tokoh historis seperti Soedirman dan van Mook sekadar perangkai cerita. Dengan klaim murni fiksi, Yadi bebas berekspresi.

Lelaki yang pernah terlibat dalam produksi film Laskar Pelangi, Under The Tree, Tiga Hari untuk Selamanya, dan The Photograph, akan lepas dari tuduhan melakukan penyelewengan sejarah dengan klaim itu.

"Film ini lebih menonjolkan spirit perjuangan anak bangsa dalam meraih kemerdekaan. Namun di dalamnya tak melulu berisi doktrin kepahlawanan. Ada unsur komedi dan roman percintaan," kata Yadi.

Merah Putih merupakan film pertama dari "Trilogi Kemerdekaan" yang rencananya bakal diwujudkan. Syuting dilakukan di beberapa daerah, antara lain Semarang, Sumowono, Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. Proses pengambilan gambar dimulai sejak Januari lalu dan diperkirakan rampung akhir April mendatang.

Asisten Sutradara Dewi Beck menambahkan, film ini melibatkan 200 kru, dan ratusan aktor, baik utama, maupun figuran. Selain bintang-bintang dari Jakarta dan mancanegara, Merah Putih juga didukung aktor-aktor lokal. Dari Semarang ada Suharto (Kapten Taufik) dan Anto Galon (Topan).

(Rukardi /CN13)

Close